
LAPORAN Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2011) sungguh memalukan sekaligus memilukan! Betapa tidak! Diketahui, riset-riset yang dilakukan oleh para dosen dan mahasiswa di kampus sebagian besar adalah riset copy paste, alian riset jiplakan, baik dari segi tema, objek, isi maupun filosofi riset tersebut! (Koran Tempo, 29/11/2011).
Kabar riset kampus ini sudah dianggap hal lumrah dalam dunia akademik kampus kita. Karena basis riset kampus di Indonesia, seperti disebut periset dari LIPI, Syamsuddin Haris (2011), bukanlah berangkat dari kebutuhan, keinginan dan visi sistemik para peneliti, kampus dan organisasi di luar kampus, tetapi sekadar memenuhi kewajiban teknis administratif ‘’politik pribadi’’ para peneliti Indonesia umumnya.
LIPI sendiri mencatat bahwa kampus yang selama ini berteriak mengiklankan diri akan menjadi kampus riset (campus of research) sesuai dengan tantangan masa depan pendidikan tinggi di Tanah Air masih megap-megap dengan konsepsinya sendiri. Yakni memimpikan kampus-kampus Indonesia berdiri megah dan kokoh layaknya kampus-kampus di negara-negara maju lainnya.
Sayangnya, di saat bersamaan, modal dasar dan falsafah hidup kampus, di mana riset kampus adalah urat nadi kampus masa depan, justru dikerdilkan oleh praktik tak terpuji, bahkan culas, dengan menjadikan riset sebagai proyek belaka.
Riset kampus kemudian dimodifikasi seolah-olah ilmiah dan didesain beraroma kebarat-baratan.
Hanya dengan menghadirkan sederet rujukan khas Barat, para periset dari kampus Indonesia seolah telah melakukan transformasi keilmuannya. Perasaan seolah-olah ilmiah inilah yang selama telah menjadikan riset kampus di Indonesia baru berasa seolah-olah riset.
Pertanyaannya adalah, apa dan bagaimana sebenarnya riset kampus ideal untuk masa depan Indonesia itu?
Kesadaran Green Research
Greeen research pertama kali dicetuskan oleh professor Jepang, Tadashi Hara dalam Green Reseacrh for Local Wisdom (1978). Profesor dari Tokyo University itu memulainya dengan mengembangkan paradigma riset hijau, yakni riset yang berbasis kearifan lokal, berasal dari masalah rakyat-bangsanya sendiri, diurai dan dijelaskan lewat cara-cara lokal tetapi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat global.
Disadari atau tidak, pemerintah Jepang, pasca-Restorasi Meiji, meskipun dikenal sebagai negara yang paling mandiri di dunia dalam melakukan riset, masih setia kepada gaya Barat dalam menerjemahkan sesuatu riset. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan penerjemahan besar-besaran berbagai rujukan Barat ke dalam bahasa Jepang sehingga rasa Barat belum sepenuhnya hilang dari riset Jepang.
Karena itu, sejak tahun 1935, pemerintah Jepang mulai menerapkan kebijakan orisinalitas riset yang dimulai dari kampus-kampus di negeri Sakura itu. Orisinalitas riset itulah yang kemudian melahirkan ratusan periset otonom dari berbagai komponen masyarakat. Bahkan saat itulah, lahir merek-merek otomotif, seperti Toyota, Mitsubishi, Cannon, Isuzu, Daihatsu, Honda, Suzuki dan aneka macam merek khas Jepang hingga Jepang berdiri kokoh sebagai pemegang merek global hingga detik ini. Pertanyaan satir publik adalah berapa merek produk peneliti kita yang go internasional dan sukses menjadi pelaku pasar global?
Untuk menegaskan merek-merek rakyat Jepang itulah, kampus menjadi sarang riset utama. Wajar kemudian hampir setiap profesor dari suatu kampus adalah juga peneliti dan pengendali riset di perusahaan-perusahaan multinasional Jepang. Dan inilah sinergi para pakar, peneliti dari kampus Jepang dengan kebijakan pemerintah dan dunia bisnis di negeri Sakura itu.
Di era krisis pangan global yang belakangan menjadi isu sentral di dunia, para periset kampus di Jepang kini kian massif mengembangkan paradigma green research dari kampus dengan menjadikan bidang pertanian sebagai basis riset. Di sini, makna green benar-benar padu dengan visi riset hijau yang sesungguhnya.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, riset hijau sebenarnya amat mendesak dikembangkan. Seperti disampaikan oleh Wakil Mendiknas, Fasli Djalal di depan peneliti Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, riset hijau kampus di Indonesia hukumnya fardlu ain (wajib). Lantaran Indonesia dikenal sebagai negara kaya raya potensi lokal dan kearifan lokal, juga sebagai produsen aneka bahan baku industri di berbagai bidang.
Sayangnya, banyak hasil riset kampus nasional kita justru lebih gemar menjadikan rujukan Barat sebagai basis perumusan masalah riset.
Dikti mencatat, hingga tahun 2010, masih ada 7.213 kluster kearifan lokal, baik berupa produk barang atau jasa yang potensial sebagai basis riset yang belum tersentuh oleh para peneliti kampus kita. Tragisnya, atas nama kuliah di luar negeri, banyak peneliti kampus gagal mengungkap masalah dan mencari solusi dari potensi rakyat-bangsanya sendiri.
Karena itu, riset hijau kampus semestinya menjadi acuan peneliti kampus di Indonesia sehingga peran dan tanggungjawab kampus dalam mengembangkan potensi lokal benar-benar nyata adanya. (24)
– Tasroh SS MPA MSc, dosen di beberapa PTS di Purwokerto dan alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Japan.