
DARI waktu ke waktu, para pakar ban selalu berpikir bagaimana mendisain ban yang sempurna. Sejak ditemukannya ban pertama kali oleh Robert William Thomson dan John Boyd Dunlop, dunia transportasi darat berkembang pesat. Thomson adalah seorang insinyur Inggris yang berhasil mengubah ''ban mati'' di sekeliling pelek kendaraan menjadi ''ban hidup'' alias berongga udara yang dipatenkan pada tahun 1845.
Karya Thomson kemudian dikembangkan Dunlop, seorang dokter hewan asal Belfast, Irlandia yang dikenal sebagai ''bapak ban'' dunia. Jika Thomnson menggunakan kulit binatang sebagai bahan dasarnya, Dunlop menggantinya dengan karet. Penemuan ini dipatenkannya pada 1870 dan akhirnya menjadi cikal-bakal roda kendaraan masa kini.
Tokoh lain yang turut menyempurnakan teknologi ban adalah Charles Kingston Welch (penemu ban dalam) dan William Erskine Bartlett (penemu ban luar).
Ban merupakan piranti penting dari kendaraan darat. Selain untuk menutupi pelek suatu roda, ban juga berfungsi untuk mengurangi getaran saat kendaraan berjalan, melindungi roda dari aus, memberikan kestabilan antara kendaraan dan tanah dan memudahkan pergerakan.
Ban berangsur menjadi bagian dari budaya dan teknologi. Orang mulai berinovasi, baik dari segi teknik pembuatan maupun pemakaian materi dasarnya. Berbagai jenis ban diproduksi, jumlahnya diperkirakan mencapai 3.500 macam, mulai ban luar yang mengharuskan pemakaian ban dalam, hingga jenis tubeless alias tanpa ban dalam.
Sebagian besar ban yang ada sekarang diproduksi dari karet sintetik. Pada tahun 1839, Charles Goodyear menemukan teknik vulkanisasi karet. Vulkanisasi berasal dari kata ''Vulkan'' yang merupakan dewa api dalam agama orang Romawi. Untuk menghargai jasanya, nama Goodyear pun diabadikan sebagai nama perusahaan karet terkenal di Amerika Serikat yaitu Goodyear Tire and Rubber Company yang didirikan oleh Frank Seiberling pada 1898.
Ban dengan struktur bias adalah yang paling banyak dipakai. Dibuat dari banyak lembar cord yang digunakan sebagai rangka dari ban. Cord ditenun dengan cara zig-zag membentuk sudut 40 sampai 65 derajat terhadap keliling lingkaran ban. Adapun ban radial, konstruksi carcass cord membentuk sudut 90 derajat terhadap keliling lingkaran ban.
Sementara ban tubeless yang diciptakan sekitar tahun 1990 dirancang tanpa menggunakan ban dalam.
Tanpa Udara
Kini teknologi ban berkembang lebih jauh. Beberapa waktu lalu produsen ban terbesar di dunia, Bridgestone, memperkenalkan ban anti kempes dalam pameran otomotif di Tokyo Motor Show 2011. Teknologi terbaru itu memiliki struktur unik yang berbeda dari ban konvensional. Seluruh bahan untuk pembuatan ban tersebut dapat didaur ulang. Konsep ban ini berhasil melewati ujian pada sebuah kendaraan di Jepang, yang digunakan bagi manula.
Pada bagian dalam roda-roda 9 inci dibekali jari-jari terbuat dari thermoplastic-resin. Jari-jari itu didesain menyebar ke seluruh bagian tapak ban. Bridgestone sengaja membuat ban berdesain solid, agar tidak membutuhkan udara dan mencegah bocor.
Antara telapak dan bibir yang menempel pada pelek, lapisan dinding penghubungnya menggunakan model jari-jari yang membentuk sudut 45 derajat. Dinding yang terbuat dari termoplastik-resin inilah yang disebut sangat ramah lingkungan.
Karena tak ada angin pada ban jenis ini, maka tak perlu takut ban bocor. Selain itu, tak perlu mengecek tekanan ban secara berkala yang berarti ban jenis ini lebih efektif dalam perawatan. Namun demikian, Bridgestone masih terus melakukan evaluasi terhadap kinerja ban tersebut, sebelum produksi massal ke pasar.
Teknologi ban tanpa angin ini bukanlah yang pertama kali. Pada 2006 ban tanpa udara juga pernah dibuat Michelin Tweel dan berhasil memenangi penghargaan medali emas Intermat untuk kategori inovasi.
Dengan penemuan baru ini, kelak para pemilik kendaraan tak pelu mengkhawatirkan ban bocor atau kempes yang sering menyusahkan.
Namun demikian, inovasi ini bukan tanpa risiko. Barangkali, pihak yang pertama kali menerima dampaknya adalah para pemilik jasa pompa dan tambal ban. (Kawe Shamudra-24)
(/)