BUDAYA akademik kampus memprihatinkan. Begitu tajuk Suara Merdeka (3/1). Menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof Dr Komarudin Hidayat, pragmatisme politik praktis merusak budaya akademik kampus.
Akademisi meninggalkan budaya mendidik dan meneliti. Dan ”mengamenkan” kapasitas intelektualnya. Mereka memilih memenuhi hasrat material politik. Para intelektual kampus ”mendua” dengan jabatan politik dan staf ahli tokoh politik.
Mereka menjadi ghost writer para tokoh politik. Menggadaikan kapasitas intelektual demi memenuhi hasrat rendah politisi meraih kekuasaan. Kala dalam kubangan politik, mereka gagal memberi penyegaran dalam kumuhnya budaya politik.
Alih-alih melayani kepentingan rakyat, mereka memilih melayani kepentingan penguasa yang menjadi tuannya. Para intelektual-politisi menjadi pembenar ilmiah ke(tidak)bijakan yang menindas rakyat.
Mereka mendua dalam dua dunia berbeda. Dunia politik dan ntelektual menjadi abu-abu, karena ulah intelektual-politisi yang tidak jelas memposisikan diri. Mereka ndakik-ndakik berwacana tentang etika politik dan kekuasaan. Namun, menjadi konsultan atau pemain di pilkada dan arena politik lainnya. Hal itu terjadi karena budaya akademik kampus telah mati. Kampus menjadi tempat tumbuh kembangnya budaya komoditas yang remeh-temeh dan tak esensial.
Dalam The Culture Of Industry (1991) Theodor Adorno mengatakan, budaya komoditas menghasilkan wujud budaya yang dangkal. Sifatnya pun hanya materi di permukaan. Di dalamnya lebih mementingkan daya tarik, keterpesonaan yang bersifat temporer.
Hasrat Rendah
Budaya ini untuk memenuhi ”hasrat rendah” manusia. Termasuk, hasrat sebagian akademisi menikmati ñminimal menjadi bagian dariñ kue kekuasaan. Dengan meninggalkan tradisi mendidik dan meneliti.
Tradisi akademik kampus roboh karena ulah manusia kampus (rektor, dosen, dan mahasiswa). Mereka menjadi bintang iklan yang membayar ñbukan dibayarñ produk-produk yang menunjang hedonisme. Sekarang ini, kampus ibarat etalase toko yang memajang barang keluaran terbaru. Mobil, motor, handphone, laptop, dan fashion terbaru lebih menonjol. Daripada ide ataupun gagasan kreatif manusia kampus.
Akibatnya, kampus sepi ñbahkan keringñ dari pemikiran dan tindakan kritis penghuninya. Manusia kampus menjadi penikmat (gaya, pengetahuan, teori) ketimbang menciptakannya.
Mereka menjadi manusia homo fatalis. Manusia yang terlena dan terhanyut di dalam logikanya sendiri. Mereka menyerap apa saja yang disodorkan ke hadapannya. Tanpa mampu menginternalisasi, mengkritisi, dan memaknainya secara jernih dan bermakna.
Penunjuk Arah
Padahal, masyarakat dan bangsa menunggu karya manusia kampus. Sebagai bagian kaum cendekiawan, mereka memiliki dua tugas. Pertama, menanggapi tanda-tanda perubahan zaman dengan pemikiran dan tindakan kontributif.
Kedua, sebagai penunjuk arah dan pelopor kemajuan bangsa. Peran ini menuntut cendekiawan kampus menjadi seorang intelektual organik.
Dalam konteks Indonesia, saat ini, kaum intelektual yang mempelopori perubahan misalnya, Anies Baswedan dan Rhenald Kasali. Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina menggagas dan mempelopori Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan yang bertujuan mendekatkan murid-murid dan orang tua di pelosok negeri dengan pusat kemajuan.
Anies mengajak sarjana terbaik Indonesia dan meminta mereka mengajar (setahun), mendidik, menginspirasi, dan membangun harapan anak-anak bangsa di desa-desa terpencil di ujung negeri. Menginspirasi mereka yang belum tersentuh kemajuan di negeri sendiri.
Sementara Rhenald Kasali, akademisi Universitas Indonesia lulusan Illinois, USA mempelopori Rumah Perubahan. Mengajak masyarakat melakukan perubahan-perubahan kecil demi kemajuan dan kemandirian bangsa. Rhenald membimbing, menguatkan, dan memberdayakan masyarakat di lingkungannya, sehingga mereka merasakan tetesan ilmu pengetahuan dan kecendekiawanan akademisi UI ini.
Inilah kiranya semangat yang perlu ditumbuhkan kalangan akademik kampus. Berkarya melayani kepentingan rakyat, bukan sekadar memenuhi hasrat pragmatisme politik rendah demi melayani kepentingan penguasa.
Rakyat menunggu karya akademik manusia kampus. Agar mereka semakin dekat dengan kemajuan.(24)
—Bonnie Eko Bani, mantan aktivis (BEM & IMM) UMS, pegiat FOKAL IMM, Solo
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad