Meskipun seharusnya dipisahkan, olahraga terbukti telah sering dikaitkan dengan politik. Salah satu contoh fenomenal terjadi ketika Jerman di bawah Hitler menjadi tuan rumah Olimpiade pada 1936. Hitler ingin menggunakan kesempatan tersebut sebagai bukti keunggulan ras Arya. Namun, bintang saat itu adalah wakil Amerika Serikat Jesse Owens yang berkulit hitam. Hitler kecewa dan meninggalkan stadion di Berlin tanpa memberikan ucapan selamat kepada Owens.
Olahraga sebagai upaya untuk menunjukkan kebesaran atas suatu pandangan, masih sering dilakukan sampai saat ini. Beberapa tim sepak bola profesional, secara eksplisit maupun implisit, berkembang dengan dilandasi oleh semangat tersebut. Kondisi demikian mengakibatkan suatu klub harus menerima stigma tertentu. Mungkin saja stigma itu tidak dikehendaki oleh pengurus klub. Tetapi, klub memang tak bisa dipisahkan dari suporternya.
Suporter memberi aksentuasi dalam pengembangan ekonomi klub. Kesetiaan mereka juga merupakan faktor nonteknis dalam pencapaian prestasi. Tetapi, hal-hal nonteknis itu sering juga ditunjukkan di luar lapangan. Tak heran bila mereka lalu diasosiasikan dengan kekuatan tertentu, seperti yang terjadi di Mesir. Para pendukung klub populer di Kairo, Al-Ahly, dianggap sebagai salah satu kelompok massa yang berperan sentral menggulingkan Hosni Mubarak.
Stigma itu dikabarkan menjadi salah satu penyebab kerusuhan suporter yang diduga merupakan skenario militer Mesir. Kerusuhan yang menewaskan 74 orang tersebut dianalisis sebagai upaya balas dendam terhadap kelompok proreformasi, dan juga sebagai pintu masuk untuk menerapkan undang-undang darurat. Terlepas dari latar belakang sesungguhnya peristiwa di Port Said, kita diingatkan bahwa olahraga berpotensi dijadikan alat untuk kepentingan nonolahraga.
Di Indonesia, kita sering mendengar jabatan ketua organisasi persepakbolaan, baik itu di level klub maupun asosiasi, ramai diperebutkan. Selain karena kecintaan terhadap sepak bola, muncul kecurigaan ambisi itu juga didasari oleh keinginan untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial, bahkan politik. Semuanya dimungkinkan karena sepak bola telah berkembang menjadi wahana strategis dalam berinteraksi dengan massa. Salah satu pemicunya adalah kekuatan suporter.
Mereka bisa menjadi pressure group saat jendela transfer pemain dibuka, tetapi juga mitra dalam penggalangan dana. Masih banyak peran lain suporter yang mungkin saja terkendali, mungkin juga tidak. Komunikasi intensif dengan suporter sangat diperlukan, melihat berbagai peran yang bisa mereka mainkan. Kerusuhan di Mesir, dan masih seringnya keributan suporter di Indonesia, menyadarkan betapa upaya komunikasi tak boleh berkurang intensitasnya. (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad