panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
04 Februari 2012
PAR dan Metode Penelitian Konvensional

PENELITIAN merupakan keniscayaan sebagai tanggung jawab intelektual perguruan tinggi (PT). Penelitian menjadi salah satu asas Tri Darma Perguruan Tinggi, di samping pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Dewasa ini, tanggung jawab itu semakin diragukan, terutama oleh masyarakat. PT masih diasumsikan bak menara gading, menjulang tinggi namun tak membumi, atau dirasakan masyarakat. Karya penelitian yang dihasilkan belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Terlebih, menjadi alat perubahan sosial.

Produk penelitian biasanya hanya menghasilkan teori baru, dan pengetahuan empiris analitis, tapi cenderung tidak mendatangkan manfaat bagi objek penelitian (masyarakat lokal). Tak jarang, ada muatan kepentingan teknis di dalamnya untuk melakukan rekayasa sosial (social engineering) yang berujung pada eksploitasi terhadap objek atau masyarakat lokal.

Lantas, penelitian itu diciptakan untuk apa dan kepentingan siapa?

Sejatinya penelitian itu diciptakan dalam rangka perbaikan sosial. Keberhasilan sebuah penelitian ditentukan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat terhadap hasil penelitian tersebut.

Oleh karena itu, butuh pendekatan baru agar tujuan penelitian itu tercapai. Istilah Participatory Action Research (PAR) kemudian muncul sebagai kritik terhadap metode-metode penelitian konvensional yang terlalu banyak menggunakan logika sains.

PAR diilhami oleh karya Paulo Freire (Pedagogy of the Oppressed :1968) serta gerakannya dalam upaya penyadaran masyarakat di Amerika latin. Freire menilai, orang miskin dan tertindas harus diberi hak untuk melakukan analisis terhadap kondisinya sendiri. Penelitian menurut Freire, bukan sekadar untuk membuktikan atau menguji hipotesa tertentu. Lebih dari itu, sebagai upaya penyadaran pada masyarakat agar mau bertindak.

Penelitian Humanis

Penelitian konvensional selama ini lebih cenderung otoritatif. Dominansi peneliti terhadap objek penelitian (masyarakat lokal) begitu kentara. Peneliti cenderung memosisikan diri sebagai subjek dan menganggap masyarakat sebagai objek. Sikap itu tak lepas dari perspektif yang menempatkan masyarakat sebagai kelompok yang bodoh dan tak memiliki kemampuan dalam menganalisis kondisi lingkungannya serta merumuskan persoalan dan kebutuhannya.

Dalam PAR, asumsi seperti itu dihapus. PAR menganut prinsip emansipasi. Pola hubungan subjek-objek dihilangkan, sehingga relasi antara peneliti dan masyarakat seimbang. Semua memiliki hak sama untuk menjadi subjek penelitian. Sebab pada prinsipnya, sebodoh-bodohnya seseorang, ia paling tahu kondisi dan kesulitan pada dirinya sendiri.

Peneliti hanya bertindak sebagai fasilitator. Ia merangsang masyarakat untuk merumuskan sendiri masalah mereka, mencari pemecahan secara bersama, lantas melakukan tindakan. PAR merupakan proses pembebasan yang dimulai dengan kepercayaan kepada kemampuan masyarakat untuk mengambil keputusan sendiri.

Bagi Mahasiswa

Orientasi PAR adalah perubahan sosial. Koheren dengan misi mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Proyek perubahan itu tak akan tercapai jika mahasiswa tak paham bagaimana dan dengan apa mengubah masyarakat. Di sinilah letak urgensi PAR. Wawasan PAR menjadi alat yang akan membantu mahasiswa dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya. Sayang, tema PAR belum banyak dikenal oleh civitas academica, terutama mahasiswa.

Implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi selama ini hanya terfokus pada pendidikan. Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tersubordinasi. Kebijakan perguruan tinggi yang terpusat pada pendidikan membuat mahasiswa berjarak dengan masyarakat.

Satu-satunya praktik pengabdian masyarakat mahasiswa yang paling tampak hanyalah Kuliah Kerja Nyata.

 Itu pun tak berjalan efektif, karena kebanyakan mahasiswa masih berpikir formalistik. Mahasiswa gagap ketika berhadapkan dengan persoalan sosial di masyarakat karena minim pembekalan.

PAR dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sebagai salah satu rangkaian kegiatan akademik. Atau dikolaborasikan dengan program yang sudah ada, misalnya KKN. Program KKN cukup efektif sebagai uji praktik mahasiswa dalam menerapkan metode PAR.

IAIN Walisongo Semarang pernah mengujicobakan PAR ke dalam program KKN IAIN ke-57 (2011), dan terbukti efektif. Mahasiswa melebur bersama masyarakat untuk mendiskusikan masalah mereka, mencari alternatif pemecahan bersama, lantas melakukan tindakan.

 Di situ, mahasiswa dan masyarakat secara bersama-sama melaksanakan pembangunan, serta perubahan sosial.

PAR merupakan kolaborasi dari unsur penelitian dan pengabdian masyarakat.

 Penelitian PAR tak hanya menghasilkan pengetahuan empiris atau teori baru. Lebih dari itu, sebagai upaya perbaikan sosial untuk mengangkat masyarakat dari ketertindasan. (24)


—Khoirul Muzakki, peserta pelatihan PAR IAIN Walisongo, Redaktur Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat IAIN Walisongo Semarang.

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER