KALAU bakar diri Sondang Hutagalung dikatakan aksi konyol, itu dapat dibenarkan. Tapi jika dianggap tidak bermanfaat, itu keliru. Pasalnya, ada satu hal yang luput dari perhatian bayak pihak: lokasi aksi.
Istana Negara merupakan simbol kekuasaan sebuah negara. Secara manajemen aksi, Istana Negara tempat paling efektif protes rakyat didengar dan menjadi berita. Pendiaman terhadap aksi Sondang berhasil memperlihatkan kepada kita bagaimana wajah asli kekuasaan itu sendiri.Masyarakat kita adalah entitas mapan. Untuk menyampaikan protes, kesantunan dianggap paling tepat dan efektif. Sebaliknya protes bakar diri dipahami sebagai bunuh diri.
Ada satu alasan kenapa aksi Sondang banyak menuai kritik. Kelemahannya dalam membandingkan realitas Indonesia dengan Tunisia. Jika di Tunisia pelaku bakar diri adalah pedagang asongan yang secara kelas sosial adalah rakyat kecil, sementara Sondang adalah seorang mahasiswa. Padahal mahasiswa sebagai kelas intelektual tidak sepantasnya berputus asa seperti Muhamed bouazizi di Tunisia.
Meskipun begitu, Sondang adalah wujud dari kesucian dan kesetiaan seorang aktivis mahasiswa. Buktinya dia tidak meninggalkan pesan pribadi, justru sebaliknya membiarkan kita bertanya-tanya tentang motif dan mengapa seorang harus bakar diri. Sebuah nilai yang dapat kita analogikan seperti Dewi Shinta ketika harus bakar diri untuk baktinya kepada Rama.
Apa yang dilakukan Sondang, bagaimanapun, adalah sebuah tawaran nilai. Aksinya merupakan lompatan besar yang mengubah mentalitas dan kesadaran banyak pihak. Harus diingat, dalam aksi ke depan, mengharuskan aktivis untuk lebih giat belajar dalam membaca realitas masyarakat. (24)
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad