panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kesehatan
01 Februari 2012
Stimulasi Sistem Saraf dan Tragedi di Tugu Tani
  • Oleh F Suryadjaja
TUGU Tani di Jakarta Pusat boleh jadi sebagai saksi bisu dimana jalan kaki bukanlah aktivitas yang aman. Sembilan meninggal dari 12 korban kecelakaan lalu lintas oleh mobil merek Daihatsu Xenia, Minggu (22/1), menandai tingginya angka kematian kecelakaan lalu lintas bagi pejalan kaki tatkala kontra dengan mobil yang berkecepatan tinggi.

Ironis. Tatkala aktivitas jalan kaki sedang naik daun dipahami sebagai aktivitas bebas emisi gas rumah kaca.

Aktivitas jalan kaki merupakan jenis olah fisik yang memberikan kebugaran tubuh sehingga berpotensi untuk tampak awet muda dengan menghambat laju degenerasi tubuh. Lantaran olah jasmani jalan kaki memacu produksi hormon pertumbuhan (growth hormone) oleh kelenjar hipofisis, sehingga tampilan raut wajah tampak segar. Sebagai jenis aktivitas fisik jenis aerobik, bila dilakukan selama 30 menit sehari dengan frekuensi minimal lima kali seminggu, memberikan dampak positif bagi kesehatan organ jantung dan menurunkan risiko kejadian stroke.

Mengusung tema ''Youth and Road Safety'' pada 2007, Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis data dimana 400.000 usia muda di bawah 25 tahun meninggal tiap tahun di jalan raya. Kecelakaan lalu lintas banyak menimpa anak yang bermain layang-layang di badan jalan, pejalan kaki, pengayuh sepeda, pengendara yunior, dan penumpang kendaraan umum. Mayoritas korban tewas tercatat di negara dengan pendapatan per kapita yang rendah atau menengah. Di Costa Rica, Amerika Tengah, korban jiwa pejalan kaki menyumbang 57 persen korban jiwa keseluruhan akibat kecelakaan lalu lintas.

 Bahaya Metamfetamin

Tatkala dunia kehidupan modern disesaki dengan hiruk pikuk padatnya aktivitas fisik manusia, kondisi psikologis serba tertekan atau stres tidak dapat dihindari. Bersamaan dengan kemajuan teknologi obat-obatan sintetis dan pengetahuan tentang efek farmakologis obat untuk meringankan penderitaan manusia, psikotropika hadir. Meski psikotropika diketahui memberikan efek samping yang serius, tidak menghalangi bagi para pengguna untuk mengonsumsi sekalipun tanpa pengawasan medis yang cukup untuk memperoleh efek sedasi (istirahat tidur) atau euforia (gembira).

Meski sama-sama tergolong psikotropika, metamfetamin memiliki efek yang bertolak belakang. Lantaran memberikan efek sedatif (narkotik), ekstasi dikonsumsi oleh individu yang ingin menghindar dari stres kerasnya persaingan kehidupan yang mengarah kepada kondisi insomnia (sulit tidur). Sebaliknya metamfetamin (sabu-sabu) lebih dipilih oleh individu yang melihat persaingan hidup sebagai sebuah tantangan yang memacu adrenalin (adrenergik, simpatomimetika). Kebutuhan istirahat tidur sering dikorbankan.

Dari sejarah penggunaan metamfetamin, awalnya diperuntukkan untuk pengobatan penyakit asma karena mirip efeknya dengan obat asma efedrin. Juga untuk mengatasi narkolepsi (mudah jatuh tidur). Tahun 1932, amfetamin dijual secara bebas (over the counter) tanpa resep dokter. Pada Perang Dunia ke-2, metamfetamin disuplai kepada para tentara dan pilot pesawat tempur untuk maksud memelihara kewaspadaan (alertness) dan mengusir rasa letih, serta meningkatkan ketajaman paranoid terhadap keberadaan musuh. Setelah itu, amfetamin bias ke arah penyalahgunaan.

Seiring dengan dampak negatif konsumsi amfetamin, intoksikasi metamfetamin telah diketahui memiliki kaitan erat dengan sejumlah peristiwa fatal kecelakaan lalu lintas, baik kepada penggunanya sendiri maupun bagi orang lain. Juga tidak direkomendasikan bagi pekerja yang berada dekat atau sedang mengoperasikan peralatan mesin. Selain itu, dianjurkan untuk dihindari dikonsumsi tatkala berada di lokasi alam yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, meski bernuansa tantangan dari perspektif pencinta alam. Pasalnya, selepas efek keterjagaan sirna, timbul rasa kantuk.

Efek amfetamin hampir mirip seperti adrenalin namun mempunyai efek kerja yang lebih lama. Obat ini bekerja dengan cara yang mirip dengan kokain dimana akan membuat penggunanya merasa energik. Amfetamin bekerja dengan cara seperti adrenalin, yaitu sebuah hormon yang diproduksi secara alami dalam tubuh manusia. Zat ini di kalangan pengguna napza dikenal sebagai ìupperî yang mana dapat menurunkan nafsu makan dan akan menyebabkan pengguna tidak mempunyai rasa lelah

Sensasi yang ditimbulkan akan membuat otak lebih jernih dan bisa berpikir lebih fokus. Otak menjadi lebih bertenaga untuk berpikir berat dan bekerja keras, namun akan muncul kondisi arogan yang tanpa sengaja muncul akibat penggunaan zat ini. Pupil akan berdilatasi (melebar). Nafsu makan akan sangat ditekan. Hasrat ingin pipis juga akan ditekan. Tekanan darah bertendensi untuk naik secara signifikan.

Secara mental, pengguna akan mempunyai rasa percaya diri yang berlebih dan merasa lebih gembira  Pengguna akan lebih talkative, banyak ngomong dan meningkatkan pola komunikasi dengan orang lain. Karena seluruh sistem saraf pusat terstimulasi maka kewaspadaan dan daya tahan tubuh juga meningkat. Pengguna seringkali berbicara terus dengan cepat dan terus menerus. Amfetamin dosis rendah akan habis durasinya di dalam tubuh kita antara 3 sampai 8 jam, Setelah itu pengguna akan merasa kelelahan

Meski rasa kantuk menyerang, zat amfetamin masih terdapat dengan  kadar yang memadai dalam sirkulasi darah untuk memelihara suasana psikis euforia. Karena itu, meski tragedi korban jiwa berada di depan mata, tidak mencuatkan raut wajah kesedihan. Seolah ada tabir yang menyelimuti pandangan mata. ibaratnya tidak mungkin muncul kesedihan tatkala resepsi pernikahan atau perayaan ulang tahun sedang berlangsung. Baru tereliminasi dari dalam tubuh setelah tiga hari lewat urine. Barulah pengguna tersadar akan kecerobohannya menimbulkan korban jiwa beruntun tatkala mengendarai mobil di bawah pengaruh efek psikotropika.(11)

 

Dr F Suryadjaja adalah dokter di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali.

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER