panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
04 Januari 2012
Melawan Budaya Konsumtif
  • Oleh Gery Sulaksono
SUASANA pergantian tahun menjadi sebuah stimulus tersendiri untuk berkonsumsi. Betapa tidak, berbagai diskon dari berbagai produk, dan tarif khusus akhir tahun ditawarkan di berbagai pertokoan, hotel, mal, tempat wisata, dan ruang-ruang publik lainnya. Ini membuktikan bahwa berkonsumsi telah menjadi ideologi yang lekat dengan masyarakat Indonesia.

Berkonsumsi tentu merupakan proses yang netral dan tak bisa dihindari, namun apabila dilakukan secara berlebihan akan melahirkan gaya hidup konsumtif. Menurut Prehati (2003), konsumtivisme adalah berkonsumsi dengan tidak lagi atas pilihan yang rasional berdasarkan kebutuhan, tetapi lebih memperturutkan keinginannya. Lebih jauh, dalam budaya konsumtif terjadi kerancuan-kerancuan mengenai apa yang benar-benar diperlukan dan mana yang sekadar kebutuhan semu.

Meskipun konsumtivisme dapat menjangkit siapa pun (baik perempuan maupun laki-laki), seolah telah tertanam citra dalam masyarakat bahwa perempuan selama ini  sangat lekat dengan budaya konsumtif. Ada beberapa alasan perempuan lekat dengan pola hidup konsumtif. Pertama, konstruksi sosial menempatkan perempuan harus selalu berpenampilan cantik dan menarik.

Maka itu banyak produk yang dibutuhkan, seperti kosmetik, lotion, fashion, ke salon, spa, dan lain-lain, sehingga meskipun konsumtif bukan sesuatu yang taken for granted (sifat kodrati) pada perempuan, tuntutan sosial tersebut menggiring perempuan menjadi cenderung konsumtif. Kedua, banyak produk yang ditawarkan pada perempuan. Ini karena perempuan adalah kelompok konsumen yang terbesar, sehingga menjadi potensi pasar yang menguntungkan bagi industri kapitalis.

Seiring berkembangnya gaya hidup, fenomena konsumtif justru banyak yang dilakukan secara sadar. Hal ini dalam rangka untuk memperoleh suatu penilaian (prestise) mengenai identitas sosial di hadapan orang lain atau lingkungannya. Prinsipnya, ‘’kamu bergaya maka kamu ada’’ ungkapan David Chaney dalam buku Lifestyle Ectasy. Namun apabila ditinjau lebih jauh, banyak sisi negatif yang dimunculkan dari budaya konsumtif, seperti kehancuran lingkungan, polusi dan limbah sampah, kemacetan lalu lintas, terlilit utang, kepunahan satwa langka karena diburu untuk bahan aksesori, memepercepat persediaan sumber daya alam (SDA) dan mendorong terjadinya tindak KKN. Peran perempuan menjadi penting, karena di tangan perempuanlah seharusnya penggelolaan keuangan keluarga bertumpu.

Melawan Budaya Konsumerisme tif

Apabila budaya konsumtif merupakan penyakit kecanduan belanja, lain halnya dengan konsumerisme. Dalam Kamus Bahasa Inggris-Indonesia Kontemporer (Peter Salim, 1996), arti konsumerisme (consumerism) adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya. Selain itu, konsumerisme memberi refleksi dan pemikiran pada setiap orang tentang apa dan seberapa berpengaruh barang yang telah mereka beli terhadap lingkungan dan kehidupan pada umumnya. Hal ini diharapkan akan memberi perubahan paradigma untuk berpikir kritis terhadap apa-apa yang kita beli.

Guna melawan fenomena konsumtif tersebut, telah diciptakan sebuah peringatan yang disebut Hari Tanpa Belanja (Buy Nothing Day). Ide ini dicetuskan oleh seorang seniman yang berasal dari Vancouver Kanada, Ted Dave. Garis besar gagasan ini adalah mengajak orang-orang di seluruh dunia untuk tidak melakukan aktivitas belanja selama 24 jam (sehari). Kemudian disusul dengan aksi kampanye yang menyerukan bahaya konsumtif kepada publik.

Meskipun Buy Nothing Day diperingati setiap tanggal 26 November (minggu terakhir bulan November), namun pantas kiranya setiap orang memperhatikan pesan dari gerakan ini. Peringatan ini sebenarnya bisa diadaptasi secara kreatif, misalnya Buy Nothing Day dapat diperluas menjadi Buy Nothing Week (Minggu Tanpa Belanja), sehingga seseorang tidak akan berbelanja secara berlebihan selama satu minggu (7 hari).

Perlu dipahami bahwa meskipun proses membeli seolah-olah adalah proses yang netral, namun pada dasarnya hal ini terjadi karena adanya manipulasi kebutuhan, sehingga wilayah kebutuhan dan keinginan menjadi samar atau kabur. Keinginan untuk menjadi berbeda memicu terjadinya kegiatan ekonomi yang berbasis pada konsumsi, sehingga manusia lebih memilih untuk mengonsumsi tanda (sign value) daripada melihat kegunaan objek itu sendiri. Suguhan industri kapitalis tersebut terus-menerus berkembang karena didukung oleh media.

Maka itu, perempuan dan masyarakat pada umumnya hendaknya bisa lebik bijaksana menguraikan kebutuhannya dengan seksama, seperti kebutuhan mendesak, kebutuhan yang dapat ditinggalkan, primer, sekunder, atau tersier. Sikap ini diharapkan akan memperkecil dampak kerusakan lingkungan dan dampak negatif lainnya yang diakibatkan dari perilaku konsumtif. (24)

—Gery Sulaksono SSos, alumnus Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, peminat kajian post-feminsime. (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER