panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Ekonomi & Bisnis
15 November 2011
Ketika Beli Baju Tak Harus Baru
  • Tren Ngawul
RUANGAN pengap berdinding bambu itu tidak menyurutkan semangat seorang laki-laki paruh baya untuk berjubel diantara tumpukan baju-baju bekas. Mondar-mandir, memilah dan memilih, tatapannya terhenti pada celana jins hitam merk Wrangler. “Berapa ini Mas?”  tanyanya pada sang penjual. “Ya seratusan lah Pak, boleh nawar,” jawab si penjual. Sebuah harga yang cukup murah untuk celana bermerk terkenal.

Jika ingin menemukan bentuk baju yang tidak pasaran, umumnya masyarakat mencari di distro-distro atau butik. Tapi jika benar-benar ingin berburu baju yang unik, atau bergaya bergaya vintage dengan harga sangat miring, awul-awul bisa menjadi pilihan. Awul-awul banyak tersebar di beberapa sudut Kota Semarang.

Tempatnya tidak seperti toko-toko pakaian yang didesain begitu rupa, tapi lebih mirip gudang penyimpan pakaian. Jadi jangan harap kita bisa memilih-milih baju dalam suasana yang menyenangkan. Jangan juga membayangkan kita akan menemukan berbagai model baju unik yang wah, khas butik atau distro. Yang ada tumpukkan baju kumal dalam boks atau gantungan baju yang baunya apek. Memang sih, disini tidak semua baju bermodel unik dan sedap dipandang. Tapi kalau beruntung, kita bisa menemukan baju-baju bermerek. Sebut saja celana jins Levi’s 501, bisa didapat dengan harga sekitar Rp 100.000 saja.

Ngawul merupakan suatu fenomena yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Di Semarang sendiri banyak ditemukan tempat untuk ngawul, terlebih di Kawasan Simpanglima saat Minggu pagi.
Bagi Andri (19), berjualan baju bekas seperti mencari sebuah peruntungan, kadang laris kadang juga sepi. Karyawan tempat penjualan baju bekas di Banyumanik itu mengakui susahnya mengelola baju-baju asal Korea.

Pakaian yang mereka jual didatangkan dari Bandung, dimasukkan ke dalam beberapa karung yang berisikan ratusan baju. “Kalau bajunya cacat atau berlobang kita taruh di obralan, kalau bagus kita gantung,” kata laki-laki asal Palembang saat ditemui, kemarin.

Murah

Jika stok lama tidak habis, Andri dan tiga orang karyawan lain akan mengobralnya lagi di arena pasar malam Alun-alun Yogyakarta. Menurutnya, harga yang ditawarkan pun tidak memiliki paten, masih bisa ditawar sesuai kondisi barang. Kisaran harga untuk kaos dan kemeja mulai dari Rp 35.000, jaket Rp 65.000, dan celana jins antara Rp 70.000 hingga Rp 100.000-an. Selain dari kondisi barang, merk juga menentukan harga pakaian bekas ini.
‘’Pembeli yang tidak mengerti merk, mintanya selalu murah, padahal kalau merk bagus di toko kan harganya mahal,” ujar Andi (25) seorang pegawai awul-awul di daerah Ngesrep.

Untuk baju yang diobral, pembeli bisa mendapatkannya dengan harga kurang dari Rp 10.000. Namun harus tetap jeli, mengingat baju-baju di tumpukkan lebih sering banyak yang cacat. Berbagai macam bentuk sandang dapat kita temukan di tempat penjualan baju bekas ini. Selain pakaian standar seperti kemeja, jaket, dan jins, ada juga rok, rompi, jas, baju anak, hingga seragam tentara lengkap.
‘’Usaha awul-awul ini telah memiliki cabang di beberapa kota seperti Pekalongan dan Tegal. Antusias masyarakat cukup besar untuk membeli baju bekas,’’ ujarnya.

Seorang pengunjung awul-awul, Hajir (20) warga Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik menyarankan, pakaian yang sudah dibeli, harus dicuci dulu sebelum dipakai.
‘’Bisa gatal-gatal kalau langsung dipakai. Mencucinya pun sebaiknya menggunakan air panas dan beberapa kali cuci, untuk menghilangkan debu, kotoran, atau siapa tahu ada bakteri atau virus yang menempel,’’ katanya. (Muhammad Syukron-87)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER