panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
14 Januari 2012
DEBAT - Aksi Sondang Hutagalung
Kebenaran Tanpa Kekerasan
  • Hesti Ariyani Mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
AKSI yang terjadi baru - baru ini membuka mata dan pikiran khalayak masyarakat untuk kembali merefleksikan aksi tersebut. Aksi merupakan buah pemikiran yang direalisasikan. Meski demikian, saat ini aksi lebih dikerucutkan sebagai tindakan anarkis. Lebih dari itu, perlu diidentifikasi apa sebenarnya filosofi dari aksi tersebut. Kebenaran menjadi tujuan utama sebuah aksi, ini juga yang telah dilakukan Sondang Hutagalung setelah aksi bakar dirinya. Perlu ditelusuri aksi bakar diri tersebut, suatu pilihan untuk menjawab suatu kebenaran.

Tidak luput dari mata masyarakat dan sama halnya dengan aksi Sondang, berkilas balik pada 22 Februari 1966, Presiden Soekarno bermaksud melantik kabinet baru yang di kalangan mahasiswa dikenal sebagai Kabinet Semen, akronim dari ”Kabinet Seratus Menteri”. Kabinet yang nama resminya disebut sebagai ”Kabinet Gotong-royong” itu ditolak kehadirannya oleh mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat lain. Salah satu upaya penolakan itu berupa unjuk rasa pada hari itu. Aksi tersebut menggugurkan seorang mahasiswa dari FK UI, Arif Rahman Hakim. Saat itu mahasiswa menyuarakan aspirasinya, meskipun menjatuhkan korban. Meskipun demikian, Arif Rahman Hakim yang meninggal itu adalah pilihan yang tidak bisa dihindari demi memperjuangkan kebenaran.

Hal yang sama terjadi pada diri Soe Hok Gie, seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi ingin mencanangkan kebenaran. Pemikiran dan sepak terjang Soe Hok Gie tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Bersama Mapala UI, Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676 m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: ”Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Kematian Soe Hok Gie pun serupa dengan Arif Rahman Hakim, mereka tidak mempunyai pilihan lain selain kematian itu. Hal ini sesuai dengan pemikiran tokoh tanpa kekerasan Mahatma Gandhi. Gandhi meyakini bahwa semangat tanpa kekerasan harus menjadi fondasi perjuangan damai. Dia tidak hanya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan India tetapi juga bagaimana menyelesaikan masalah yang dialami oleh masyarakat umum, bagaimana mengurangi kemiskinan.

Aksi Sondang adalah hal serupa dengan Arif Rahman Hakim dan Soe Hok Gie. Jika dikaitkan dengan pemikiran tokoh tanpa kekerasan Mahatma Gandhi menjadi suatu pembulatan pemikiran. Sebuah pemikiran di mana bermuara pada satu tujuan, yakni kebenaran. Kebenaran yang harus ditegakkan tanpa adanya suatu kekerasan, sehingga mewujudkan suatu keadilan yang menyeluruh bagi semua elemen masyarakat. (24) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER