TAK hanya menyerang rakyat jelata, penyakit ini pun "sukses" menyerang presiden dan tokoh ternama dunia, seperti Ronald Reagan, Sir Francis Bacon, dan William Henry Harrison. Ketiganya meninggal dunia akibat pneumonia. Uniknya, pneumonia sering dijumpai di masa pancaroba alias peralihan musim. Bagaimana solusinya?
Pneumonia merupakan peradangan akut pada paru-paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan non-infeksi. Penyakit ini telah membunuh lebih dari dua juta anak balita setiap tahun, yang berarti 1 anak setiap 15 detik, atau 98 bayi meninggal setiap jam.
Di Indonesia terdapat 6 juta kasus pneumonia tiap tahun. Data di RS Sardjito Yogyakarta, pneumonia merupakan penyakit respirologi rawat inap sebanyak 38% dan 8,9% meninggal. Dari 38% tersebut, 51% pria dan 49% wanita, didominasi balita. Semua usia dapat menderita pneumonia, terutama bayi berusia 2-23 bulan.
Penyebab
Penyebabnya sulit dipastikan, namun umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, mikoplasma, dan jamur.
Dari karakteristik dahak, dapat diketahui bakteri penyebabnya. Bila dahak berwarna hijau, maka disebabkan oleh Pseudomonas, Haemophilus, dan Pneumococci spesies. Bakteri Pneumococci menyebabkan dahak berdarah atau mirip karat. Dahak seperti selai kismis menunjukkan bakteri Klebsiella dan Pneumococci tipe 3 sebagai penyebab. Dahak berbau busuk, disebabkan oleh infeksi bakteri anaerob (bertahan hidup tanpa oksigen).
Beberapa faktor risiko pencetus pneumonia antara lain: merokok, sedang/pernah menderita penyakit atau mengalami kondisi tertentu seperti asma, kanker paru-paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), diabetes melitus, gagal hati atau ginjal kronis (menahun), gagal jantung kongestif, HIV, pecandu alkohol, penggunaan kortikosteroid jangka lama, malnutrisi (gizi buruk), berat badan turun mendadak, HIV, riwayat konsumsi antibiotik dalam 3 bulan terakhir, pernah dirawat di rumah sakit dalam 3 bulan terakhir, tinggal di permukiman yang kumuh atau padat penghuni, tidak mendapat ASI eksklusif, riwayat imunisasi tak lengkap, peralihan musim (pancaroba), daya tahan tubuh lemah.
Pneumonia menyebar melalui udara, menular melalui percikan ludah-dahak saat berbicara, batuk, dan bersin.
Potret Klinis
Pneumonia memiliki tanda-gejala: batuk, dada terasa sakit, sesak napas, demam tinggi lebih dari 37,8 derajat C selama minimal 4 hari, dapat disertai menggigil, sakit kepala, leher terasa kaku, selera makan turun, lemas, lesu, mengantuk, mual, muntah, sakit perut, diare (mencret), tachypnea (napas cepat, lebih dari 25x/menit), jantung berdetak cepat (tachycardia) atau lambat (bradycardia), nyeri otot (myalgia). Pneumonia sulit dideteksi dini karena mirip influenza.
Solusi
Pemilihan antibiotik oral dipengaruhi oleh hasil pemeriksaan mikrobiologis. Beberapa antibiotik harus diresepkan dokter, seperti: sefalosporin generasi ketiga (misalnya ceftriaxone intravena), sefalosporin generasi kedua (misalnya: cefuroxime, cefprozil, dan cefpodoxime).
Pada usia di atas 5 tahun, dokter akan memberi terapi: amoksisilin, makrolid (eritromisin, klaritromisin, azitromisin), atau tetrasiklin dengan monitoring ketat, minimal sehari 1x, hingga hari ke-3.
Kombinasi trimethoprim dan sulfamethoxazole khusus untuk penderita pneumonia dengan riwayat PPOK atau merokok. Pemberian terapi dari golongan fluorokuinolon, seperti: levofloxacin, moxifloxacin, dan gatifloxacin juga dapat dipertimbangkan.
Bila bertambah berat/tidak membaik setelah 3 hari, maka dokter akan mengganti dengan terapi lainnya yang lebih tepat sesuai penyebabnya. Sebelumnya perlu dipastikan keberadaan penyulit yang menyebabkan antibiotik tidak efektif, seperti: empiema (penimbunan nanah di rongga selaput paru-paru) dan abses paru-paru. Jika sesak, perlu diberi oksigen. Jika nyeri, diberi analgesik.
Dokter tidak memberikan antipiretik (pereda demam) dan batuk selama 3 hari pertama karena akan mengaburkan hasil terapi antibiotik. Mengingat efek samping dan harganya, maka berkonsultasilah ke dokter untuk memilih terapi yang sesuai.
Pencegahan
WHO bersama UNICEF (2009) telah merumuskan Global Action Plan for Prevention and Control of Pneumonia (GAPP) sebagai strategi global membasmi pneumonia yang meliputi: manajemen kasus, vaksinasi, manajemen dan pencegahan infeksi HIV, perbaikan-peningkatan gizi-nutrisi dan pengurangan berat badan lahir rendah, pengendalian polusi udara di dalam ruangan, promosi ASI eksklusif dan suplementasi zinc (seng).
Imunisasi merupakan cara penanggulangan yang paling efektif. Vaksin konjugasi polisakarida pneumokokus untuk imunisasi aktif di usia usia 6 minggu hingga 9 tahun. Vaksin ini aktif melawan pneumonia. Selain itu, vaksinasi terhadap pneumococci dan Haemophilus influenzae tipe B juga efektif membasmi pneumonia.
Strategi lainnya: berhenti merokok (aktif-pasif), menghindari alkohol beserta produk olahannya, asap dan polusi udara, membatasi penyebaran infeksi virus dengan cara sering mencuci tangan, program rehabilitasi dan nutrisi bila diperlukan.Dengan penanganan yang terpadu-paripurna, didukung kebijakan lintas-sektoral, pendekatan multidisiplin ilmu, maka pneumonia pasti cepat teratasi.(11)
-- Dokter Dito Anurogo,
dokter umum RS Keluarga Sehat Pati, peneliti Biomarker Stroke bersama ilmuwan di Wisconsin University, USA. (
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad