
TANAMAN krangean (Litsea cububa pers) yang banyak tumbuh di bumi Nusantara ini diyakini dapat meningkatkan libido bagi kaum lelaki. Kabar ini sungguh menggembirakan bagi kaum adam untuk menambah keperkasaannya.
Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka (12/12), krangean satu tanaman obat asli Indonesia yang memiliki kemampuan meningkatkan kemampuan libido layaknya viagra, didaftarkan untuk mendapatkan hak paten. Kepala Balitbang Kementerian Kesehatan Dr dr Trihono MSc menyatakan, buah krangean yang tumbuh di bumi Indonesia telah diujicobakan pada binatang dan terbukti mampu meningkatkan libido.
Hasil penelitian para ahli botani dan farmasi itu menyatakan buah krangean saat ini masih dalam proses riset, sebelum nantinya bisa dimanfaatkan untuk menunjang kesehatan dan kebutuhan manusia. ’’Sedang dalam proses paten. Butuh waktu sekitar lima tahun untuk mendapatkan hak paten,’’ tandas Trihono.
Buah krangean di Sunda dikenal dengan nama kilemo, nama ilmiahnya Litsea cubeba pers. Sedangkan di dunia botani buah ini dikenal dengan sinonim Litsea citrata Bl, Tethrantera citrata Nees, T polyantha Wall. Klasifikasi tanaman ini masuk dalam bangsa Rhamnales dari suku Lauraceae dan marga Litsea.
Untuk mengenal pohon krangean ada beberapa ciri antara lain pohonnya bisa tumbuh sampai 15 meter, batang tegak, berkayu, bulat dan mempunyai percabangan simpodial, warnah putih kusam. Berdaun tunggal, lonjong dengan tepi rata ujung meruncing, demikian juga pangkalnya, pertulangan daun menyirip, panjang daun berkisar 10-14 cm dengan lebar 7-9 cm warna hijau.
Sedangkan bunganya masuk golongan majemuk berbentuk malai dan berkelamin dua, mempunyai kelopak hijau muda dengan bentuk mangkok berbulu halus, mahkota bulat melengkung, kepala sari bulat, hijau kehitaman. Adapun buahnya berbentuk bulat seperti buah jeruk, namun buah krangean keras dan pada saat muda warna hijau sedangkan setelah tua warna hitam. Bijinya juga bulat, warna putih kusam. Pohon ini berakar tunggang cokelat kehitaman.
Kulit batang dan daun krangean mempunyai kandungan saponin, flavonoida dan tanin. Kandungan kimia ini sangat bermanfaat untuk pengobatan, antara lain berkhasiat untuk penawar bisa akibat gigitan serangga. Sedangkan buahnya berkhasiat untuk meredakan batuk, juga dapat meningkatkan gairah seks bagi kaum lelaki (saat ini masih dalam proses riset-Red).
Saintifikasi
Sementara itu Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BPPTO dan OT) Indah Yuning Prapti mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan penelitian terhadap berbagai ramuan jamu dan tanaman obat agar dapat digunakan dalam sistem pengobatan modern dan diaplikasikan oleh dokter.
Tahun ini, BPTO dan OT Tawangmangu telah melakukan saintifikasi ramuan jamu untuk penyakit diabetes melitus, hipertensi, asam urat, dan kolesterol. Tahun depan, pihaknya merencanakan melakukan saintifikasi atau pembuktian secara ilmiah terhadap ramuan untuk penyakit obesitas, sendi, wasir, pelancar asi, dan ramuan menjaga daya tahan tubuh (Suara Merdeka, 12 Desember 2011)
Apa yang dikemukakan Indah Yuning Prapti sejalan dengan apa yang saat ini sedang dirintis pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI. Pemerintah saat ini sedang melakukan saintifikasi jamu untuk mengumpulkan bukti ilmiah sehingga jamu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan diakui dunia internasional.
’’Saintifikasi jamu ini sudah dimulai sejak tahun lalu, tujuannya bagaimana kita mendukung jamu-jamu yang selama ini tidak didukung bukti ilmiah tapi sekarang bisa didukung oleh bukti ilmiah,’’ kata Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan di Kementerian Kesehatan RI, Sri Indrawati pada suatu acara di Kota Bandung.
Untuk mendukung bukti ilmiah tersebut pihaknya melakukan pengumpulan data-data dari semua jamu yang ada di Indonesia.. Bahkan saat ini sudah ada 12 rumah sakit dan 62 puskemas di Jawa yang sudah melakukan saintifikasi jamu ini. ’’Yang sudah itu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sampai saat ini ada sekitar 62 puskemas dan 12 rumah sakit yang turut membantu dalam saintifikasi jamu,’’ kata Sri.
Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu Sedianingsih juga menyatakan, saintifikasi jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan.’’Tujuannya adalah untuk memberikan landasan ilmiah penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan,’’ ucapnya
Selain itu, saintifikasi jamu juga bisa meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan. (Moch Dany Fadly-12)
(/)