panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
31 Desember 2011
Menanti Peran Penerbitan PT
  • Oleh Gery Sulaksono
SELAIN sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), perguruan tinggi (PT) juga mempunyai peran untuk menyebarluaskan iptek kepada masyarakat sebagai upaya membangun masyarakat Indonesia yang cerdas berwawasan.


Peran tersebut lazimnya diakomodasi oleh penerbit perguruan tinggi (university press). Namun kenyataannya, university press belum mampu memainkan peran tersebut. Bahkan ada pameo yang mengatakan, eksistensi university press seperti ”hidup segan mati tak mau”.

Ini karena selama ini keberadaan university press lebih diperuntukkan bagi kalangan internal kampus dengan cakupan terbitan yang terbatas, misalnya untuk buku-buku diktat mata kuliah semata. Padahal, university press seharusnya mampu menjadi lokomotif pencerahan PT dalam mengantar pengetahuan kepada masyarakat luas. Menyadari betapa pentingnya keberadaan sebuah penerbit kampus, beberapa waktu lalu seratus perguruan tinggi negeri maupun swasta mendeklarasikan Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) pada (29/09/11) di Solo, sebagai upaya membangkitan peran university press di Indonesia. Melalui wadah baru itu, keinginan PT untuk bisa mempublikasikan karya-karyanya diharapkan bisa terwujud.

Beberapa alasan fundamental kenapa university press harus diberdayakan adalah, pertama, lembaga penerbitan PT ini memiliki peluang besar untuk berkembang, karena untuk mencari karya akademik yang bermutu tidak terlalu sulit. Banyak penulis dari kalangan dosen ataupun mahasiswa. Selain itu, banyak sekali sumber dan referensi, seperti skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain yang belum didayagunakan secara maksimal. Peluang lain yaitu, entitas kampus selain sebagai pencipta karya, juga merupakan pengguna dari output terbitan karya tersebut. Kedua, rendahnya kemauan kalangan kampus dalam menulis, dan melakukan penelitian, salah satu pemicunya adalah keterbatasan ruang yang akan senantiasa mempublikasikan karya tersebut.

Kebangkitan university press diharapakan menggugah semangat menulis bagi kalangan dosen, mahasiswa, dan masyarakat luas, sehingga semakin menyemarakkan kultur literasi dan publikasi di Tanah Air.

Ketiga, menambah pemasukan universitas melalui royalti penerbitan, sehingga beban operasional PT tidak terlalu dibebankan pada peserta didik seperti yang selama ini terjadi. Keempat, publikasi ilmiah adalah variabel penting penentu peringkat PT di tingkat nasional dan internasional. Lemahnya akomodasi penerbitan di PT merupakan faktor penting penghalang masuk ke jajaran world class university (WCU).

Misi Pencerahan

Menurut data Kementerian Riset dan Teknologi yang dirilis, jumlah publikasi ilmiah di tingkat internasional yang dihasilkan para peneliti Indonesia masih sangat rendah, hanya  sekitar 300-400 artikel per tahun, dibanding misalnya China 250 ribu  artikel per tahun, atau Jepang 100 ribu dan Korea 50 ribu per tahun (pustaka.ristek.go.id/09/11/10). Sementara itu, data dari Perpustakaan Nasional tahun 2011 menyebutkan jumlah judul buku yang diterbitkan setiap tahun hanya sekitar 10 ribu sampai 15 ribu judul per tahun dari sekitar 500-an penerbit di seluruh Indonesia. Jumlah itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang atau Thailand yang mencetak 68.000-70.000 judul per tahun, dan Amerika Serikat yang mampu menerbitkan 75.000 judul buku setiap tahun (Riau Pos/18/12/11).

Menyimak data tersebut, tidak keliru tentunya apabila banyak pihak menilai, bahwa publikasi ilmiah di Indonesia lemah. Untuk itu, PT di Indonesia harus segera berbenah untuk menjawab tantangan pendidikan di era global.

Masalah krusial yang sepertinya belum terurai dari wacana pengembangan university press adalah ”keterbatasan” sumber daya manusia (SDM) di lembaga penerbit universitas. Keterbatasan tersebut mencakup fasilitas, profesionalitas, kuantitas tenaga kerja, dan modal. Hal ini berbeda dari penerbit-penerbit swasta yang telah mampu melakukan tata kelola penerbitan secara optimal, misalnya dalam bidang pemasaran (marketing), dalam membaca minat atau selera pasar, penyesuaian lay out terbitan, dan sebagainya.

Menyadari peta persoalan tersebut, idealnya pimpinan PT mampu mengambil kebijakan-kebijakan taktis dengan jalan mencontoh dan menerapkan kesuksesan lembaga-lembaga penerbit swasta atau dari beberapa university press lain baik di dalam maupun luar negeri, yang telah mampu menjalankan usaha penerbitan secara profesional

Fenomena ini menjadi ironis, karena di saat semua pihak menyerukan untuk berkarya melalui tulisan (terutama bagi intelektual kampus), namun tidak diimbangi dengan sebuah kebijakan (political will) yang memudahkan seseorang untuk berpacu dalam berkarya. Dalam hal ini, tentu saja eksistensi university press dapat memberi stimulus terhadap semua pihak untuk berkarya.

Karena penerbitan (publikasi) selain berfungsi sebagai sosialisasi keilmuan, juga merupakan bagian dari reward atas sebuah pemikiran dan pengkajian seseorang terhadap suatu bidang ilmu tertentu. Melihat perannya yang stategis, serta telah dibentuknya wadah penerbit PT seluruh Indonesia (APPTI), diharakan ke depannya PT di Indonesia mampu menghasilkan lebih banyak publikasi, baik secara kuantitas maupun kualitas. Lebih jauh, university press diharapkan secara perlahan mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara ASEAN maupun Asia lainnya, dalam hal publikasi karya ilmiah.

Menyadari betapa pentingnya sebuah literatur terhadap kemajuan suatu bangsa, Ignas Kleden (dalam Kundharu Saddhono, 2009) menyatakan hubungan buku, kecerdasan dan pendidikan. Pada intinya, buku merupakan sebuah sarana yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan.

Peranan buku untuk meningkatkan kecerdasan tersebut baru akan efektif jika buku ditempatkan dalam suatu suasana umum (lembaga penerbitan) yang mendukung perkembangan intelegensia.

Karena buku adalah input sekaligus output kecerdasan kolektif. Refleksi ini sepantasnya menjadi pemicu semangat pimpinan PT, dan semua pihak yang peduli terhadap terciptanya sebuah masyarakat berbasis pengetahuan, bahwa peran university press dalam menghasilkan buku-buku atau karya ilmiah tidak dapat ditunda-tunda lagi. (24)


—Gery Sulaksono alumnus Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER