JAKARTA - BPK menemukan dua transaksi mencurigakan dalam audit investigasi lanjutan terhadap kasus bail out Bank Century.
Kepala BPK Hadi Purnomo, Rabu (1/2), menjelaskan, dua transaksi itu berupa aliran dana sekitar Rp 100 miliar dari SS dan SL ke PT MNP. Temuan kedua adalah transaksi valas oleh HEW dan SKS yang belum diketahui fisik dananya. HEW diduga adalah Hartanto Edhie Wibowo, adik bungsu Ibu Negara Ani Yudhoyono.
"Temuan itu adalah fakta-fakta yang ditemukan selama proses audit investigasi lanjutan," kata Hadi Purnomo dalam rapat dengan tim pengawas kasus Bank Century DPR di Gedung DPR, Jakarta.
Rapat tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan dan dihadiri seluruh pimpinan BPK.
Hadi Purnomo menjelaskan, pada penukaran dan penyetoran valas dari HEW dan SKS kepada Bank Century, BPK belum menemukan sumber dana valas yang ditukarkan. Pihaknya juga belum dapat menyimpulkan hubungan transaksi ini dengan kasus Bank Century secara keseluruhan.
Wakil Ketua BPK, Hasan Bisri, menjelaskan, HEW dan SKS melakukan penukaran valas ke Bank Century. Kemudian, dana tersebut ditransfer ke beberapa bank lain.
Namun Hasan Bisri tidak bisa menyebutkan kepada siapa dan apa nama bank lain tersebut, dengan alasan BPK tidak dapat mengakses data-datanya.
Dari data yang bisa diakses BPK di Bank Century, kata dia, tidak ada bukti HEW dan SKS menyerahkan valas sehingga penukaran valas ini mencurigakan karena tidak ada data transaksinya.
Hadi Purnomo menambahkan, dalam audit investigasi lanjutan, BPK telah memeriksa sekitar 86 juta transaksi dari 80 ribu rekening milik sekitar 60 ribu nasabah.
Belum Maksimal
Pimpinan rapat, Taufik Kurniawan menyatakan, hasil audit investigasi lanjutan BPK terhadap kasus Bank Century belum maksimal. Rapat ini merupakan lanjutan setelah BPK menyampaikan hasil audit investigasi awal pada 23 Desember 2011.
Rapat sempat diwarnai sedikit ketegangan antara Taufik Kurniawan dengan Hadi Purnomo. Keduanya terlibat perdebatan sengit terkait hasil audit. Saat itu, Taufik menyindir, hasil audit BPK yang diserahkan kepada DPR bukan audit forensik, melainkan hanya audit lanjutan yang hasilnya tidak maksimal dan membuat kalangan DPR tidak puas.
Menanggapi sindiran tersebut, Hadi Purnomo menjawab bahwa audit sudah dilakukan secara independen, tanpa intervensi serta tidak dibuat-buat atau apa adanya.
''Bahkan, dari hasil audit itu, BPK menyampaikan dua informasi tambahan yakni tentang aliran dana ke HEW dan PT MNP,'' tukasnya.
HEW dan istrinya, SKS, diduga masih kerabat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sementara itu, anggota Timwas Century Akbar Faisal mengatakan, dalam rapat itu hanya disepakati satu hal, yakni ada kecerobohan Gubernur Bank Indonesia saat itu, Boediono, dalam mengeluarkan anggaran bail out sebesar Rp 6,7 triliun.
''Hanya satu yang kita sepakati, dan memberi penguatan kepada temuan yang pertama, adalah ketidakhati-hatian dan ketidakmampuan BI melaksanakan tugas. Gubernur BI waktu itu adalah Boediono. Jadi dia harus bertanggung jawab,'' tegas Faisal.
Taufik Kurniawan menyatakan, rapat menyimpulkan ada indikasi kerugian negara. Dia mengaku sudah memberikan dugaan penyimpangan tersebut kepada pimpinan KPK yang baru. Dengan demikian, tinggal bagaimana kemauan KPK menuntaskan hal tersebut. (J22,H28,ant-43)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad