PENGENDARA sepeda motor keluar-masuk gang di sebelah timur pertigaan Podo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Di tepian jalan berderet rumah bergaya kuno berdinding kusam dari susunan batu besar dan atap rendah. Pagar bergaya peninggalan Belanda memberi kesan kampung tua.
Rumah-rumah itu bukti masa kejayaan Kampung Paesan, yang berarti perhiasan. Lebih dari 20 tahun lalu, wilayah itu adalah sentra kerajinan emas. Ada ratusan perajin dan puluhan pengusaha emas di sana. Namun kini cuma tersisa 10 pengusaha. ”Dulu, orang biasa duduk-duduk di teras rumah seraya merangkai emas menjadi rantai kalung atau gelang. Sekarang hampir tak ada lagi,” kata Mahsus (58), salah perajin emas.
Dia menuturkan masa puncak kerajinan emas di wilayah itu tahun 1970-1980. Hampir semua penduduk ahli membuat perhiasan secara turun-temurun.
Masa itu, banyak pengusaha China dari Jakarta memercayakan emas mereka untuk diubah menjadi gelang, cincin, kalung, dan sebagainya. Kemudian muncul masalah ketika banyak perajin ditarik bekerja ke Jakarta. ”Di sini mereka hanya mendapatkan Rp 15.000 per hari, tetapi di Jakarta bisa mendapat penghasilan Rp 50.000,” tuturnya.
Dikalahkan Pemodal Besar
Memasuki tahun 1990-an, pabrik besar mulai menggunakan mesin yang mampu mencetak perhiasan bermotif dengan jumlah yang diinginkan. Padahal, perajin masih mengandalkan alat-alat tradisional seperti gunting, tang jepit, dan pinset.
”Sehari perajin emas tradisional hanya mampu memproduksi 20 potong. Namun dengan alat mesin bisa mencetak ratusan. Jadi usaha kemasan berhenti dengan sendirinya karena kalah modal dari pengusaha besar,” kata Mahsus.
Zarkoni (37) adalah salah seorang perajin emas yang bertahan. Dia mengakui kesulitan mengembangkan usaha.
Nila insentif bagi jasa perajin emas tidak sebanding dengan harga emas. Ketika emas masih seharga Rp 25.000 per gram, insentif jasa pembuatan antara Rp 10.000 dan Rp 25.000. Angka itu sama dengan setengah dari harga emas.
Namun ketika harga emas murni mencapai Rp 400.000 per gram, insentif jasa pembuatan hanya antara Rp 50.000 dan Rp 80.000. Itu berarti jasa produksi hanya dihargai seperdelapan. ”Itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun 1980-an,” katanya.
Umumnya penduduk Paesan mengambil sistem sanggan (order) dari pedagang emas. Sebenarnya hasil yang mereka peroleh dari sistem upahan tidaklah besar jika dibandingkan dengan harga jual barang di pasaran. Dia menuturkan mendekati tahun 1990-an sanggan emas berkurang. Sebagian besar perajin berpindah profesi atau masih menerima pesanan tetapi juga bekerja serabutan. Pendapatan sebagai perajin hanya Rp 15.000 per hari, sedangkan upah menjadi buruh pencuci jins, misalnya, Rp 25.000 per hari.
”Banyak yang pindah menjadi buruh konfeksi. Sebagian lain memilih menjadi perajin perak dan tembaga yang mempunyai dasar yang sama dengan perajin emas,” katanya.
Tinggal Sedikit
Sementara ini, hanya sekitar 20 perajin emas menyebar di kawasan Gembong, Paesan Utara, Paesan Tengah, Paesan Selatan, dan Paesan Kebumen. Mereka mengharapkan perhatian pemerintah agar mampu mempertahankan usaha sebagai perajin emas yang didesak mundur oleh pabrik besar dan harga pasar yang tak menentu.
Meski hanya sedikit perajin yang bertahan, Kampung Paesan tetap memiliki daya tarik. Bermodal kemampuan sebagai perajin, beberapa di antara mereka mulai menekuni kerajinan tembaga. Hasil kerajinan tembaga hampir sama dengan emas, dengan harga bahan baku lebih murah dan variasi bentuk perhiasan lebih beragam. Bahkan mereka telah menemukan pasar, yakni Jakarta dan Indramayu.
Mahsus, misalnya. Dia adalah menantu pengusaha perajin emas tahun 1974. Kemudian dia meneruskan usaha sang mertua, tempat dualu dia bekerja. Sejak 10 tahun lalu dia mengganti emas dengan tembaga, dibantu antara tiga dan lima karyawan di rumah. Bukan tanpa kendala memilih tembaga sebagai pengganti emas. Dia harus mendapat bahan baku lebih teratur agar pemenuhan pesanan tidak terlambat.
Dia menuturkan logam berwarna emas kemerahan itu mudah dibentuk baik dengan panas maupun tidak dengan panas. Hanya kelemahan tembaga sebagai perhiasan adalah sangat cepat teroksidasi dan akan meninggalkan noda hijau atau hitam di kulit. Untuk menghindari perubahan warna, perhiasan tembaga biasanya dilapisi dengan lapisan tipis akrilik, meski terkadang tak bertahan lama.
Kesulitan kembali muncul ketika harga jual perhiasan tembaga sangat rendah. Satu kodi kalung yang dia buat hanya dihargai Rp 55.000. Angka itu belum menutup biaya pengiriman dan produksi. Harga tembaga dengan mutu yang baik Rp 90.000 per kilogram, sedangkan tembaga bekas cukup Rp 70.000 per kilogram.
Pengelolaan dan pendanaan kerajinan tembaga dia lakukan bersama sang istri, Asmara (55), selama bertahun-tahun. Pasangan itu menghadapi pasang surut dan pasang naik pesanan, belajar mengatur modal, produksi dan pemasaran agar tetap stabil. Memasuki awal tahun 2000 pesanan meningkat. Pasanan dari Jakarta, Indramayu, dan beberapa kota di luar Jawa, bahkan Malaysia, melalui pihak ketiga, berdatangan.
Ketika dia berusaha mencari tambahan tenaga, ternyata sulit mendapat perajin perhiasan. Sebab, warga Paesan saat ini lebih senang bekerja di pencucian jins atau konfeksi daripada belajar menjadi perajin. Hasil penjualan kerajinan tembaga miliknya rata-rata Rp 15.000.000 tiap bulan. Pendapatan tersebut itu mendapatkan bahan dasar berkualitas lebih baik dan membeli hasil kerajinan tembaga warga dengan harga pantas. (51) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad