BATANG- Meski masih ada beberapa orang yang menolak, namun sebagian besar masyarakat Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman menerima proyek PLTU Batang. Yang diinginkan warga justru transparansi dari investor terkait pembebahasan lahan.
Karena, masalah itu yang justru menjadi akar permasalahan yang kemudian dijadikan isu penolakan. Sehingga, perlunya beberapa langkah nyata dari investor sehingga tercapai kebersamaan.
”Menurut pemantauan kami, selama ini pola komunikasi yang dilakukan investor masih carut marut. Masalah lahan saja, warga dibuat cemas dengan kehadiran tim yang melakukan pembelian tanah. Apakah benar-benar petugas dari PLTU atau bukan. Ini perlu ada ketegasan,” ujar Mahfud, tokoh pemuda saat sosialisasi PLTU oleh PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) yang dilaksanakan di Balai Desa Ujungnegoro, Selasa (31/1) sore.
Tokoh pemuda itu berharap agar permasalahan semakin mengerucut hendaknya PT BPI lebih gencar melakukan sosialisasi. Yakni dengan memberikan gambaran yang jelas, terkait pembangunan pembangkit listrik mega power itu.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Junaedi, meminta kepada PT BPI untuk membuatkan pengairan di barat desa. Itu sebagai pengganti lahan di sebelah timur yang dibebaskan untuk PLTU.
Dony Suryaman dari PT BPI menuturkan, pihaknya menghargai semua masukan dari masyarakat. Menyangkut pembebasan lahan, akan dilakukan dengan koordinasi dari Pemkab maupun desa.(ar-48) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad