panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
03 Februari 2012
Kearifan Rebo Wekasan
  • Oleh M Agus Yusrun N
SAFAR (Sapar dalam bahasa Jawa) adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Sebagian ulama menyebutnya Shofarul Khoir, artinya bulan Safar yang penuh kebaikan. Ada alasan menamai seperti itu karena dulu banyak orang meyakini bahwa itu bulan sial atau penuh bala (bencana). Karenanya, sejumlah ulama memberi nama lain guna menepis anggapan negatif terkait bulan itu.

Pandangan Islam meyakini semua hari dan bulan sama baiknya. Tidak ada hari atau bulan tertentu yang membawa kesialan karena semuanya akan kembali pada ketentuan takdir Ilahi. Memang ada yang utama, misalnya Ramadan yang dikaitkan dengan momentum penyucian diri.  Terkait bulan Safar, sebagian masyarakat Jawa menganggap ada satu hari yang penuh makna religi, yakni Rebo Wekasan, atau Rabu terakhir (wekasan, pungkasan) pada bulan itu.
Mereka ’’mengistimewakannya’’ karena memercayai pada hari itu Tuhan menurunkan 320 musibah atau bencana sehingga orang harus lebih banyak memohon ampun, bertobat, dan bersedekah. Selain memperbanyak doa, sebagian masyarakat pada masa lalu menangkalnya dengan berbagai cara, misalnya membalikkan perkakas dapur, utamanya yang berbentuk bejana atau panci agar tidak ’’kemasukan’’ bala.

Sebagian masyarakat sudah lama meyakini kepercayaan itu. Sarjana Belanda Pyper melalui buku Beberapa Aspek tentang Sejarah Islam di Indonesia Abad Ke-19 (1979) menyebut sejak abad ke-17 M masyarakat muslim, khususnya di Jawa, Aceh Darussalam, dan Sumatra Barat, memercayai hal itu.
Sejatinya ada nilai-nilai kearifan lokal terkait dengan tradisi Rebo Wekasan di Desa Jepang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Misalnya masyarakat bisa mendapatkan air salamun di Masjid Wali di desa tersebut. Air salamun muncul dari rasa ketakutan yang menghantui warga di sekitar masjid tersebut, yang dianggap angker.

Adalah ulama bernama Sayyid Ndara Ali yang mengawali mengubah pemahaman itu. Ia meyakinkan warga sekitar bahwa masjid peninggalan Sunan Kudus itu tidak angker, termasuk ia menegaskan  Rebo Wekasan tidak membawa sial tapi justru penuh berkah. Pada malam Rebo Wekasan ia mengambil air dari sumur di masjid itu, kemudian membaca doa dan menamainya air salamun (air yang membawa berkah dan keselamatan) untuk dimanfaatkan oleh warga.

Format Baru

Baru setelah itu masyarakat berani memanfaatkan air sumur tersebut, termasuk untuk berwudu. Dalam perkembangannya, warga menyelenggarakan acara Rebo Wekasan, mengisinya dengan khataman Alquran dan beberapa ritual lainnya, termasuk memberi doa pada air salamun. Setelah shalat magrib, takmir membagikan air salamun kepada jamaah atau orang yang membutuhkan.

Air yang dibagikan tahun ini adalah adalah air yang diberi doa pada tahun lalu. Air yang diberi doa oleh tokoh ulama pada 17 Januari 2012, akan dibagikan ke masyarakat pada 2013, atau setahun kemudian.
Masyarakat kini memaknai secara cerdas peringatan Rebo Wekasan untuk kembali mengenang perjuangan para ulama yang menyebarkan Islam di desa tersebut, sekaligus menggali nilai kearifan lokal.

Menurut penulis, memanfaatkan budaya Rebo Wekasan dengan memformatnya sebagai tradisi haul adalah langkah ijtihad para ulama di desa itu untu menghadapi kekinian budaya. Dengan demikian ulama kembali menggali kearifan lokal dalam menghadapi fenomena perubahan budaya di masyarakat. Langkah yang bisa ngemong masyarakat agar budaya mereka tidak jauh menyimpang dari adat ketimuran dan agama.

Dalam pandangan penulis, ritual tersebut adalah budaya lokal masyarakat yang sulit dibendung karena senantiasa akan dilanggengkan sebagai suatu tradisi kepercayaan turun-temurin. Kini tinggal masyarakat yang memformatnya lebih baru sehingga acara itu juga bisa mendatangkan keuntungan secara ekonomi dan budaya. (10)

— M Agus Yusrun Nafi’ SAg MSi, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kudus, pengasuh Ponpes Sirajul Hannan Kecamatan Jekulo
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER