panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
31 Desember 2011
Karya Seni Kota Semarang
  • Oleh Eko Budihardjo
SEBAGAI satu-satunya kota raya atau metropolis di Jawa Tengah, Semarang berkembang cukup pesat. Pembenahan dalam berbagai bidang sudah dilakukan. Aneka penghargaan telah diterima. Namun masih banyak yang perlu dikerjakan pada tahun-tahun mendatang.

Saya mencoba mengungkapkannya dari apa yang selama ini saya amati sebagai arsitek dan perencana kota yang lebih menekankan pada aspek fisik dan visual.
Sudah sejak lebih dari satu abad silam, William Moris (1834-1896) menyatakan bahwa kota merupakan karya seni sosial yang menyuguhkan aneka bentuk keindahan. Dia bilang,” A city is a part of a great system invented for the expression of a manís delight in beauty.” (The Lesser Arts, 1878).

Bangunan dan lingkungan kuno bersejarah seperti Lawang Sewu dan Kota Lama di Semarang (yang sering saya istilahkan Little Netherlands), merupakan karya seni indah. Beberapa waktu belakangan ini kita amati gedung Lawang Sewu dibenahi secara profesional, sering digunakan untuk pergelaran seni, pameran, dan kegiatan lainnya.

Kawasan Kota Lama dengan koleksi gedung kuno, seperti Gereja Blenduk, Jiwasraya, Stasiun Tawang, Marba, dan lain-lain juga bersolek. Kehadiran Semarang Gallery dan Rumah Makan Ikan Bakar Cianjur yang memanfaatkan gedung kuno yang mangkrak ikut menghidupkan suasana. Revitalisasi kawasan kuno Belanda Kecil dengan prinsip adaptive reuse seperti diterapkan pada dua bangunan itu menjadi contoh baik untuk dikembangkan.

Memang masih ada masalah dengan rob dan banjir. Namun dengan dimulainya pembangunan Waduk Jatibarang, polder di Kalibanger, dan normalisasi Kaligarang diharapkan dalam waktu dekat banjir dapat diatasi. Sangat diharapkan pula peran masyarakat menanggulangi rob dan banjir lewat pembuatan sumur resapan, biopori, pelestarian ruang terbuka hijau (RTH) privat ataupun publik.

Pejabat kota yang diberi amanah warga membangun kota yang berwawasan lingkungan, berbudaya, dan manusiawi, wajib berupaya keras menjamin terlaksananya rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang sudah ditetapkan. Kita menyimak mekanisme development control di Semarang agak lemah.

Urban Art

Tatkala ke Madrid, Barcelona, dan Bilbao di Spanyol, saya mengamati beberapa hal menarik. Di Madrid, bangunan-bangunan kuno bersejarah yang terlantar (idle), tidak berfungsi, ditanggulangi dengan tema urban art. Fasade atau wajah depan bangunan tua itu dilukis dengan lukisan menarik oleh seniman-seniman lokal kota Madrid. Keindahan lukisan menutupi wajah bopeng dari bangunan kuno itu. Strategi mengubah kekumuhan kawasan kuno menjadi karya seni perkotaan kiranya layak diterapkan di Kota Lama Semarang.

Di Barcelona, yang terkenal dengan pasukan sepak bola La Barca-nya, stadion dan kawasan di sekitarnya ditata rapi menjadi objek wisata menarik. Di kawasan olah raga tersebut bahkan dibangun museum yang menyuguhkan sejarah dan prestasi La Barca dalam percaturan sepak bola internasional. Berbagai suvenir seperti kaos, topi, selempang, bola, dengan logo La Barca sangat laris.

Di kota Bilbao, karya seni perkotaan yang paling menonjol adalah Guggenheim Museum ciptaan Frank Gehry, arsitek kelas dunia Amerika Serikat. Barangkali karena pengaruh dari Antoni Gaudi arsitek asli Spanyol yang suka meniru bentuk alam, Guggenheim Museum dirancang dengan bentuk serbalengkung, melingkar, tak ada satupun yang lurus, kaku, kotak. Sangat indah, menawan, baik eksterior maupun interiornya.

Semarang memiliki kompleks Stadion Jatidiri yang cukup luas dan belum dikemas sebagai salah satu ikon. Padahal potensinya cukup menjanjikan. Sudah ada kolam renang dengan dinding yang dilukis oleh seniman lokal, area panjat dinding, wisma inap, dan fasilitas olah raga lainnya.

Alangkah indah bila seluruh dinding yang mengelilingi lapangan sepak bola dilukis dengan mengundang pelukis-pelukis andal Semarang. Barangkali bisa memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri.
Saya membayangkan betapa cantiknya bila pada awal 2012 dapat dilaksanakan gerakan massal melukis seluruh dinding pagar bangunan umum di kota Semarang. Kita ajak pelukis-pelukis Semarang berkarya.

Mari kita jadikan kota ini sebagai ajang seni. Mengingat bahwa kesenian adalah lambang peradaban maka Semarang pun akan menjadi kota beradab. Tidak cuma setara dengan kota-kota nyaman huni (livable city) yang lain, tetapi jauh lebih bermartabat.

— Eko Budihardjo, guru besar Arsitektur dan Perkotaan, Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota Semarang

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER