panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
28 Januari 2012
Dosen Ideal Vs Dosen Killer?
  • Oleh Gery Sulaksono
DALAM dinamika perkuliahan, eksistensi mahasiswa tidak terlepas dari peran seorang dosen. Begitu juga sebaliknya, hubungan keduanya seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Banyak peran yang dimiliki oleh dosen, seperti transformasi pengetahuan, peran bimbingan dan pelatihan, menilai hasil pembelajaran dan lainnya. Peran-peran tersebut berkecenderungan melahirkan otoritas berlebih dari dosen. Otoritas tersebut tak jarang menimbulkan gesekan dengan kepentingan mahasiswa.

Lika-liku mahasiswa menempuh pendidikan di PT tentu menimbulkan nuansa suka dan duka, manis dan getir. Meskipun bukan faktor multak, disadari atau tidak, peran dosen akan turut mengantar keberhasilan ataupun kegagalan studi mahasiswa. Pada titik ini, saya berpendapat ada dikotomi, antara dosen ideal dan dosen killer. Meskipun berstatus dosen, kedua karakter ini sangat berbeda.

Dosen ideal, lazimnya mampu memahami situasi mahasiswanya. Dosen tersebut dicintai oleh mahasiswanya, menjadi bahan perbincangan dan dinanti-nantikan perkuliahannya. Komunikatif dan open mind, sehingga mahasiswa tidak akan sungkan mengungkapkan pemikiran/gagasan atau permasalahan yang sedang dihadapi. Cenderung membantu daripada merintangi.

Situasi tersebut di atas berbeda dari karakter dosen killer. Di tengah keterbukaan arus informasi dan teknologi dewasa ini, ternyata masih banyak dijumpai dosen killer di tiap kampus di seluruh Indonesia. Sebuah karakter yang seharusnya tidak berlaku lagi di era social media (SocMed)  seperti sekarang ini.

Penambahan kata killer merupakan istilah yang lazim dilekatkan bagi dosen yang tidak mempunyai kapabilitas membangun hubungan emosional yang baik dengan mahasiswanya, berjarak, mempunyai aturan-aturan kaku (tidak fleksibel). Kental dengan paradigma top-down, antidialog, penyampaian materi kuliah yang membosankan (monolog), pelit dalam memberi nilai, lama dalam membimbing skripsi, abai pada masalah akademik mahasiswa, sibuk dengan proyek di luar kampus, berjarak, birokratis, menghambat dan tidak memudahkan.

Paradigma dosen killer lebih banyak mengacu pada karakter konservatif, bukan pada keterbukaan sikap dan pemikiran yang seharusnya dimiliki oleh seorang akademisi. Padahal, ada aspek-aspek di luar perkuliahan yang harus diperhatikan, seperti pelipatan biaya (cost) yang dibayar oleh mahasiswa/orang tua mahasiswa, ketika nilai mereka gagal, atau skripsi mereka terbengkalai di tangan dosen pembimbing, sehingga berimbas pada lamanya waktu kelulusan.

Kecenderungan ini memberi kesimpulan bahwa, kegagalan studi mahasiswa itu bukan semata-mata faktor mahasiswa, namun juga harus ditinjau bagimana profesionalitas, responsibilitas, dan kualitas kompetensi dari dosen pengampu.

Evaluasi

Menurut UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Bab 1 Pasal 1 ayat 2), dosen dinyatakan sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selanjutnya dalam Pasal 69 (ayat 2), disebutkan empat kompetensi yang wajib dimiliki dosen, yaitu kompetensi mengajar (pedagogik), kompetensi kepribadian (personality), kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

Merujuk pengertian dan syarat kompetensi tersebut, karakter dan sikap yang selama ini dihadirkan oleh dosen killer tentu menyimpang dari konstitusi. Maka, guna mendapatkan kualifikasi dosen yang ideal, keberadaan dosen killer harus mendapat perhatian serius dari rektorat, senat, ataupun jurusan, seperti sertifikasi internal PT, evaluasi penjaminan mutu dosen secara berkala, survei atau polling kelayakan dosen di tiap-tiap jurusan/prodi, mengikutkan pada program soft skills, dan pemberian teguran serta sanksi. (24)


—Gery Sulaksono SSos, alumnus Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER