TAHUN 2011 sebentar lagi akan lewat. Angka 11 dari kacamata aksi bakar diri Bouazizi di Tunisia dan Sondang menoreh fenomena langka. Angka ”1” di depan mengisyaratkan awal 2011 tatkala Mohamed Bouazizi meninggal pada 04-01-2011 akibat komplikasi parah cedera bakar. Sedangkan angka ”1” terakhir menyandikan akhir 2011 di saat Sondang Hutagalung meninggal 10-12-2011 akibat ARDS sebagai komplikasi fatal luka bakar sekujur tubuh.
Aksi bakar diri Mohamed Bouazizi pada 17 Desember 2010 akhirnya efektif memicu Revolusi Arab (Arabian Springs). Bouazizi bekerja pada sebuah perusahaan peternakan unggas milik saudaranya. Perusahaan ini bangkrut, lalu Bouazizi menyambung hidup sebagai pedagang kaki lima berjualan buah dan sayuran. Namun gerobak untuk berjualan disita polisi. Bouazizi menyampaikan protes kepada gubernur setempat, tapi gagal karena diusir polisi. Putus asa. Bouazizi nekat membakar dirinya sendiri di depan kantor gubernur.
Sementara itu, Sondang melakukan aksi bakar diri di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada 07 Desember 2011. Sondang Hutagalung tercatat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno. Tidak jelas motivasi apa yang melatari Sondang melakukan aksi bakar diri hingga akhir hayatnya. Sondang sempat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, selama empat hari dan mengembuskan napas terakhir pada 10 Desember 2011, bertepatan Peringatan Hari Hak Asasi Manusia Internasional.
Gagal Napas
ARDS merupakan gagal napas progresif akut yang terjadi setelah mengalami cedera pada tubuh atau organ paru, termasuk luka bakar. Pada masa lalu, ARDS ini diduga terkait emboli lemak pada organ paru akibat trauma luka parah pada tubuh. Angka kematian luka bakar parah dengan komplikasi gagal napas atau acute respiratory distress syndrome (ARDS) mencapai 80 persen, meski telah diberikan bantuan ventilator mekanis (mesin bantu pernapasan). Rata-rata pasien mengembuskan napas terakhir pada hari keempat atau kelima pasca cedera bakar.
Trauma bakar diri pada daerah wajah dan leher, perlu diwaspadai cedera termis akibat suhu ekstrem api pada saluran pernapasan dan organ paru (pulmonal). Manifestasi gejala gangguan napas mulai tampak 6-8 jam setelah terjadi luka bakar. Sesak napas, ngiler dan suara serak merupakan manifestasi spesifik dari trauma termis saluran napas. Sesak napas akut terjadi lantaran penyempitan bronkus (bronkokonstriksi) yang bisa dianalogikan dengan sumbatan saluran napas pada serangan asma akut.
Sedangkan gejala ngiler terjadi lantaran trauma suhu panas yang mukosa mulut, identik dengan kondisi ngiler saat mengonsumsi hidangan bersuhu panas dan dicampur sambal pedas. Sementara suara serak menandakan adanya edema laring pada pita suara dan hipersekresi mukosa saluran napas. Sementara itu, cedera pulmonal terjadi akibat permukaan mukosa alveoli ditutupi oleh selaput hialin, sehingga perfusi oksigen ke aliran darah menjadi terhambat.
Pembentukan selaput hialin ini sesungguhnya sebagai upaya alami untuk proteksi mukosa alveoli organ paru dari udara inspirasi yang bersuhu panas. Malangnya, proteksi hialin ini justru menghambat perfusi oksigen dari alveolus ke pembuluh darah. Konsekuensinya, tubuh mengalami hipoksia, khususnya pada organ otak, otot jantung dan organ paru sendiri. Kegagalan sirkulasi karena lemahnya kontraksi otot jantung, menyebabkan otak mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen sehingga menimbulkan gejala kelainan neurologis yang bahkan bersifat fatal.
Gagal Ginjal
Bouazizi sempat dirawat di rumah sakit selama 18 hari sebelum meninggal. Pada luka bakar derajat parah lebih dari 40 persen luas permukaan kulit, tidak terelakkan adanya jaringan otot yang mengalami cedera termis. Jaringan otot yang rusak melepaskan mioglobin ke aliran darah. Begitu pula, sekitar 20 persen eritrosit dalam aliran darah mengalami kerusakan akibat suhu tinggi api, selain umur eritrosit menjadi lebih pendek dari umur normal 120 hari. Sel darah merah yang cedera ini melepaskan jumlah besar senyawa hemoglobin ke sirkulasi darah.
Molekul mioglobin dan hemoglobin beredar ke seluruh tubuh dan saat melewati organ ginjal, maka keduanya diekskresi ke dalam air kemih (urine). Lantaran berukuran besar, molekul mioglobin dan hemoglobin berpotensi menyumbat nefron pada organ ginjal. Bila kondisi ini berlangsung masif pada luka bakar parah, maka komplikasi gagal ginjal terjadi. Pemeriksaan laboratorium kreatinin darah dan pemantauan volume urine menjadi parameter untuk deteksi pemunculan gagal ginjal pada pasien luka bakar.
Pasien luka bakar parah yang melanda sebagian besar luas permukaan tubuh, asupan nutrisi mendapat perhatian sungguh-sungguh. Adanya penurunan berat badan lebih dari 25 persen dari berat badan sebelum dirawat di rumah sakit bersifat fatal. Kebanyakan penurunan berat badan secara cepat dalam persentase besar terjadi dalam waktu tiga minggu sejak terjadi cedera bakar diri. Solusinya adalah asupan nutrisi lewat infus dan saluran cerna sekitar 5000 kilokalori per hari. Dengan demikian, anjloknya berat badan secara drastis dapat dihindari.
Namun untuk asupan muatan 5000 kilokalori itu ke dalam tubuh pasien luka bakar bukanlah perkara mudah. Permasalahan semakin kompleks bila selera makan pasien mengalami penurunan. Penderita sering kali diare dengan asupan diet sebanyak itu, meski dapat diatasi dengan obat antidiare. Selain itu, di dalamnya harus terkandung 50 gram nitrogen protein sehari yang dapat memperberat kerja organ ginjal.
Juga dibutuhkan multivitamin dan peningkatan asupan vitamin C serta mineral kalium, zink dan magnesium. Kekurangan mikronutrien ini mengakibatkan penundaan proses penyembuhan luka bakar, selain mempermudah terjadinya sepsis. Sebab luka bakar merupakan sumber infeksi yang paling umum akibat rusaknya fungsi kulit untuk pencegahan infeksi. (11)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad