TAHUN 2012 merupakan tahun kunjungan wisata ke Jawa Tengah. Slogan, Visit Jawa Tengah Year 2012 sudah didengungkan di mana-mana. Akan semakin banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung ke Jawa Tengah. Untuk itu perlu dipersiapkan sarana penunjang guna mensukseskan program tersebut.
Kunjungan ke tempat yang jauh seringkali menyebabkan wisatawan tanpa sadar melakukan kontak dengan infeksi yang tidak biasa didapatkan di tempat asalnya. Oleh sebab itu, wisatawan mempunyai risiko terserang infeksi. Aktivitas sehari-hari, seperti berkomunikasi dengan sekelompok orang selama singgah atau menetap di tempat wisata, makan dan minum, kontak dengan serangga atau hewan, dan sebagian melakukan aktivitas seksual tanpa pengaman, akan memungkinkan tertularnya kuman patogen (kuman yang nakal) yang memudahkan timbulnya serangan infeksi.
Penularan kuman patogen dapat terjadi melalui udara (virus influensa, bakteri penyebab Tuberkulosis), melalui makanan dan minuman (virus hepatitis A, kuman Escherisia coli penyebab diare infeksi, Salmonella Typhi penyebab Tifes), atau melalui hubungan seksual (infeksi saluran kencing, gonorhe, sifilis, HIV/AIDS). Risiko terjadinya penularan saat berwisata sangat bervariasi, tergantung dari tingkat kedekatan hubungan, lamanya kontak, dan sifat kontak tersebut. Kontak biasa di tempat umum memungkinkan terjadinya penularan. Hanya kuman patogen yang sangat infeksius (bersifat mudah menularkan infeksi) yang dapat ditularkan pada keadaan ini. Misalnya, virus influenza dan virus pernapasan lainnya, seperti: Mycoplasma, Norwalk-like-viruses (NLV). Penyebaran virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan ini sering dipengaruhi oleh keadaan musim.
Misalnya di belahan bumi utara antara bulan Desember hingga Maret (saat musim dingin), sedangkan di belahan bumi selatan pada bulan April hingga September. Penularan infeksi saluran napas sering pula terjadi saat orang berkumpul bersama di hotel, klub malam, kafe, atau daerah tempat ziarah (makam Wali atau orang yang dikeramatkan yang dikunjungi secara bersamaan). Atau di sarana transportasi seperti bis, kereta api, kapal laut, maupun pesawat. Sedangkan penularan diare infeksi akibat perjalanan sering terjadi di hotel, tempat penginapan, lokasi perkemahan (camping), dan kapal pesiar. Infeksi yang membutuhkan kontak lebih lama pada tempat yang terbatas seperti infeksi Meningokokkus (infeksi yang menyerang selaput otak) kadang menimbulkan epidemi di daerah sub sahara Afrika yang bersifat tropis, sub benua India, dan Timur Tengah.
Wisatawan yang tinggal di antara penduduk yang padat, juga berisiko untuk tertular penyakit ini. Oleh sebab itu, bila akan berkunjung di daerah tersebut, sebaiknya sudah mendapat imunisasi meningitis, seperti jamaah haji atau umroh. Infeksi lain yang membutuhkan kontak dalam waktu yang lama adalah Difteria (sakit di tenggorokan, ditandai adanya selaput membran putih di langit mulut atau di tenggorokan). Jika kita belum mendapatkan imunisasi difteri, padahal bekerja di dekat anak-anak dalam periode yang cukup lama, misalnya guru Kelompok Belajar, TK, SD, maka mempunyai risiko untuk tertular Difteri dan harus divaksinasi ulang. Penularan penyakit Tuberkulosis (batuk lama, berat badan turun, keringat malam hari), walaupun bagi wisatawan berisiko rendah, tetap harus diwaspadai.
Mereka yang mengunjungi keluarga perlu mempertimbangkan ada tidaknya yang terserang TBC, dan sebisa mungkin tidak melakukan kontak yang erat dalam waktu lama. Kontak tubuh nonseksual mampu menularkan penyakit infeksi. Diantaranya infeksi kulit akibat streptococcus dan skabies (Kudisen, Gudigen =Jawa). Penyakit ini sering menyerang anak-anak yang berkunjung dan tinggal di tempat saudaranya. Sebab mudah ditularkan hanya melalui tidur sekamar, penggunaan handuk atau sarung bersama. Petugas kesehatan yang mendapatkan tugas di daerah dan bekerja di rumah sakit yang merawat Demam Berdarah, mempunyai risiko untuk tertular penyakit ini pula.
Diare pada Wisatawan
Penyakit saluran cerna paling sering yang menyerang wisatawan (baik luar maupun dalam negeri). Kuman penyebab diare sebagian besar adalah Escherisia coli (70%) diikuti oleh Campylobacter, Salmonella (penyebab Demam Tifoid atau Tifes) dan Shigella. Mereka yang terserang biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 5 hari, kecuali pada kasus tertentu akan menetap sampai lebih dari dua minggu (terutama yang disebabkan oleh parasit) dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Pada kasus ini, tentu harus diingatkan kemungkinan kekurangan cairan dan elektrolit (Kalium, Natrium). Oleh karena itu, dianjurkan untuk segera minum larutan gula garam ataupun minuman lain yang cukup mengandung elektrolit. Penanganan yang tepat untuk kasus diare akibat perjalanan adalah pemberian antibiotik Ciprofloksasin ditambah obat penghambat diare. Diare akibat perjalanan dapat dicegah apabila kita memperhatikan keamanan dan kebersihan makanan-minuman. Usahakan mengkonsumsi air minum yang sudah dimasak, jika memungkinkan hindari ìjajan di pinggir jalanî.
Hatih a t i dengan buah yang telah dikupas lama, dan salad (campuran banyak buah). Penyakit lain yang sering menyerang wisatawan adalah Demam Tifoid (Tifes), Hepatitis A, Demam Dengue, Japanese Ensefalitis, dan Demam Kuning. Untuk wilayah Semarang dan sekitarnya, waspadai kemungkinan penularan Leptospirosis, yaitu penyakit yang ditularkan oleh air kencing tikus. Penyakit ini ditandai dengan demam, nyeri otot di daerah betis, angka trombosit turun (mirip demam berdarah) dan angka leukosit meningkat. Penularannya melalui kontak kulit yang luka atau lapisan kulit (membran mukosa) dengan air dan tanah yang terkontaminasi dengan urin tikus yang terinfeksi. Sering menyerang para olahragawan air, orang yang berkemah, atau berendam pada daerah yang t e r i n f e k s i . Dapat pula menyerang daerah yang terkena genangan air banjir, atau rob. Leptospirosis tidak selalu menjadi berat. Saat ini semakin banyak Leptospirosis yang ringan (mild Leptospirosis).
Gejalanya mirip Influenza: panas, batuk pilek, pegal di seluruh otot tubuh. Dan bisa disembuhkan dengan antibiotik seperti: amoxilin. Terakhir adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Tidak sedikit wisatawan yang memanfaatkan jasa pelayanan seksual tanpa pengaman. Hal ini tentu memudahkan penularan penyakit Infeksi saluran kencing, sifilis, gonore, Hepatitis B dan HIV/AIDS. Untuk itu, agar lebih aman, yang terbaik tentu tidak memanfaatkan jasa pelayanan seks komersial. (11) (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad