panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Ragam
23 Desember 2011
Dari Kerajaan Inggris, Pohon Natal Mulai Dikenal
DI BERBAGAI tempat di dunia, pohon Natal yang kebanyakan berwarna hijau - sekarang ada juga yang berwarna lain seperti misalnya silver - merupakan symbol terkenal yang melambangkan suasana Natal, hari yang diperingati sebagai kelahiran Yesus Kristus.

Pohon Natal ini sudah dikenal lama dan menjadi sym-bol keagamaan jauh sejak awal sejarah manusia.
Bukti tentang itu ditemukan di Provinsi Bohuslan, di pesisir barat Swedia dan di dekat Provinsi Ostfold di Norwegia. Di sana, lebih dari 75.000 pahat-an batu telah ditemukan pada sekitar 5.000 situs yang berbeda.

Para arkeolog mengatakan, bahwa pahatan-pahatan batu ini dibuat kira-kira antara 1.800 dan 500 Sebelum Masehi (SM). Beberapa situs di Bohuslan tersebut, termasuk dalam daftar Warisan Dunia Unesco.
Pahatan-pahatan batu yang antic ini menyingkapkan sesuatu tentang kepercayaan orang-orang yang hidup jauh sebelum kelahiran Yesus dari Nazaret.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa dahulu kala, di kawasan yang kini menjadi Swedia dan Norwegia itu, pohon yang selalu hijau, seperti pohon cemara, digunakan sebagai symbol kesucian.
Tetapi mengapa orang-orang yang hidup di kawasan pesisir paling utara dunia ini membuat pahatan batu berupa pohon-pohon cemara ? Ada pakar yang menduga bahwa itu antara lain disebabkan oleh langkanya pohon-pohon itu pada zaman pra-Kristen, ketika berbagai pahatan tersebut dibuat.

Cemara

Dan, dapat dimaklumi pula bahwa ketika itu pohon yang tetap ”hidup” dan hijau saat pohon-po-hon lainnya mati di cuaca yang dingin adalah pohon cemara.
Banyak kebudayaan lain di dunia juga sudah lama menggunakan pohon sebagai symbol kehidupan, keselamatan dan keabadian.

Fakta ini boleh jadi turut menjelaskan mengapa bentuk pohon yang menyerupai cemara yang selalu hijau dipahat pada batu berabad-abad sebelum pohon itu menjadi pemandangan umum di sana.

Buku Rock Carvings in the Borderlands, yang diterbitkan atas kerja sama dengan Dewan Warisan Nasional Swedia, mengatakan, ”Bentuk-bentuk pohon dalam pahatan batu menunjukkan bahwa kawasan Skandinavia bagian selatan sudah memiliki kaitan agama dan budaya dengan seluruh Eropa dan sebagian besar Asia sejak Zaman Perunggu.”
Dikatakan pula, ”Waktu itu, agama dan kosmologi disesuaikan dengan kehidupan masyarakat yang mata pencahariannya bertani dan beternak.

Dan, meskipun nama para dewanya berbeda-beda, namun mereka umumnya menyembah para dewa yang sama.”
Sementara itu, brosur The Rock Carving Tour yang diterbitkan  oleh Bohuslans Museum menjelaskan, bukan tentang kegiatan sehari-hari yang mau ditampilkan oleh para pemahat batu itu.
”Menurut kami, pahatan yang mereka buat bisa jadi merupakan suatu bentuk doa dan permohonan kepada para dewa,” ungkap brosur itu.

Kerajaan Inggris

Brosur tersebut menambahkan, ”kepercayaan berkisar pada siklus abadi kehidupan, kesuburan, kematian dan kelahiran kembali.”
Ensiklopedia nasional Swedia mengatakan, sewaktu menjabarkan koleksi unik seni simbolis ini, yang diciptakan jauh sebelum ini seni tulisa diperkenalkan di Eropa bagian utara, gambar-gambar pada pahatan batu yang menonjol itu, sebagian di antaranya bertema seks menujukkansangat pentingnya kultus kesuburan dalam agama orang-orang di utara pada Zaman Perunggu.

Jelaslah bahwa tradisi yang berkaitan dengan pohon yang selalu hijau tersebar luas dan melebur dalam kehidupan sehari-hari di banyak tempat.

Mengenai pohon Natal, Encyclopedia Britannica seperti ditulis Majalah Awake, terbitan Desember 2011 menyatakan, ”penyembahan pohon lazim di kalangan orang-orang kalangan tertentu di Eropa dan mereka masih melakukannya ketika mereka masuk Kristen.”
Hal itu bahkan dilakukan dengan beragam ritus dan tradisi,  termasuk tradisi yang menempatkan pohon Yule pada pintu masuk atau di dalam rumah selama hari raya pertengahan musim dingin.

Keluarga Kerajaan Inggrislah yang kemudian dikenal dan membuka jalan bagi kepopuleran tradisi pohon yang selalu hijau ini, kala mereka menggunakan pohon cemara sebagai dekorasi Natal pada tahun 1841.
Dewasa ini, pohon Natal diakui di seluruh dunia, dan permintaan akan jutaan pohon Natal asli maupun buatan, sepertinya tak pernah habis. Sementara pahatan batu Skandinavia menjadi saksi bahwa sebenarnya pohon Natal tidak memiliki asal-usul Kristen. (Eko HM, Majalah Awake-12) (/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER