
SEPANJANG Oktober dan November 2011 nama komodo menjadi bahan pembicaraan hangat masyarakat Indonesia. Pro dan kontra tentang binatang langka itu yang diusulkan masuk tujuh keajaiban dunia versi New7Wonders. Penggalangan suara lewat SMS begitu heboh dan meruak, tak habis-habisnya dikupas tuntas oleh media massa cetak maupun elektronik.
Sampai-sampai mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla didapuk menjadi duta pemenangan komodo. ”Ini semua berkat rakyat Indonesia, ini adalah momen yang sulit terjadi di mana semua rakyat bersatu untuk membantu saudara-saudara kita di NTT dengan mengirimkan suara lewat SMS mendukung komodo,” tutur Jusuf Kalla menjelang penutupan voting Pulau Komodo untuk pemenangan sebagai New7 Wonders di Anjungan Komodo, Taman Mini Indonesia (TMII), Jumat lalu (11/11)
Hasilnya, New7Wonders tanggal 12 November 2011 mengumumkan 7 keajaiban dunia baru. Pulau Komodo dari Indonesia berhasil memenangkan kompetisi tersebut, meski pengumuman itu masih bersifat sementara, karena penetapannya sebagai pemenang akan diumumkan awal tahun 2012.
Tujuh keajaiban dunia baru yang diumumkasn itu yakni Amazon (Brazil), Halong Bay (Vietnam), Iguazu Fall (Argentina), Jeju Island (Korea), Komodo (Indonesia), Puerto Princesa Underground River (Filipina) dan Table Mountain (Afrika Selatan).
”Kami mengucapkan selamat kepada tujuh peserta New7Wonders of nature dan berharap untuk menyelesaikan proses konfirmasi untuk merayakan masing-masing pemenang dalam upacara pengukuhan resmi di negeri mereka awal 2012,” papar Ketua New7 Wonders, Bernard Weber di Zurich, Swiss usai mengumumkan para pemenang tujuh keajaiban dunia tersebut.
Apapun hasilnya nanti, apakah Komodo masih tetap menjadi pemenang atau tidak pada pengumuman penetapan 2012, kita serahkan sepenuhnya kepada New7Wonders. Satu hal yang pasti Pulau Komodo tempat di mana habitat binatang langka itu hidup dan berkembang kini pamornya naik di mata dunia.
Veranus Komodoensis
Sebagaimana diketahui, berabad lalu komodo hidup dan berkembang biak di Kepulauan Indonesia bagian timur dan tengah yakni di Pulau Komodo, jajaran Kepulauan Flores. Bagi rakyat setempat binatang itu dianggap sebagai naga. Banyak pelaut yang berkisah naga ini lebih mirip monster yang menakutkan.
Ekornya yang besar bisa merobohkan seekor kerbau hanya dengan satu kibasan. Rahangnya besar dan kuat, hingga mampu menelan seekor babi hutan dalam satu gerakan. Kisah ini beredar luas dan sempat menarik perhatian banyak orang. Namun tak pernah ada yang berani mendekati pulau tersebut untuk membuktikannya.
Sampai akhirnya pada 1910-an awal, muncul laporan dari gugus satuan tempur armada kapal Belanda yang bermarkas di Flores tentang makhluk misterius yang diduga ìnagaî mendiami sebuah pulau kecil di wilayah Kepulauan Sunda Lesser (sekarang jajaran Kepulauan Flores, Nusa Tenggara-Red).
Para pelaut militer Belanda tersebut memberi laporan makhluk tersebut kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores mendengar laporan ini dan kisah-kisah yang melingkupi Pulau Komodo. Ia pun merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo.
Setelah mempersenjatai diri dan membawa satu regu tentara terlatih, ia mendarat di pulau tersebut. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh satu spesies aneh itu.
Ia membawanya ke markas dan dilakukan pengukuran panjang hasil buruannya itu dengan panjang kira-kira 2,1 meter. Bentuknya sangat mirip kadal. Satwa itu kemudian dipotret (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Zoological Museum and Botanical Gardens Bogor, Jawa.
Inilah dokumentasi pertama tentang komodo. Ouwens tertarik dengan temuan satwa aneh tersebut. Ia kemudian merekrut seorang pemburu lihai untuk menangkap spesimen untuknya. Sang pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo yang berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua anakan, masing-masing berukuran di bawah satu meter.
Berdasarkan tangkapan sang pemburu ini, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah naga penyembur api, melainkan termasuk jenis kadal monitor (monitor lizard) di kelas reptilia. Hasil penelitiannya ini kemudian dipublikasikan pada koran terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan itu, Ouwens memberi saran nama pada kadal raksasa itu Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo). Sadar arti penting komodo sebagai satwa langka, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan proteksi terhadap komodo dan Pulau Komodo pada 1915. Jadilah kawasan itu sebagai wilayah konservasi komodo.
Temuan komodo sebagai legenda naga yang hidup, memancing rasa ingin tahu dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara secara bergilir melakukan penelitian di Pulau Komodo.
Penelitian
Usai Perang Dunia I, sebuah ekspedisi ilmiah dirancang untuk melakukan penelitian komodo. Pada 1926, ekspedisi yang dipimpin W Douglas Burden dari American Museum of Natural History dengan perangkat penelitian termodern, melakukan penelitian selama berbulan-bulan.
Ekspedisi yang melibatkan puluhan orang itu menangkap 27 ekor komodo. Mereka melakukan bedah anatomi dan identifikasi spesies. Dari sinilah laporan ilmiah pertama yang lengkap tentang komodo dibuat.
Dideskripsikan bahwa komodo memiliki kepala yang besar dan kuat, memiliki sepasang mata yang bersinar, kulitnya keras, tebal dan liat. Memiliki kelambir kulit berkerut di bawah lehernya.
Bentuknya mirip dengan biawak, dengan empat kaki yang gemuk besar dan ekor yang juga gemuk besar panjang. Memiliki 26 gigi yang tajam, masing-masing berukuran 4 cm, memiliki lidah bercabang yang berwarna merah cerah. Jika dilihat dari kejauhan, lidah yang dijulurkan akan mirip api, karena komodo sering menjulurkan lidahnya seperti ular, karena itu rakyat setempat menjulukinya naga berlidah api.
Komodo juga pemburu handal. Ia mengandalkan gigitan dan racun bakteri pada ludahnya untuk melumpuhkan mangsa. Ia akan mengikuti mangsanya yang sudah terluka selama berhari-hari, sampai akhirnya mati, barulah ia menyantapnya.
Sebagai karnivora dan scavenger (pemakan bangkai), komodo memang hanya ditemui di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Owadi dan Samiin. (Moch Dany Fadly,dari berbagai sumber-12)
(/)