
BAGI sebagian masyarakat Pati yang bermukim di dekat alur Sungai Juwana, banjir merupakan bencana yang rutin terjadi setiap musim hujan. Sebelum banjir menyentuh permukiman warga, areal pertanian menjadi sasaran awal air luapan sungai besar yang membelah wilayah Kabupaten Pati itu.
Praktis aktivitas pertanian di daerah rawan banjir lumpuh. Padi yang menjadi komoditas utama dibudidayakan nyaris tidak bisa dipanen. Padahal, mayoritas warga yang berdiam di sana secara turun temurun menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian.
Kendati telah terbiasa, banjir yang biasa melanda antara Desember, Januari, dan Februari cukup merepotkan mereka. Bukan hanya kesulitan untuk beraktivitas keluar kampungnya, mayoritas warga yang bertahan di rumahnya juga ketar ketir dengan stok bahan pangan (beras).
Sebagian warga yang desanya selalu kebanjiran berupaya menghemat pengeluaran ketika banjir tahunan melanda permukimannya. Dengan memanfaatkan keahliannya bertani, mereka menjajal pola pertanian vertikultura.
Vertikultura diambil dari istilah verticulture dalam bahasa lnggris (vertical dan culture), artinya sistem budi daya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Dikenal juga dengan istilah tanaman berjenjang.
Media yang digunakan bisa dari berbagai macam, termasuk bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumahnya, seperti bambu, paralon bekas, karung plastik, polybag, karpet talang atau lainnya. Jenis tanaman yang bisa dikembangkan dalam pola bercocok tanam ini idealnya tanaman berakar pendek, seperti selada, kangkung, bayam, sawi, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun, ataupun bunga-bungaan.
Tanaman bisa ditanam bertingkat dengan satu media tabung berdiameter 15 sentimeter hingga 30 sentimeter. Adapun tingginya bisa mencapai 110 sentimeter atau bergantung pada bahan dasar tabung yang digunakan. Semakin kuat bahannya maka bisa semakin tinggi tabungnya. Dalam setiap tabung bisa ditanami satu jenis tanaman atau lebih.
Model lainnya, seperti tanaman dengan pot memanjang yang disusun di rak kayu atau besi juga bisa dijadikan pilihan. Hanya saja, desain demikian relatif ribet lantaran harus menyiapkan rancangan rak.
Irit Belanja
Adalah Nyami (40), warga Desa Babalan, Kecamatan Gabus yang hampir setahun mengembangkan pola pertanian alternatif ini. ”Tidak usah susah-susah belanja sayur dan lalapan kalau banjir. Irit pengeluaran apalagi saat banjir seperti. Yang penting bisa tetap makan bergizi dan tidak keluar biaya,” ujar ibu dengan tiga anak yang mengaku, setiap tahun selalu menjadi korban banjir.
Daerah banjir lainnya, Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati juga mulai banyak ditemukan pembudidayaan tanaman dengan sistem vertikal. Endang (43), salah satu dari mereka mengaku, telah merasakan hasil dari menanam seperti itu.
Ibu-ibu di Desa Gadingrejo, Kecamatan Juwana juga telah mengembangkan pola pertanian vertikultura melalui Kelompok Srikandi. Mereka tidak lagi bersusah payah mendapatkan sayuran saat banjir menggenangi kampungnya seperti saat ini.
”Selain sehat, hasil dari tanaman dengan sistem vertikultur cukup membantu kami saat banjir seperti ini,” ujar seorang anggota Kelompok Srikandi Leles (32).(M Noor Efendi-42)
(/)