Partai Demokrat rupanya masih jauh dari ’’garis finish’’ untuk menyelesaikan kegaduhan yang melanda partai tersebut. Belitan kasus korupsi oleh kader-kadernya kini semakin meruncing pada sosok Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Sementara itu, di tengah isu pencopotan Anas, dia ditengarai menggalang perlawanan. Benar tidaknya rumor itu, Partai Demokrat yang nantinya akan membuktikan. Namun, kegaduhan politik itu membawa ekses lain.
Sebagai partai yang tengah berada di puncak kekuasaan, kisruh dan gaduh politik Partai Demokrat akan mempengaruhi lanskap politik dan dinamika kepartaian ketika semua elemen kekuatan mulai mengarahkan perhatiannya pada pemilu presiden 2014. Bagaimanapun, Demokrat telah menjadi sebuah partai multikulturalis dengan menampung beragam kepentingan, nyaris tanpa batas, di bawah lambang segitiga biru. Fakta ini tidak bisa dinafikan begitu saja.
Sebetulnya pula, kegaduhan terus-menerus dalam tubuh partai manapun adalah sebuah pemandangan yang memprihatinkan bagi publik. Kegaduhan itu semakin menjauhkan partai dari hakikat ontologisnya sebagai penyangga-penyangga ruang bagi perkembangan dan pertumbuhan iklim demokrasi. Kekisruhan itu juga membuat partai menjelma menjadi lahan kompetisi kekuasaan di internal partai, sesuatu yang sangat jauh dari semangat dasar kepartaian.
Dari sudut pandang kepartaian, kemelut yang melanda Partai Demokrat dapat dipandang sebagai sebuah ujian untuk mematangkan tradisi dan identitas partai. Ujian itu akan membantu Demokrat menemukan keseimbangan pada internal partai. Ujian itu penting karena Demokrat harus mampu untuk mendewasakan konsolidasi operasional politiknya sehingga tetap mampu menjadi kontributor bagi dinamisasi kehidupan demokrasi di Indonesia.
Desakan untuk penyelesaian kemelut di tubuh Demokrat harus dipahami sebagai sebuah kebutuhan bukan saja bagi masa depan partai itu sendiri namun juga lebih luas lagi, bagi keseimbangan dan kematangan praktik-praktik politik di Indonesia. Atas dasar pertimbangan itu, sangat dipahami pula desakan untuk melepaskan Anas Urbaningrum dari partai tersebut. Pencopotan Anas dinilai akan menjadi cara ampuh menunjukkan komitmen antikorupsi.
Meski belum ditetapkan bersalah dan menjadi tersangka, sorotan publik terhadap Anas pantas menjadi perhatian serius partai. Terlebih lagi, beberapa saksi di persidangan sudah menyatakan keterlibatan Anas dalam kasus suap. Sehingga sekali lagi, penyelesaian kemelut di seputar Demokrat menjadi krusial untuk mengembalikan fitrah partai. Hal itu berlaku bukan hanya untuk Demokrat saja tetapi juga untuk kondisi politik kepartaian di negara ini. (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad