
KEMBANG api sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. Ia merupakan cermin keglamouran, kemeriahan, kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Bagaimana tidak, untuk mengadakan pesta kembang api — yang biasanya untuk menandai pembukaan maupun penutupan pesta olahraga (SEA Games, Asian Games, Olimpiade), Hari Raya Idul Fitri, dan pergantian tahun membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Seperti Sabtu malam besok (31/12) yang merupakan malam pergantian tahun 2011 ke Tahun Baru 2012, langit malam di berbagai kota di Tanah Air maupun mancanegara bakal diterangi taburan aneka rupa kembang api. Untuk itu jelas panitia penyelengara pesta kembang api membutuhkan biaya jutaan sampai miliaran rupiah.
Bahkan menurut Singky Soewadji, seorang importir kembang api, Indonesia tercatat sebagai pasar kembang api terbesar di dunia. ’’Pasar kembang api di Indonesia dalam satu tahun menembus angka sampai Rp 1,8 triliun,’’ ucapnya. Ia bahkan tidak percaya jika Indonesia disebut sebagai negara miskin, karena kenyataannya, pasar kembang api dominan di kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Berbicara mengenai kembang api, ada baiknya kita melongok sejarahnya. Pada abad ke-7 seorang koki China secara tidak sengaja meramu bahan bubuk hitam atau black powder yang ada di dapurnya. Bubuk hitam itu berupa garam peter atau kalium nitrat (KN03), belerang (sulfur) dan arang kayu (charcoal). Ketiga bahan itu dicampur dan ketika disulut dapat menimbulkan ledakan disertai taburan bunga api. Temuan itu yang kemudian dikenal dengan nama kembang api.
Tentu saja temuannya itu sangat menghebohkan dunia pada waktu itu. Perkembangan berikutnya pada saat Dinasti Song (960-1279) masyarakat di China mendirikan sebuah pabrik petasan. Pada mulanya selongsong kembang api berupa bambu untuk tempat bubuk mesiu, kemudian diganti dengan gulungan kertas yang bagian luarnya dibungkus kertas merah, warna kesukaan masyarakat China.
Mereka mempercayai kembang api dapat menakut-nakuti roh jahat. Bahkan kembang api sudah menjadi bagian penting bagi kebudayaan mereka, seperti pernikahan, ritual agama, perayaan kepercayaan.
Kemudian pada abad ke-12, orang-orang Arab yang menuntut ilmu ke negeri Tirai Bambu memperoleh pengetahuan tentang mesiu. Seorang bernama Suriah Hasan al-Rammah kemudian menulis buku tentang roket, kembang api. Dia menyebut kembang api dengan istilah ’’Bunga China’’.
Selanjutnya pada abad ke-13, pengetahuan kembang api mulai menyebar ke kawasan Barat. Banyak pihak percaya Marcopollo lah merupakan salah satu orang yang pernah ke China dan membawa penemuan tersebut ke Eropa. Kemudian, membawa penemuan itu ke Inggris. Sedangkan serbuk mesiu yang dibawa oleh Marcopollo dipergunakan untuk keperluan militer, seperti untuk membuat roket, meriam, dan senjata. Italia tercatat sebagai negara di Eropa yang kali pertama membuat pabrik kembang api.
Rekor Dunia
Pada abad ke-15, Organisasi Ilmuwan Eropa pada 1560 membuat eksperimen dari bubuk hitam yang ditemukan koki China tersebut. Ekperimen itu dimaksudkan untuk membatasi jumlah dan besarnya ledakan. Hal ini agar ledakan dan taburan bunga api bisa terukur. Proporsi ideal terakhir yang direkomendasikan adalah garam petrus ( peter) 75%, arang 15 % dan belerang 10 %. Proporsi itu hingga sekarang masih tetap dipakai untuk pembuatan kembang api.
Pada perkembangannya, para ahli kembang api akhirnya bisa membuat kembang api berwarna-warni, seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Warna-warna tersebut berasal dari bahan kimia. Warna merah berasal dari Strontium dan Lithium, warna kuning berasal dari Natrium, warna hijau berasal dari Barium, dan warna biru dari Tembaga. Campuran bahan kimia itu dibentuk ke dalam kubus kecil-kecil yang disebut star.
Star inilah yang menentukan warna dan bentuk bila kembang api itu meledak nantinya. Kumpulan star dimasukkan ke dalam silinder yang terbuat dari kertas atau plastik. Kemudian dimasukkan pula bubuk mesiu serta sumbu untuk menyalakannya.
Pada abad ke-17, tepatnya tahun 1749 Goerge Frideric Handel dapat menciptakan musik kembang api kerajaan. Kembang api ini untuk merayakan perdamaian Perjanjian Aix-la-Chapelle, yang telah dideklarasikan setahun sebelumnya.
Sementara itu Guinness World Records mencatat beberapa rekor dunia yang berkaitan dengan kembang api yakni kembang api Roda Catherine merupakan sebuah roda kembang api dirancang pabrik kembang api Lily dan menembakkan setidaknya satu putaran pada malam festival tahunan Our Lady of The Lilies. Pabrik Lily Fireworks, Mqabba, Malta saat ini memegang rekor dunia dengan membakar roda Catherine berdiameter 32,044 meter (105 ft 1,56 di), pada 18 Juni 2011.
Rekor berikutnya yakni Macedo’S Pirotecnia Lda di Funchal, Madeira, Portugal pada 31 Desember 2006 dengan menampilkan kembang api terbesar terdiri dari 66.326 kembang api. Selanjutnya rekor air terjun kembang api terpanjang di dunia berlabel ’’Terjun Niagara’’ yang diukur setinggi 3.517,23 meter (11.539 ft 5 in) saat dinyalakan pada 23 Agustus 2008 di Laut Ariake Fireworks Festival, Fukuoka, Jepang.
Rekor dunia selanjutnya adalah kembang api roket terbanyak yang diluncurkan dalam 30 detik sebanyak 125.801 buah oleh Pyroworks International Inc (Filipina), di Cebu, Filipina, pada 8 Mei 2010. Kemudian pada 13 Oktober 2010 Associacao Nacional de Empresas de Produtos Explosivos (Portugal) pada Simposium Internasional ke-12 di Fireworks di Oporto dan Vila Nova de Gaia, Portugal meluncurkan roket kembang api terbesar dengan berat mencapai 13,40 kg. (Moch Dany Fadly-12 )
(/)