panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Suara Banyumas
13 November 2011
Mi Ongklok, Kuliner Lokal yang Mendunia
  • Oleh Edy Purnomo

JIKA Anda singgah ke Wonosobo, sekali waktu, coba mampir ke gerai mi ongklok yang tersebar di jalan protokol kota. Anda dijamin akan menemukan olahan khas yang tak bakal bisa ditemui di kota lain. Kentalnya mi bercampur lau atau sejenis lau bakal memanjakan lidah. Sejumlah wisatawan mancanegara sudah mencicipinya.

Tidak rugi jika Anda harus meluangkan sedikit waktu untuk mencicipi makanan ini. Bahkan, bukan berlebihan bila disebut sekali menjajal sensasi rasa mi ongklok maka akan ketagihan untuk selamanya.

Pasalnya, olahan ini, memang beda dari masakan kebanyakan. Rasanya nikmat, lezat, pedas dan bisa membuat lidah jadi nyem-nyem. Masakan tersebut,akan lebih klop jika disantap dengan sate sapi bakar.

Mi ongklok terbuat dari campuran mi kuning, sayur kol dan cai yang direbus setengah matang lalu diongklok (dicampur) dengan lau. Lau atau sejenis jenang dibikin dari kaldu ayam, bawang putih, mrica, gula merah, garam dan penyedap yang dimasak hingga mengental.

Sebelum dicampur, digerus cabai rawit mentah dalam mangkuk, untuk memberi rasa pedas. Tapi, soal yang satu ini, juga tergantung pada pesanan pengunjung. Mau pedas, sedang atau biasa, bisa dilayani terserah selera palanggan.

”Karena cara masaknya diongklok, makanan ini kemudian disebut dengan istilah mi ongklok,” kata Aminah (55), koki khusus Resto Onglok Kompleks Bugangan.

Tak usah bingung dan jangan khawatir tak ketemu. Pasalnya, mencari tempat mi ongklok sangat mudah. Mi ongklok legendaris Pak Muhadi misalnya, letaknya sangat strategis di pinggir jalan utama. Persisnya berada di Jalan Ahmad Yani No 1 Wonosobo yang merupakan jalur utama Wonosobo-Purwokerto.

Di depan kios mi ongklok Pak Muhadi berdiri Rumah Makan Wanaboga. Di sisi kiri tempat berkantor Koperasi Simpan Pinjam Pangestu. Di sebelah kanan berdempetan dengan Kantor Dinas Kesehatan Wonosobo.

Pokoknya, jika Anda menuju tempat ini tak bakal kesulitan atau kesasar. Jika terpaksa harus memburu, tak lama, pasti bakal segera ketemu. Tempat parkir mobil dan motor terbentang panjang di pinggir jalan.

Melihat Proses

Pemilik gerai mi ongklok Pak Muhadi, Mujiono Hadi, membangun tempat mengolah makanan khas ini di bagian depan. Sehingga begitu pengunjung masuk langsung bisa melihat proses memasaknya. Sayur kol, cai, cabe  segar dan mie, tampak terlihat dipajang di etalase.

Masuk ke dalam terdapat 6 deret meja panjang. Kapasitas seluruhnya bisa mencapai 70 orang. Di meja-meja tersebut diletakkan botol saos dan kecap. Juga mendoan dan kerupuk sebagai pelengkap sajian.

Pelanggan, dia sebut, selain warga Wonosobo, banyak juga yang datang dari luar kota seperti Semarang, Bandung, Jakarta dan Surabaya serta kota-kota lain di Jawa Tengah. ”Warga Wonosobo yang telah lama menetap di luar kota, jika pulang kampung, pasti menyempatkan datang ke sini.”

Selain melayani pelanggan di kiosnya, Mujiono mengaku tak jarang juga mendapat pesanan dari luar kota dan mengolah mi ongklok di sana. Ini, imbuh dia, biasanya berlaku bagi warga Wonosobo yang ingin menjamu koleganya dengan masakan asal daerahnya, jika sewaktu-waktu punya hajat atau acara pesta lainnya.

Pada tahun 2007, konsep mi ongklok lebih modern juga dididirikan. Namanya Resto Ongklok Bugangan. Pemilik resto, Ayi Iswardani (32) saat ditemui mengatakan, meski masakan dengan resep lokal, namun mi ongklok wonosobo saat ini sudah menjadi klangenan kuliner sejumlah turis dari berbagai negara.

”Mi ongklok sudah mendunia. Kami mengembangkan dengan konsep modern dengan mendidikan Resto Ongklok,” katanya.

Selain di wiyalah Wonosobo, dia juga sering mengirim pesanan dari berbagai kota seperti Jogja dan Semarang. Rata-rata per hari di restonya terjual 100 porsi lebih. Jika ramai, permintaan bisa melebihi dari ketersediaan normal.

Meski sudah banyak pedagang sampai sejauh ini secara resmi belum terbentuk paguyuban. Presidium Paguyuban Pedagang Mi Ongklok Wonosobo, Nurudin Ardiyanto mengaku saat ini masih tahap konsolodisi. Mengenai jumlah pedagang, dia memperkirakan ada 80 gerobak mi ongklok yang tersebar di wilayah perkotaan.

Dengan jumlah itu, imbuh dia, konsumsi mi ongklok per hari bisa mencapai 4.000 porsi. Kalkulasi itu dihitung dari rata-rata penjualan setiap gerobak 50 porsi. Pasalnya, pedagang mi ongklok kebanyakan berjualan hanya selama kurang lebih 8 jam setiap hari.

Menurutnya, prospek bisnis mi ongklok sejauh ini tetap bagus. Hal ini disebabkan tergolong jenis kuliner langka yang mempunyai ciri khas. Dia memperkirakan sepuluh tahun ke depan perkembangan mi ongklok akan pesat. Apalagi, saat ini mi ongklok satu-satunya kuliner yang diusulkan mendapatkan hak paten kekayaan khas asli daerah Kabupaten Wonosobo.(47) 


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER