panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
25 Januari 2012
Berdaya sejak dari Pikiran
  • Oleh Siti Muyassarotul Hafidzoh
PERMASALAHAN tentang perempuan tidak pernah habis dikupas oleh siapa pun. Perempuan memiliki aura tersendiri sehingga apa pun dari perempuan menjadi menarik untuk ditelusuri lebih dalam.

Pemberdayaan perempuan sampai saat ini masih digalakkan oleh berbagai kalangan. Dampak dari kesetaraan gender dan feminisme ini sangat berpengaruh besar terhadap pemberdayaan perempuan. Semua usaha dilakukan demi mengangkat harkat dan martabat perempuan yang masih menjadi perdebatan yang cukup pelik.

Apa pun usaha untuk memberdayakan perempuan, dirasa sangat baik, namun yang perlu diingat adalah apakah para perempuan, khususnya perempuan awam yang tidak paham dengan gerakan gender dan feminisme, menyadari akan pentingnya pemberdayaan yang selama ini dilakukan. Perempuan awam yang notabene hanya sebagai rakyat kecil dan tingakt pendidikan yang rendah terkadang tidak memahami makna pemberdayaan. Mereka masih berpikir bahwa mereka hanya sosok perempuan yang memang sudah seharusnya hidup hanya untuk menjalankan tugas domestiknya. Tidak usahlah berpendidikan yang tinggi karena pada akhirnya jadi seorang ibu rumah tangga.

Pemikiran yang seperti itu masih banyak dimiliki oleh kalangan perempuan awam. Mereka tidak terlalu sibuk dengan persoalan kesetaraan, pemberdayaan bahkan menuntut hak sebagai perempuan. Yang mereka tahu adalah perempuan sudah memiliki takdir yang tidak sama dengan laki-laki atau di bawah laki-laki.

Jika pemikiran ini masih merasuk pada perempuan awam, maka gerakan gender dan feminisme hanya dirasakan oleh perempuan menengah ke atas dan berpendidikan tinggi.
Bukankah ini menjadi permaslahan tersendiri bahwa perempuan yang tercerahkan hanya perempuan yang memiliki finansial lebih. Hal ini akan membuat dikriminasi antarperempuan.

Perempuan yang memiliki banyak kelebihan masih menggalakkan kesetaraan, namun melupakan perempuan awam yang seharusnya lebih mendapatkan pencerahan. Kesadaran untuk berdaya tidak dimiliki oleh semua perempuan, karena itu, menjadi tugas siapakah untuk menyadarkan pemberdayaan perempuan. Tentulah tugas semuanya.
Jangan hanya terlena untuk menuntut kesetaraan gender dan feminisme, kemudian menyalahkan laki-laki yang selalu mengunggulkan nilai patriarkatnya, namun melupakan untuk menyadarkan para perempuan untuk lebih berdaya.
Ketika kesadaran itu sudah dimiliki, maka dengan sendirinya perempuan akan menggerakkan kemampuannya untuk meraih pendidikan yang layak dan pekerjaan yang memberdayakannya. 

Berdaya dari Pikiran

’’Kepekaan perempuan lebih peka dari seribu matahari,’’ begitulah ungkapan penyair perempuan dari Aceh, Rosni Idham. Beliau adalah perempuan yang memiliki jiwa seni yang indah, dan berjuang untuk perdamaian dunia dan pemberdayaan perempuan.

Menurut dia, perempuan adalah sosok yang memiliki kepekaan yang tajam melebihi laki-laki, bahkan ia mengibaratkannya dengan lebih peka dari seribu matahari. Ini yang harus kita perhatikan, ternyata dalam diri perempuan memiliki perasaan yang sensitif. Kepekaan ini digunakan untuk menyadarkan diri perempuan agar berdaya.
Menggerakkan hati perempuan akan lebih mudah jika melalui hati pula. Perempuan awam yang belum mendapatkan pencerahan untuk berdaya seharusnya kita dekati dengan hati yang tulus. Menyadarkan secara perlahan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang luar biasa, yang tidak boleh hanya didiamkan begitu saja, namun harus diapresiasikan untuk kehidupan lebih baik.

Perempuan mampu bertarung dengan laki-laki dalam bidang apa pun, baik pendidikan maupun pekerjaan. Menanamkan kesadaran seperti itu dalam diri perempuan adalah kunci untuk pencerahan. Ketika sejak dalam pikiran para perempuan sudah sadar akan pentingnya kesetaraan dan berdaya, maka hal itu bisa terwujud.  Kusukesan biasanya bermula dari hati dan pikiran.

Perempuan dan laki-laki itu setara, bahkan menurut Dr Eti Nurhayati dalam bukunya Psikologi Perempuan (2012), perempuan dan laki-laki memiliki sifat yang sama, maksudnya dalam jiwa perempuan ada sifat maskulinnya, dan dalam jiwa laki-laki ada sifat feminimnya. Apabila seseorang mampu mengolaborasikan dan menggunakan kedua sifat tersebut, maka ia akan menjadi sosok yang profesional dan bijak dalam menanggapi kehidupan. Pernyataan Dr Eti ini hampir sama dengan teori psikologi Carl Jung yang menyatakan bahwa perempuan atau laki-laki yang mengembangkan kedua sifat tersebut lebih sehat secara psikologi.

Hal ini penting untuk disadari, bahwa dalam diri perempuan pun terdapat sifat maskulin. Menyadari hal itu, maka perempuan akan tidak segan-segan melakukan pemberdayaan. Kesadaran untuk berdaya yang dimiliki perempuan akan berdampak positif bagi anak-anaknya. Perempuan yang sadar akan pencerahan, maka ia pun akan mencerahkan anak-anaknya. Dan ini bukan hanya terjadi pada perempuan yang berfinansial lebih, namun perempuan awam pun akan mampu melakukan itu. (24)
 
—Siti Muyassarotul Hafidzoh, ibu rumah tangga, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER