SEBAGIAN dari kasus objektophil, penyebabnya adalah pengalaman masa kecil/ masa lalu yang tidak menyenangkan. Seperti mengalami kekerasan atau pelecehan, secara fisik, psikis maupun seksual. Baik dalam rumah/ keluarga atau lingkungan (sekolah, teman-teman). Sehingga mereka mengalami depresi dan mempengaruhi orientasi seksual mereka.
Perasaan ’dibuang’, atau tak dihargai sebagai manusia, bisa menimbulkan asumsi lain, ’lebih baik mencintai benda mati, karena (diri kita) tak mungkin disakiti oleh mereka’. Dalam ilmu Komunikasi Antar Persona, jika kita mempersepsi diri kita sendiri secara negatif, otomatis akan membentuk persepsi orang lain terhadap kita, bahwa orang lain mempersepsi kita negatif, sesuai dengan yang kita bentuk.
Ada beberapa hal simpel, yang mampu membuat kita bahagia, atau paling tidak, bisa mengalihkan pikiran dari mengagumi benda-benda tertentu secara berlebihan.
Pertama, Bermeditasi atau berdoa. Meditasi biasanya dilakukan setelah selesai melakukan yoga. Tujuannya, selain sebagai pendinginan atau relaksasi, adalah untuk merasakan keberadaanNya, dengan menajamkan indera perasa kita. Ketika seseorang selesai atau rutin bermeditasi, perasaan tenang akan timbul. Ketika jiwa kita tenang, tentu kita bisa berpikir dengan jernih.
Kedua, bersosialisasi. Sangat penting untuk menjalin pertemanan seluas-luasnya, terutama bersosialisasi di dunia nyata, bukan hanya lewat media sosial dunia maya. Bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan, membuat kita mengenal beragam karakter personal mereka, dan terutama sekali, tak lagi merasa kesepian.
Ketiga, jika sudah tak lagi berhubungan dengan teman atau kerabat lama, coba untuk menghubungi, dan menjalin komunikasi yang intens dengan mereka. Siapa tahu, salah satu atau beberapa dari mereka, mampu membuat kita nyaman, bahagia, dan mampu menyemangati atau mendukung secara moral.
Yang keempat, curhat. Curhat itu sangat penting. Dengan curhat, kita akan merasa lega telah ’berbagi’ beban yang mengganjal pikiran. Meskipun terkadang tak bisa curhat hanya pada satu orang, maka curhat dengan beberapa teman dekat, juga tak ada salahnya. Dengan curhat, selain kita mendapatkan ’tempat’ yang bisa mendengarkan segala keluh kesah, terkadang kita mendapat bonus; bantuan atau solusi bagi masalah yang sedang dihadapi.
Yang terakhir adalah narsistik. Meskipun narsis itu selalu dianggap berlebihan, namun ada kalanya kita harus mengagumi, atau bangga terhadap diri sendiri. Tak perlu peduli dengan opini orang-orang. Yang penting, rasa narsistik ini bisa membuat kita mencintai diri sendiri, dan tentunya bahagia menjadi diri sendiri. Dan ketika kita bisa bahagia dan mempunyai kepercayaan diri, maka orang lain akan memberi respon/ persepsi positif terhadap diri kita (
Irma M Manggia-11 ).
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad