panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kampus
31 Desember 2011
Budaya Cyber dalam Promosi Perpustakaan
  • Oleh Ahyati Rahayu
SEJAUH manakah budaya cyber (cyber culture) bisa mempercepat kebutuhan pemustaka, dan menjadi pemicu promosi perpustakaan?

Yang kita bayangkan, pemustaka tidak lagi menanyakan misalnya berapa koleksi bukunya, berapa buku referensinya, dan berapa koleksi kunonya? Tetapi yang muncul adalah pertanyaan colokan listriknya di mana, ada berapa, komputernya berapa, di mana areal hostpot-nya, di mana online access-nya, berapa e-journal dan e-book-nya , aksesnya mudah atau sulit?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sekarang ini biasa diajukan untuk mendapatkan  layanan yang cepat, simpel, dan memberikan banyak alternatif. Fakta-fakta itu akan didukung oleh ketersediaan infrastruktur, seperti komputer yang terhubung ke internet, keyboard untuk menulis pesan, mouse untuk memudahkan menyalurkan perintah, dan stop kontak listrik yang tersedia di banyak titik.

Kenyataan-kenyataan dalam perkembangan teknologi informasi seperti itu akan memunculkan format-format baru, kemasan-kemasan informasi  mutakhir yang menarik dan bisa membawa konsekuensi luas bagi perpustakaan untuk menciptakan kesiapan kebutuhan layanan pemustaka secara kompetitif. Dan, tentu saja layanan yang lambat, manual, yang tidak bisa memberi alternatif, bakal sangat mengecewakan pemustaka.

Sebenarnya, mempromosikan perpustakaan dengan memaksimalkan peran dan tugasnya berjalan beriring dengan kemajuan teknologi informasi. Keputusan untuk menghadirkan dan memanfaatkan  teknologi informasi di perpustakaan untuk mendukung pelayanan prima merupakan sikap cerdas yang merupakan tuntutan pada era sekarang.

Cyber Library

Penulis akan mengetengahkan contoh Perpustakaan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) yang telah memasuki era cyber. Ketika kita memasuki kampus Jalan Raya Kaligawe Km 4 itu, akan disambut billboard besar dengan tulisan ”Selamat Datang di Kampus Cyber”.

Kampus ini menyelenggarakan pendidikan Islam dalam rangka dakwah islamiyah yang berorientasi pada kualitas dan kesetaraan universal dengan merekonstruksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan.

Begitu pula, memasuki areal perpustakaan, kita akan disambut tulisan ”Unissula Cyber Library” dengan gedung berlantai tiga, halaman luas dan taman baca di luar gedung yang mengetengahkan suasana sejuk, nyaman, dan teduh oleh rindangnya pepohonan. Ada beberapa tempat duduk yang didesain melingkar, dilengkapi dengan empat stop kontak listrik yang dapat digunakan untuk memanfaatkan areal hostpot.

Dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan disebutkan bahwa pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Hak pemustaka sebagai pemakai perpustakaan adalah hak hakiki yang harus dihormati dan dinomorsatukan. Mereka bagaikan pelanggan dalam sebuah perusahaan. Pelanggan harus puas. Pemustaka harus puas, mendapatkan kemudahan dalam mengakses Informasi karena ditopang budaya cyber.

Jika kepuasan pemustaka tercapai dan budaya cyber benar-benar berperan, dengan sendirinya jasa perpustakaan, koleksi perpustakaan, fasilitas perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga fungsi edukasi, sumber informasi, pusat riset, rekreasi, publikasi, pencarian informasi akan tercapai maksimal.

Meningkatkan Citra

Kepuasan dan kesenangan yang didapat di perpustakaan pasti akan dibicarakan dengan pemustaka lain. Ibaratnya dipasarkan atau dipromosikan.

Di dunia pemasaran dikenal istilah word-of-mouth (getok-tular). Ungkapan pelanggan adalah raja memang benar esensinya. Mereka harus mendapat perlakuan total dan mengesankan. Sekali saja pelanggan mendapatkan perlakuan buruk, dampaknya sangat menghawatirkan (Max Well, 1999).

Teori ini tepat diterapkan di perpustakaan, dengan memosisikan pemustaka sebagai pelanggan yang membuat perpustakaan hidup, aktif dan dinamis, menjadikan para pustakawan kreatif dan inovatif.

Perpustakaan dengan budaya cyber-nya menjadi magnet positif bagi pemustaka, sehingga citra perpustakaan meningkat dengan layanan pustakawannya  yang total, pandai merespons permintaan dan kebutuhan pemustaka, selalu memperkini dan memperbarui informasi, dan menjadi customer service yang andal. Semua itu akan menjadikan pemustaka puas, loyal, ”gila” dengan perpustakaan, menjadikan rumah keduanya; dan itu merupakan indikator tercapainya promosi perpustakaan. (24)


— Dra Ahyati Rahayu, pemerhati perpustakaan, staf SDI Unissula, dan  Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Jawa Tengah

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER