
MENYELAMATKAN dua nyawa sekaligus dalam waktu bersamaan adalah sebuah pekerjaan berat. Pekerjaan itu yang harus dijalani Atik Eko Suseno, bidan desa di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas.
Bagaimana tidak, kali pertama ditempatkan di desa tersebut 15 tahun silam, ia merupakan satu-satunya bidan desa. Kondisi medan berupa pegunungan dan masyarakat yang belum terbuka membuat tugasnya sangat berat.
Perempuan kelahiran Jepara 2 Mei 1977 itu harus meyakinkan para ibu yang hendak melahirkan agar mau dia tangani. Namun, terkadang mereka enggan dibantu persalinan oleh bidan, karena memang terbiasa ditangani dukun bayi.
''Sering mereka mengatakan persalinan sudah selesai ketika saya hendak membantu, atau mengatakan saya telat datang. Tapi, ya perlu bertahap mengedukasi mereka,'' kata istri Maryoto Febriana itu.
Jengkel
Pernah suatu kali ia mendapati kasus ibu yang susah melahirkan, namun yang bersangkutan tidak mau dibawa ke rumah bersalin. Setelah dibujuk dengan berbagai macam gaya dan cara, akhirnya mau meski dengan sikap yang jengkel.
Karena rumahnya berada di pegunungan, ibu tersebut pun dibawa menggunakan tandu. Sampai di rumah sakit ibu itu harus melahirkan secara cesar.
Alumni Program Pendidikan Bidan (PPB) Sekolah Perawat Kebidanan (PPK) Klaten 1997 itu pun mengungkapkan pengalaman lain beratnya perjuangan untuk membantu masyarakat. Waktu itu kondisi jalan di desa tempatnya mengabdi belum sebagus sekarang.
''Jadi bisa naik, tapi tak bisa turun. Kalau nekat turun saya hanya bisa menangis sembari jalan,'' kenang perempuan yang memiliki kegemaran merias orang lain itu. (Ryan Rachman-17)
(/)