
BOM atom dan bocornya reaktor nuklir seperti yang terjadi di Chernobyl (Ukraina) dan Fukushima Daiichi (Jepang) beberapa waktu lalu, dampak radiasinya menelan banyak korban serta kecacatan genetis, peristiwa itu selalu diasosiasikan dengan kata nuklir. Kesan buruk itu membuat orang selalu waspada dan bahkan kadang anti dalam penggunaan bahan
radioaktif.
Padahal, di luar penggunaannya sebagai senjata pemusnah massal dan pembangkit listrik yang juga berisiko menimbulkan bencana, bahan radioaktif banyak berjasa dan terus dikembangkan di dunia kedokteran.
Salah satu yang telah kita kenal cukup lama adalah alat rontgen yang dapat menghasilkan citra organ dalam tubuh secara non-invasif. Radiografi itu, dihasilkan dari tabung sinar-X yang dikembangkan oleh fisikawan Amerika Serikat, William D Cooldge pada 1913, sementara itu sinar X ñnya sendiri ditemukan oleh fisikawan Jerman, Wilhelm Conrad Roentgen pada 1895.
Hasil pengembangan selanjutnya adalah pencitraan digital dengan computerized tomographic scanner (CT scanner). Pada alat itu, detektor mengukur sinar X yang ditembakkan dari lubang kecil dan menembus tubuh pasien dari berbagai sudut. Komputer kemudian mengubah hasil pencitraan dari berbagai arah itu, membentuk penampang tubuh. Alat ini memungkinkan dokter melihat gambar secara detail berbagai organ dan jaringan dengan kontras yang lebih baik.
Tidak ketinggalan
Selain sinar-X, pada kurun waktu sama (1970-an) juga dikembangkan penggunaan bahan radioaktif lainnya, baik untuk tujuan diagnostik maupun terapi. Unsur-unsur radioisotop atau radionuklida yang digunakan dalam kedokteran nuklir antara lain : galium-47, iridium 131, iodium 123, indium-111 sdan tadium-201. Dibanding uranium, bahan baku senjata atom dan pembangkit listrik dengan waktu paroh 250,000 tahun (U-234), 700 juta tahun (U-235)m hingga 4,5 milyar tahun (U-238), unsur-unsur radioaktif untuk kedokteran punya waktu peluruhan beberapa jam saja. Jadi, setelah selesai digunakan, unsur itu tidak bersifat radioaktif lagi.
Pertemuan Ilmiah Tahunan ke -13 Perhimpunan Kedokteran dan Biologi Nuklir Indonesia( PKBNI), Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) bekerjasama dengan Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka (PRR) - BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) di adakan di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, bulan No-vember 2011 lalu, mengangat tema ”Akselerasi Pelayanan Kesehatan Kedokteran Nuklir”,.
Indonesia sebenarnya tidak jauh ketinggalan di bidang kedokteran nuklirnya, terutama yang sudah mengarah pada pemeriksaan biomolekuler. Karena itu, berbagai kasus kesehatan dapat terdeteksi dini sebelum terjadi kerusakan fungsi organ.
Bisa dikaitkan kelainan dan penyakit dari kaki hingga kepala telah dapat dideteksi dengan alat kedokteran nuklir. ìBahkan selain gangguan fisik tubuh, nuklir juga menjadi sarana untuk pemeriksaan bidang psikiatri, kata Tri Hanggono , Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran Bandung, yang memberikan sambutan pada pertemuan itu.
Bahan nuklir antara lain untuk memeriksa gangguan fungsi otak yang menyebabkan kepikunan, gangguan ginjal, tekanan darah tinggi/ hipertensi, mendeteksi berbagai tumor hingga kanker seperti payudara dan tulang, melihat adanya kelainan kelenjar gondok, jantung koroner, bahkan pasien skizofrenia. Selain pemeriksaan penyakit, nuklir juga digunakan untuk tujuan terapi, seperti kanker tulang.
Pengembangan diagnosis dengan kedokteran nuklir pada berbagai jenis penyakit dan kelainan di organ tubuh erat kaitannya dengan radiofarmaka yang dipadukan dengan bahan radionuklidanya. ”Keduanya bagaikan bunga dan tangkainya,” urai A. Hussein S. Kartamiharja, dr.SpKN.MHKes, Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia , yang membawakan materi berjudul Peran Technologist dalam Kedokteran Nuklir
Radionuklida yang digunakan dalam mendeteksi gangguan pada tulang adalah MDP (Metil Difosionat) untuk jantung Teknesium-99 Metastabil (Tb-99m) MIHI untuk otak dan infeksi, HMPAO (Heksa Metil Propil Amin Oksin), DTPA (diethylenetriamine pentaacetic acid) untuk pemeriksaan otak. Sedangkan Tc-99 m sulfur koloid, untuk pemeriksaan jantung, hati dan limpa.
Peran Besar
Kedokteran nuklir berperan besar antara lain dalam perawatan pasien tuberlolosis (TB). Selama ini untuk menentukan tingkat pengobatan dilakukan pengambilan kultur biakan, yang hasilnya dapat diketahui setelah satu minggu. Selama masa menunggu itu, pasien diberi obat antibiotik.
Mendeteksi kasus peradangan dengan teknik kedokteran nuklir akan lebih baik. Dalam hal ini ditentukan jenis radiofarmaka yang paling tepat untuk kasus peradangan dan infeksi dengan melihat kekurangan dan kelebihannya. Alat kedokteran nuklir dengan farmaka jenis peptida dan antibodi dapat membedakan peradangan karena bakteri atau bukan.
Radiofarmaka masa depan yaitu 99Tc-infecton khusus digunakan untuk pencitraan infeksi bakteri, karena hasil pencitraan menunjukkan adanya infeksi bakteri yang masih aktif untuk bergantung pada jumlah leukosit atau sel darah putih.
Pencitraan dilakukan satu dan empat jam paska penyuntikan radiofarmaka. Radioaktivitas unsur ini akan terlihat diginjal, hati dan limpa serta terkadang di kandung empedu. Apabila ada penangkapan radioaktivitas yang meningkat abnormal dan makin jelas pada pencitraan lambat, berarti ada infeksi bakteri.
Pada penyakit TB, cara deteksi ini menentukan keputusan dalam pengobatan. Karena dengan cara lama, tidak dapat mendeteksi kondisi bakteri apakah telah mati atau belum. Mungkin saja selama pengobatan bakteri hanya dalam kondisi ”tertekanî. ”Ini merupakan penggunaan modalitas diagnostik dan terapi untuk menghentikan atau melanjutkan pengobatan,”ujar Tri Hanggono..
Demikian pula pada pemeriksaan ginjal. Kedokteran nuklir dapat memeriksa gangguan ginjal lebih dini sebelum pasien menyadarinya. Bila DTPA masuk tubuh masa secara spesifik difiltrasi di ginjal. Gangguan Tc99m dan DTPA dapat dilihat radioaktivitasnya oleh detektor kemudian ditransformasikan citranya ke komputer. Kecepatan pengeluaran zat itu bersama urine menunjukkan kemampuan ginjal.
Tc-99m memiliki waktu paroh enam jam dengan tingkat radiasinya hanya satu per seratusnya sinar-X pada alat Roentgen. Namun sangan sensitif dibandingkan BCG untuk mendeteksi penyempitan pembuluh darah koroner.
Kedokteran nuklir juga dapat mendeteksi penyebaran kanker tulang. Seorang pasien mengeluh sakit punggung; dalam pemeriksaan diketahui pasien tersebut menderita kanker tulang.
Pertumbuhan sel kanker itu terlihat sebelum menunjukkan adanya kerusakan tulang. Sistem deteksi ini 18 bulan lebih awal dibandingkan alat Roentgen. Scanning tulang diperlukan setelah operasi, untuk mengetahui adanya penyebaran anak sel atau metastasis.
Masih sangat sedikit
Meski telah diakui keberadaannya oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1996 lalu, keberadaan dokter ahli nuklir di Indonesia masih sangat sedikit. Jika ditotal, saat ini, Indonesia hanya memiliki 31 dokter ahli nuklir.
Hussein mengatakan, minat masyarakat Indonesia untuk menjadi seorang dokter ahli atau spesialis nuklir memang masih rendah jika dibandingkan dengan dokter ahli lainnya, seperti ahli bedah atau pun anak.
"Bahkan tahun 1996, saat pemerintah Indonesia mulai mengakui keberadaan dokter ahli nuklir, jumlahnya itu hanya 21 orang dan itu pun mereka-mereka yang menempa ilmu dokter ahli nuklir yang sekolah di luar negeri kemudian diputihkan," kata Hussein lebih lanjut.
Saat pertama kali didirikan Ilmu Kedokteran Nuklir di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung tahun 1998, jumlah mahasiswa yang berminat masuk mengambil jurusan dokter ahli nuklir hanya satu orang. "Ilmu Kedokteran Nuklir dimulai tahun 1998 saat itu di Unpad dan perjalanannya sangat sulit. Awalnya hanya satu orang saja kemudian tahun berikutnya dua orang dan sampai sekarang ada 19 residen yang mengambil keahlian nuklir ini," jelasnya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi nuklir, pihaknya rutin menggelar seminar atau pertemuan diantara ahli nuklir dengan dokter ahli non nuklir. Ia berharap, perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran ahli nuklir di Indonesia ke depannya bisa semakin berkembang pesat.
"Nuklir itu sama seperti api dan air. Kalau kita tahu cara mengelola dan memanfaatkan maka akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita," ujarnya. (Amien Nugroho-11).
(/)