
DIABETES mellitus disebabkan oleh tidak dihasilkannya hormon insulin oleh tubuh untuk mengubah gula darah menjadi glikogen. Akibatnya, penderita diabetes (diabetisi) tidak dapat mengontrol gula darahnya dengan baik secara otomatis.
Karena itu, penderita disarankan untuk mengonsumsi makanan yang tidak seketika meningkatkan kadar gula darah, semisal makanan berkarbohidrat tinggi atau makanan manis yang memiliki kandungan tinggi gula (sukrosa).
Hasil penelitian konsultan diabetik dan metabolik endokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sidartawan Soegondo, menyebutkan tahun 2000 jumlah penderita diabetes 8,4 juta orang dan 2030 jumlah penderita di Indonesia diperkirakan 21,3 juta.
Data itu menunjukkan Indonesia merupakan negara ke-4 terbesar jumlah penderitanya setelah China, India, dan AS.
Kementerian Kesehatan menyebut, prevalensi penyakit itu mencapai 14,7% di perkotaan dan 7,2% di pedesaan. Dari data penduduk berusia di atas 20 tahun pada 2010 yang mencapai 148 juta jiwa, diperkirakan ada 21,8 juta warga kota dan 10,7 juta warga desa menderita diabetes. Padahal tak mudah bagi kita menghindari makanan atau minuman manis, terlebih bagi yang terbiasa mengonsumsi.
Namun dewasa ini banyak diciptakan pemanis buatan, yang mampu memberikan rasa manis tapi tidak atau hanya sedikit memiliki nilai kalori. Salah satunya, serta paling populer dan menuai kontroversi adalah aspartam (L-aspartyl-L-phenylalanine methylester) yang memiliki tingkat kemanisan 160-200 kali dibandingkan dengan tingkat kemanisan sukrosa atau gula pasir.
Artinya jika kita menambahkan 2 sendok makan (40 gr) gula pasir supaya minuman terasa manis, untuk aspartam cukup 0,25 gr saja, serta tidak menghasilkan kalori tinggi dan tidak meningkatkan gula darah.
Ketika dicerna aspartam terpecah jadi tiga komponen, yaitu asam aspartat, fenilalanin, dan sejumlah kecil metanol yang kemudian diserap ke dalam darah untuk pembentukan energi tubuh.
Aman Dikonsumsi
Penelitian di Itamy City Hospital, Jepang, membuktikan bahwa aspartam tidak meningkatkan gula darah pada pasien diabetes. Mengenai keamanan penggunaannya, lebih dari 90 negara mengizinkannya sebagai pemanis buatan.
Sesuai rekomendasi Codex (lembaga yang mengatur obat dan makanan di Amerika) aturan pemakaiannya 50 mg/ kg berat badan. Artinya, jika berat kita 50 kg maka hanya boleh mengonsumsi maksimal 2.500 mg (25 gr) sehari.
Jumlah itu sangat banyak bahkan tidak mungkin seseorang mengonsumsi lebih dari takaran itu mengingat dengan 0,25 gr aspartam saja sudah terasa manis
Meskipun dinyatakan aman oleh BPOM dan Food and Drug Administration (FDA, badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat) serta sejumlah lembaga kesehatan dunia lainnya, saat ini banyak berita buruk tentang bahaya aspartam, tersebar melalui BBM, SMS, email, ataupun internet. Isu itu antara lain aspartam dapat menyebabkan tumor otak dan kanker.
Faktanya, menurut FDA dan National Cancer Institute (Amerika) bahwa sebelum FDA mengesahkan aspartam aman dikonsumsi pada 1981, telah dilakukan penelitian mengenai pemberian bahan itu pada tikus dengan dosis setara 1.000 kali pada minuman ringan untuk manusia. Hasil penelitian itu tidak menemukan adanya sel kanker atau tumor otak pada tikus yang dijadikan binatang percobaan. Dalam beberapa hoax (lebih ''jelek'' dari spam pada email, yakni usaha memperdaya pembaca untuk memercayai kabar bohong sebagai fakta-Red), aspartam dihubungkan sebagai penyebab penyakit lupus, parkinson, dan alzheimer. Namun hal ini dibantah oleh The National Parkinson Foundation dan The Alzheimers Association.(12)
— Desy Ayu dan Annisa Kharunia, Dept Ilmu dan Teknologi Pangan IPB