panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
04 Februari 2012
SURAT PEMBACA
Penipuan Berkedok Indosat
Saya mendapat SMS dengan pengirim Indosat. Isinya saya mendapat hadiah undian dari ’’Poin Plus Plus Indosat’’ uang tunai 15 juta rupiah, dan untuk info selanjutnya saya diminta untuk menghubungi nomor (021) 32764022. Di inbox saya tertulis pengirim Indosat.

Saya penasaran tentang kebenaran SMS dan menghubungi nomor tersebut. Ketika saya menelepon, jawabannya ’’Indosat Jakarta selamat siang’’.
Kemudian saya menanyakan kebenaran info di SMS, dan orang yang berbicara di telepon yang mengaku bernama Bp Iswandi menjelaskan bahwa saya adalah salah satu dari 15 pemenang undian.

Orang tersebut meminta nomor rekening, namun saya sudah mulai curiga, tetapi karena penasaran saya memberitahu orang tersebut nomor rekening saya yang saldonya tinggal Rp 50 ribu. Kemudian orang tersebut mengatakan akan mengirimkan uangnya dalam 10 menit dan saya diminta mengecek. Saya mengatakan  akan mengecek lewat SMS banking, tetapi orang tersebut menolak dan meminta saya untuk ke ATM sewaktu mengecek. Saya juga diminta menghubungi bagian keuangan yaitu Ibu Milasari/Bp Gunawan dengan nomor (021) 44529789.

Kecurigaan saya semakin bertambah, tetapi justru semakin penasaran dan ingin tahu lebih lanjut bagaimana mereka menjalankan penipuan. Orang yang mengaku bernama Bp Gunawan memandu saya untuk mentransfer sejumlah uang. Karena rekening saya tidak ada isinya tentu saja tidak berhasil. Kemudian mereka mengatakan bahwa uang Rp 15 juta tidak bisa masuk rekening, dan meminta nomor rekening di bank lain.

Mereka gigih juga dalam usaha penipuan ini. Saya mengatakan tidak punya rekening lain, kemudian saya tutup teleponnya. Bp Iswandi menelepon kembali dan mengatakan uang belum bisa muncul di rekening karena saya belum tanda tangan di atas materai. Dalam hati saya tertawa, gagal mengambil uang dari rekening saya mereka meminta hal yang lain.

Bp Iswandi menjelaskan bahwa saya tidak perlu ke Jakarta untuk tanda tangan di atas materai di Kantor Indosat Jakarta, sebagai gantinya mereka meminta saya membelikan voucher pulsa Simpati senilai Rp 100 ribu tiga lembar, dan mengirim nomor serinya ke mereka, dengan dalih sebagai pengganti tanda tangan, dan voucher akan diuangkan dan dikirim kembali ke rekening saya bersamaan dengan uang 15 juta hak saya.

Hal yang mereka minta sangat tidak masuk akal. Mengaku bekerja di Indosat, tapi minta pulsa Simpati, sungguh aneh. Akhirnya saya jawab ’’sudahlah tidak perlu panjang lebar, kalian sudah gagal menipu, dan saya berhak lapor polisi’’. Kemudian orang itu langsung menutup telepon. Saya berharap pembaca waspada, karena kedok penipuan semakin variatif, dan pelakunya juga makin pandai.

Dwi Nugraheni
Delik RT 01/05 Tuntang
Kabupaten Semarang


Bagian Kartu Kredit Bank BNI Semarang Perlu Mawas Diri

Rabu (18/1), jam 11.00, saat berada di Krematorium Cirebon, saya ditelepon oleh seorang wanita bernama Irma yang mengaku dari bagian survei kartu kredit Bank BNI Semarang. Sejak awal saya sudah menyampaikan kalau saya sedang melayat dan menunggu prosesi kremasi almarhumah tante saya. Petugas yang menelepon dari nomor 024 3522041 itu menanyakan apakah proses checking data bisa diteruskan. Saya jawab selama perlahan-lahan, tidak masalah.

Beberapa pertanyaan saya jawab dengan setengah berbisik, karena suasana kurang mendukung dan ramai. Di tengah banyak saudara dan tamu yang melayat saya kembali mengingatkan kepada petugas tersebut, bagaimana kalau pertanyaannya dilakukan dengan perlahan-lahan. Karena merasa terintimidasi, saya kemukakan kalau sepertinya sedang diinterogasi oleh penyidik.

Kalimat tersebut saya sampaikan dengan harapan si Mbak mau mengerti situasi dan kondisi yang saya alami waktu itu, namun jawabannya membuat saya kaget. Dengan jumawa dia mengatakan prosedurnya memang demikian dan dia mengatakan tidak punya banyak waktu.

Saya heran, sebagai calon konsumen seharusnya saya ini dibujuk, minimal diperlakukan dengan santun, karena saya mengajukan kartu kredit tersebut itu bukan inisiatif saya, namun karena ada tawaran dari sales Bank BNI yang entah dapat nomor HP saya dari siapa. Sales ini berkali-kali menghubungi dan mendatangi kantor saya. Dan kalau dia memang tidak punya banyak waktu kenapa menghubungi saya?

Saya tidak tahu apakah SOP di Bank BNI seperti itu, atau memang petugas survei tersebut yang arogan, akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada si Mbak tersebut bahwa proses pengajuan  tersebut saya pending. Semoga pengalaman yang kurang mengenakkan ini hanya menimpa saya. Kepada pimpinan Bank BNI, saya berharap agar bisa mengarahkan anak buahnya untuk lebih bisa menghargai calon konsumen, sehingga tidak mencoreng citranya yang sudah bagus. Mohon maaf bila ada kalimat yang kurang berkenan, semoga Bank BNI terus berkembang dan mendapat kepercayaan masyarakat.

Ali Subeno
Jl Galungan VI/140
Perumnas Krapyak, Semarang/
Pro TV, Jl Setiabudi, Srondol
081 2290 8639

*   *   *

Proyek Jalan Kali Kondang-Tlogoboyo Tak Kunjung Selesai

’’Kalau bisa diperlama, mengapa dipercat’’. Kalimat ini mungkin tepat untuk menggambarkan penyelesaian proyek pembangunan jalan Kali Kondang-Tlogoboyo, Kabupaten Demak. Proyek yang dianggarkan kurang lebih satu miliar rupiah dengan panjang sekitar 8 kilometer dan melewati 5 desa itu meliputi Desa Kali Kondang, Sumberjo, Kembangan, Karangrejo dan Desa Tlogoboyo. Desa itu masuk kawasan Demak pedalaman, dan hingga kini tak kunjung rampung.

Ketika pulang kampung halaman, apalagi musim hujan seperti sekarang, saya sangat prihatin melihat kondisi jalan, mirip tegalan, padahal merupakan jalan utama bagi warga masyarakat untuk menjalankan roda perekonomian dan dilewati pelajar SD/SMP ketika berangkat atau pulang sekolah.

Saya memahami kalau untuk penyelesaian proyek tersebut dibagi dalam beberapa tahap pembangunan, dan terakhir saya melihat baru rampung sekitar 50 persen dalam jangka waktu kurang lebih dua tahun. Kepada Bapak Bupati Demak, H Tafta Zani, kami minta tolong untuk segera dilanjutkan dan diselesaikan. Kami warga masyarakat menunggu realisasinya.

Abdur Rahman, SE
Ds Sumberjo RT 01 RW 06
Kec Bonang, Kab Demak

*   *   *

Menebus Ijazah Rp 14 Juta

Saya adalah mantan frontliner  BRI Unit di Pekalongan. Sebelumnya saya mohon maaf kepada seluruh jajaran pimpinan BRI Cabang Pekalongan  serta PT PKSS sebagai  vendor, karena  saya telah mengundurkan diri tanpa pamit. Dalam surat pengunduran diri, saya tulis bahwa alasan pengunduran diri adalah ingin bekerja di tempat  lain, tetapi sebenarnya  bukan  itu.

Saya hanya mencoba mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sehingga akhirnya  saya putuskan mengundurkan diri dari BRI. Saya  tanda tangan kontrak dengan PT PKSS, 25 Juni 2011 dan mengundurkan diri 21 November  2011, sehingga saya pun harus terkena penalti sebesar 14  juta rupiah, karena langkah saya itu sebelum waktu minimal kerja yang harus dijalani, yaitu 6 bulan.

Kenapa saya nekat, padahal penalti yang harus saya tanggung sangat besar. Semua itu tidak terlepas dari perlakuan pimpinan unit kerja yang menurut saya sudah sewenang-wenang. Hampir setiap hari saya dihujani dengan omongan-omongan yang tidak pantas. Saya  terima semua itu kalau memang saya berbuat salah dalam pekerjaan yang dibebankan. Tetapi kadang tanpa alasan yang jelas masih saja perlakuan yang  tidak menyenangkan itu saya terima. Menurut  saya, kalaupun sekali waktu salah, sebagai  orang baru, nampaknya wajar.

Awalnya saya pikir hal semacam itu cuma salah satu bentuk perpeloncoan terhadap karyawan  baru, dan tidak berlangsung  lama. Namun setelah tiga bulan berlalu, masalah tetap saja selalu muncul. Tiap masuk kantor  pasti dapat “sarapan” omongan  kasar, sehingga sewaktu pulang kantor selalu ada masalah. Secara tidak  langsung, perlakuan itu membuat saya terpaksa mengambil keputusan mengundurkan diri, meskipun harus mengeluarkan uang yang sangat besar untuk menebus ijazah yang sampai sekarang  belum terbayar.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa semua itu adalah konsekuensi dari kontrak yang  telah saya tanda tangani, tetapi  apakah perjanjian itu adil untuk kasus-kasus seperti  yang saya alami? Saya keluar  juga bukan karena kecurangan atau ketidakbecusan dalam bekerja. Saya bangga pernah menjadi bagian dari keluarga besar BRI. Sebagai  bank besar, BRI seharusnya memperhatikan nasib karyawan, walaupun  hanya karyawan outsourcing.

Reza Susatyo
RT 03/01 Bukur
Bojong, Pekalongan (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER