JAKARTA- Pemeriksaan jenazah Irzen Octa yang dilakukan ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dokter Mun'im Idris, menemukan memar di enam titik. Menurut Mun'im, enam titik memar tersebut berturut-turut adalah bagian perut, punggung, dada kiri bagian dalam, jaringan batang otak, tungkai kaki, dan paha bagian depan.
Sebagaian memar dapat dilihat secara kasat mata. ”Memar pasti timbul karena ada trauma. Ada trauma, ya, karena ada kekerasan,” ujar Mun'im dalam sidang kematian nasabah Citibank dengan terdakwa Boy Yanto Tambunan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (31/1).
Dia menegaskan, luka tersebut karena kekerasan tumpul pada saat Irzen masih hidup. Dalam autopsi yang dilakukan Mun'im, otak Irzen telah mencair. Pasalnya, autopsi itu dilakukan 22 hari pascakematian.
Mun'im mengakui menggunakan sebagian hasil autopsi yang dilakukan oleh ahli forensik, dokter Ade Firmansyah. ”Saya memeriksa untuk mencari dugaan luka-luka yang belum ditemukan,” tambahnya.
Permintaan Keluarga
Dalam pelaksanaannya, dia dibantu dua asisten. Autopsi yang dilakukan bukan untuk pro justitia lantaran permintaan tak diajukan oleh kepolisian. Permintaan autopsi ulang berasal dari keluarga korban melalui kuasa hukumnya.
Namun, hasil autopsi itu kemudian diserahkan ke penyidik atas persetujuan pihak keluarga. Menurut Mun'im, biaya autopsi ditanggung pihak keluarga.
Irzen Octa diketahui tewas saat diinterogasi oleh pihak Citibank di kantor Citibank, Menara Jamsostek, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta Selatan. Citibank menyangkal kasus tersebut terkait dengan mereka, kendati lima terdakwa merupakan debt collector kartu kredit Citibank. Penyangkalan itu karena Boy Yanto dkk merupakan pegawai outsourcing dan bekerja tak sesuai prosedur yang berlaku di Citibank. (K24-25) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad