WAJAH suatu bangsa dapat dipotret dari penelitian yang dihasilkan. Artinya, hasil penelitian dapat menjadi tolok ukur menilai sebuah bangsa. Semakin banyak suatu bangsa menghasilkan karya lewat kegiatan penelitian, maka bangsa itu semakin dihargai dan dihormati negara lain. Sebaliknya, bagi bangsa yang hasil penelitian mereka rendah, maka negara lain menilai bangsa itu minim prestasi, kualitas sumber daya manusia (SDM) rendah, dan bahkan stereotip negatif lainnya akan disematkan pada bangsa itu.
Bagaimana hasil penelitian di Indonesia? Memuaskan, cukup, standar atau justru di bawah rata-rata? Hasil penelitian di negeri ini sesungguhnya masih jauh dari harapan atau capaian ideal. Paling tidak fenomena itu dapat kita lihat dari perbincangan kekinian seputar (hasil) penelitian.
Tanpa menafikan hasil penelitian sebelumnya, tapi yang jelas masalah penelitian saat ini diresahkan banyak pihak. Perbincangan mengenai problem penelitian di republik ini masih berkutat pada persoalan klise yang belum tuntas. Biasanya peneliti dihadapkan pada problem krusial: mulai dari sebelum hingga sesudah penelitian.
Sebelum melakukan penelitian, peneliti kerap dibenturkan dengan pelbagai kenyataan miris. Soal penentuan apa yang ingin diteliti/topik menarik bahan penelitian, penulis yakin negeri ini mempunyai banyak ilmuan pintar dari berbagai perguruan tinggi. Namun, masalahnya bukan itu. Sudah bukan rahasia umum, persoalan peran serta negara yang minim dalam hal pendanaan penelitian serta birokrasi-administrasi bersifat kaku merupakan tantangan krusial dihadapi peneliti ketika akan melakukan penelitian.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suryo Hapsoro Tri Utomo mengatakan, pada tahun 2011 saja dana untuk riset hanya berjumlah Rp 435 miliar. Angka ini turun dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2010 dana riset mencapai Rp 453 miliar. Dan tahun sebelumnya (2009), anggaran riset mencapai angka Rp 1,2 triliun. Itu artinya dalam tiga tahun terakhir anggaran penelitian dari negara turun.
Selain persoalan anggaran yang minim dari pemerintah, mengenai aturan birokrasi kaku yang diterapkan pada peneliti juga menjadi persoalan yang menambah tumpukan beban penelitian. Dalam surat kabar nasional, Tri Ratnawati, seorang peneliti dari LIPI membuat artikel berjudul ”Catatan Seorang Peneliti”, Selasa, 1 November 2011. Melalui tulisannya itu, sang peneliti mengkritik administrasi negara begitu kaku diberlakukan pada peneliti.
Misalnya semua pengeluaran ketika berada di lapangan harus ada tanda bukti yang sudah ditentukan persyaratannya oleh pemerintah, seperti SIM atau KTP sopir yang disewa saat berada di lapangan. Hal sama terjadi dengan penginapan peneliti. Mengenai tempat tinggal peneliti, pemerintah menentukkan hotel yang telah ditentukkan kelasnya. Padahal, idealnya peneliti ketika di lapangan tidur di rumah penduduk agar data yang didapat lebih mudah dan banyak sehingga kualitas penelitian meningkat.
Implikasi Hasil
Problem penelitian di atas berdampak signifikan terhadap hasil penelitian. Implikasi serius bertumpu pada dua hal, yakni soal kuantitas dan kualitas. Berapa banyak hasil penelitian yang dapat dibuat di tengah problem signifikan peneliti (baca: dana dan administrasi). Lebih jauh, seberapa berkualitas penelitian dihasilkan. Apakah hasil penelitian itu berguna bagi kemajuan negara, masyarakat, dan sudah pasti untuk kemanusian. Atau sebaliknya, penelitian itu tak berguna sama sekali hanya menambah portofolio hasil penelitian di negeri ini yang kurang bermanfaat.
Seputar itulah sesungguhnya jika berbicara hasil penelitian. Bukan penelitian yang hanya mengejar dana penelitian/proyek sehingga penelitian sekadar menggugurkan kewajiban. Tetapi, diharapkan masyarakat luas yakni hasil penelitian yang dapat membawa perubahan bagi suatu bangsa dan dirasakan positif untuk kemanusian.
Pertanyaannya, apakah hasil penelitian ilmuan di republik ini sudah sesuai dengan yang diharapkan? Itulah problemnya. Dari data yang dihimpun lembaga ilmiah Science Direct Elsevier Belanda pada 2007 dan data ini belum menunjukkan perubahan signifikan sampai saat ini, dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara tetangga mengenai publikasi hasil penelitian. Tercatat, Indonesia hanya mampu mempublikasikan 900 artikel ilmiah. Sementara, Singapura mencapai 3.500 artikel dan Thailand 5.500 artikel.
Tertinggalnya hasil penelitian kita dari negara tetangga bukan karena faktor peneliti. Seperti penulis katakan sebelumnya, orang pintar di negeri berpenduduk 240 juta jiwa terlampau banyak. Hanya saja, bukan maksud melempar tanggung jawab, tapi daya dukung negara/pemerintah terhadap penelitian masih sangat lemah, dari persoalan anggaran, birokrasi yang njilimet, dan sebagainya.
Benang kusut penelitian itu mesti dapat diurai. Dalam pengertian lain, solusi yang lebih solutif ditawarkan agar problem penelitian di atas dapat dipecahkan. (24)
—Andi Andrianto,
pembina Lembaga Pers Mahasiswa RHETOR UIN Suka Yogyakarta
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad