panel header


RUKUN AGAWE SANTOSA
Bersatu Kita Teguh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kesehatan
25 Januari 2012
Infeksi pada Katup Jantung
  • Oleh Muchlis AU Sofro
JIKA Anda demam, menggigil, nafsu makan berkurang, ada penurunan berat badan dan dari jantung terdengar suara ”bising”, maka pikirkanlah kemungkinan sedang diserang infeksi katup jantung. Sebab, 90% penyakit infeksi yang menyerang katup jantung memiliki gejala tersebut di atas.

Infeksi katup jantung atau disebut Endokarditis infektif merupakan penyakit infeksi akibat berkembang biaknya kuman pada permukaan otot jantung sebelah dalam. Lapisan otot jantung yang sehat mempunyai sistem pertahanan yang efektif dan mampu menangkal infeksi. Akan tetapi pada keadaan tertentu kemampuan untuk menangkal kuman tersebut menjadi berkurang.

Akibatnya, terjadi semacam luka kecil di lapisan dalam otot jantung. Di daerah luka tersebut berkumpulah: sel darah untuk pembekuan (trombosit), fibrin (serabut untuk menambal luka), berkumpulnya beberapa kuman, dan sel-sel radang.

Infeksi katup jantung dapat terjadi secara mendadak (akut) atau pelan-pelan (sub akut). Bisa mengenai katup jantung sebelah kanan atau kiri. Penyebabnya dapat kuman atau jamur. Terjadinya infeksi bisa di rumah sakit atau di rumah (komunitas). Dan sering menyerang pengguna jarum suntik narkoba (injecting drug user = IDU).

Sebagian besar kasus infeksi katup jantung (85%) dapat ditemukan kuman penyebab dari hasil pemeriksaan kultur darah. Kuman yang paling sering menjadi penyebab adalah: staphylococcus, streptococcus, dan enterococcus.

Sebagian kecil sisanya (5%) menghasilkan pemeriksaan kultur darah yang negatif. Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang sudah mendapatkan terapi antibiotik oleh dokter sebelum diambil pemeriksaan kultur darah. Pada kasus seperti ini dokter dapat memperhitungkan apakah sudah terjadi infeksi katup jantung manakala ada pasien yang secara klinis mengarah ke infeksi katup jantung, sementara pasien kembali demam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Pada kasus seperti ini biasanya disebabkan oleh kuman streptococcus oral/viridans, coagulase negative sraphylococci (CNS).

Ada beberapa keadaan yang memudahkan munculnya infeksi pada katup jantung, diantaranya: penyakit jantung rematik, penyakit kongenital (dibawa sejak lahir) seperti: kelainan katup aorta, kelainan sekat ventrikel, penyakit katup degeneratif, kelainan katup mitral. Demikian pula dengan penggunaan gigi palsu atau alat gigi sebelumnya.

Diagnosis

Untuk melakukan diagnosis terhadap Infeksi katup jantung diperlukan gambaran klinis seperti: demam, menggigil, nafsu makan berkurang, ada penurunan berat badan dan dari jantung terdengar suara ”bising”. Ditambah hasil pemeriksaan kultur darah (lab mikrobiologi) dan pemeriksaan ekokardiografi (semacam USG tapi diletakkan di dada kiri di lokasi jantung). Dari pemeriksaan ekokardiografi akan tampak dengan jelas adanya vegetasi (penumpukan sel akibat infeksi kuman di daerah katup jantung).

Gambaran klinis pasien sangat bervariasi, tergantung kuman penyebabnya, penyakit jantung yang mendasari, cara terjadinya infeksi, kekebalan tubuh pasien, dan ada tidaknya penyakit penyerta (Diabates Mellitus).

Secara klinis bisa terjadi serangan akut (mendadak). Pasien tiba-tiba mengalami serangan, gejalanya nyata (demam tinggi, menggigil) dan cepat memburuk (mengalami syok: tensi turun, nadi lemah, napas terengah-engah, ujung jari dingin, produksi urin minimal). Dari awal serangan hingga diagnosis ditegakkan memerlukan waktu hanya 1 minggu.

Berbeda halnya dengan pasien yang mengalami serangan sub akut atau kronik. Gejala yang muncul tidak khas, demamnya juga tidak tinggi (hanya sub febris = semlenget : Jawa). Gejala yang muncul pun tidak cepat memburuk. Pada serangan sub akut atau kronik ini, awal munculnya penyakit hingga diagnosis ditegakkan bisa sampai 1 bulan atau lebih.

Ekokardiografi

Pemeriksaan ekokardiografi pada Infeksi katup jantung dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, Ekokardiografi transtorakal (TTE: Trans Thoracal Echocardiography) dan kedua, Ekokardiografi Transesofageal (TEE: Trans Esophageal Echocardiography).

Ada tiga hal yang dapat terlihat pada pemeriksaan ekokardiografi. Yaitu: vegetasi (penumpukan sel akibat infeksi kuman di daerah katup jantung), abses (kumpulan nanah) atau perubahan pada katup. Apabila dari ekokardiografi tidak terlihat salah satu dari tiga hal tersebut maka pemeriksaan ekokardiografi harus diulang 7-10 hari kemudian. Tentu saja hal ini dilakukan kalau secara klinis dokter menduga adanya infeksi katup jantung.

Jika sudah mendapatkan pengobatan, maka ekokardiografi tetap diperlukan untuk memantau keberhasilan terapi dan melihat munculnya komplikasi.

Mengenai hasil kultur darah yang dilakukan oleh laboratorium Mikrobiologi, jika hasilnya positif maka diagnosis infeksi katup jantung lebih mudah ditegakkan. Pengambilan kultur darah dilakukan dengan cara mengambil darah vena (pembuluh darah balik) pasien sebanyak 10 cc dan dilakukan pengambilan 3 kali.

Penanganan

Tujuan penanganan infeksi katup jantung adalah menghilangkan infeksi dari trombus (sumbatan akibat gumpalan darah) dan mengatasi infeksi pada katup yang terkena. Caranya dengan pemberian antibiotik yang pas. Sebab, pemberian antibiotik sebetulnya merupakan tindakan pengobatan yang paling utama.

Pemilihan antibiotik tentu tergantung kuman penyebabnya. Bisa menggunakan benzilpenisilin, flukloksasilin, atau ampicilin dan gentamicin yang diberikan lewat suntikan langsung ke pembuluh darah vena (intravena). Antibiotik ini diberikan berturut-turut selama 4 minggu dan diikuti pemberian melalui mulut (peroral) selama 4 minggu berikutnya.

Sebagian infeksi katup jantung akan menimbulkan komplikasi berupa gagal jantung atau payah jantung. Pasien yang mengalami payah jantung akan mengeluh sesak nafas. Hanya untuk aktivitas ringan (jalan kaki dalam beberapa meter) sudah merasa sesak. Tungkai bawah bengkak, perut membuncit, urat nadi di leher tampak bendungan.

Seandainya terjadi komplikasi berupa Gagal jantung (payah jantung), maka tetap dapat diatasi dengan pengobatan standar. Namun jika keadaan berkembang menjadi progresif, maka langkah yang paling tepat adalah dilakukan pembedahan.

Tindakan pembedahan ini kadang diperlukan pada 15-25% pasien infeksi katup jantung. Hal ini dimaksudkan untuk membuang materi yang terinfeksi maupun drainase abses (dibuatkan selang untuk pengeluaran nanah). Pembedahan dibedakan menjadi dua: emergensi (harus segera dikerjakan dalam waktu 24 jam) dan urgensi (bisa dikerjakan dalam beberapa hari).

Jadi, tindakan pembedahan dilakukan apabila didapatkan gagal jantung (payah jantung) yang tidak dapat dikendalikan obat-obatan standar, atau serangan infeksi yang susah terkendali, dan untuk pencegahan kejadian emboli (gumpalan di aliran darah yang menyebabkan pasien sesak napas kemudian meninggal mendadak).  Pada kasus tertentu tindakan pembedahan dapat ditunda sampai setelah pemberian antibiotik 1-2 minggu.

Emboli (gumpalan di aliran darah yang menyebabkan pasien sesak nafas kemudian meninggal mendadak) dapat terjadi pada infeksi katup jantung dan dipengaruhi oleh ukuran dan mobilitas vegetasi ((penumpukan sel akibat infeksi kuman di daerah katup jantung).

Risiko terjadi emboli jantung makin besar apabila ukuran vegetasi yang besar (lebih10) dan amat mobile. (11)


- Dr Muchlis AU Sofro, SpPD KPTI, staf pengajar FK Undip, RSUP Dr Kariadi Semarang.

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER