panel header


RUKUN AGAWE SANTOSA
Bersatu Kita Teguh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
09 November 2011
Kepahlawanan Perempuan
  • Oleh Siti Muyassarotul Hafidzoh

PERINGATAN Hari Pahlawan setiap 10 November selama ini diperingati dengan penuh bias. Yang selalu ditampilkan sebagai pahlawan selama ini hanya laki-laki, sementara kaum hawa masih berada di pinggir perdebatan kepahlawanan.

Kisah perjuangan perempuan sering absen dikabarkan publik, sehingga tidak ada blue print yang bisa didengungkan untuk membuka lembaran baru kepahlawanan perempuan. Seolah masih tabu perempuan dilibatkan dalam proses kepahlawanan.

Apa yang terjadi ini merupakan jebakan suatu ideologi yang menempatkan perempuan hanyalah sebagai istri yang baik dan ibu yang baik. Sebagai istri yang baik, perempuan harus mengikuti semua keinginan suami. Perempuan harus bisa berhias diri untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi suami. Salah sedikit saja dalam berhias, bisa didamprat dan dihardik suami, kemudian dicap sebagai istri yang tidak baik. Sebagai ibu yang baik, perempuan harus bisa menghasilkan keturunan dan mendidiknya dengan sabar. Kalau tidak bisa memberikan keturunan, maka bukanlah sosok perempuan yang baik. Demikian juga kalau tidak bisa mendidik anak, maka dikatakan perempuan tidak baik. Kalaupun ada kesalahan yang terjadi pada diri anak, maka sang ibu dikatakan tidak bisa mendidik dan tidak sabar melayani keinginan anak. Semua kesalahan selalu ditimpakan kepada ibu.

Jebakan ideologi ini menjadikan perempuan harus patuh tanpa reserve kepada suami. Perkataan dan perintah suami menjadi sabda yang wajib dijalankan tanpa bantah. Superioritas laki-laki inilah yang mengakibatkan perempuan harus tunduk berada dalam rumah.

Ibu Kehidupan

Ideologi ini menjadikan perempuan hanya bertugas di dalam rumah. Ruang publik di luar rumah menjadi ”ruang haram” untuk dihinggapi. Karena tugas-tugas di rumah sudah menumpuk, maka kiprah di ruang publik sangat terbatas. Perempuan akhirnya meringkuk tak berdaya dengan jalan hidupnya. Gerakan feminisme merupakan wujud dekonstruksi atas pola tata kelola rumah tangga yang kaku. Sekat-sekat yang begitu kuat memaksa kaum perempuan untuk bertekuk lutut dalam pekerjaan rumah tangga. Proses dekonstruksi yang terjadi dewasa ini mewujudkan upaya serius kaum perempuan untuk semakin bisa memaknai ruang publik secara kritis.

Perempuan merupakan ibu kehidupan. Dari rahim perempuan, kehidupan juga dilahirkan, kehidupan diperjuangkan, dan kehidupan mendapatkan hakikat dan martabat. Peradaban dunia tak bisa hidup dengan penuh kebanggaan tanpa hadirnya sosok perempuan.

Nafas perempuan selalu menghadirkan kedamaian, kesejukan, dan ketenteraman. Para guru bijak zaman kuno (900-200 SM) mewartakan bahwa perempuan merupakan sosok pembela rasa; mengedepankan cinta, keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan melampaui egoisme dan egosentrisme.  

Sosok semisal Zoroaster, Buddha, Socrates, Konfusius, dan Yeremia, Mistikus Upanishad, Mensius dan Euripedes, menjadi teladan di zamannya karena mewartakan bela rasa terhadap perempuan. Musa, Isa, Muhammad, dan para guru bijak menjadikan perempuan sebagai tulang punggung negara. Bagi mereka, kalau perempuan baik, maka negara menjadi sejahtera. Akan tetapi kalau perempuan rusak, maka negara menjadi hancur dan berantakan.

Sejarah umat manusia menempatkan perempuan sangat luhur. Walaupun juga sejarah umat manusia telah menempatkan perempuan dalam jalan yang nista dan buruk. Sejarah memang bukan linier. Akan tetapi ruh perempuan selalu menghiasi jalannya peradaban dengan penuh rasa. Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa yang dicari Adam ketika diciptakan Tuhan, tak lain adalah perempuan. Dari Hawa, Adam mendapatkan kehidupan, sehingga perjalanan hidupnya di masa berikutnya bisa semakin sempurna lewat kehadiran anak-anaknya. Hawa adalah ibu kehidupan bagi Adam.

Di Indonesia, menurut pengakuan Pramoedya Ananta Toer, bukan siapa-siapa yang telah meletakkan batu sejarah modern Indonesia. Bagi Pram, Kartini adalah orangnya. Pram mengatakan bahwa ”Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah jang menggodok aspirasi-aspirasi kemadjuan yang ada di Indonesia untuk pertam kali timbul di Demak-Kudus-Jepara sejak pertengahan kedua abad yang lalu (XIX). Di tangannya, kemajuan itu dirumuskan, dirincinya dan diperjuangkannya, untuk kemudian mendjadi milik seluruh bangsa Indonesia.”

Bukan berarti mengesampingkan Budi Utomo (1908) dan gerakan lainnya, tetapi Pram melihat bahwa peran Kartini sebagai perempuan telah menandai permulaan dalam sejarah modern Indonesia.

Dari Kartini, kaum perempuan Indonesia mampu bangkit dan menyusun gerakan yang ”menghidupkan” Indonesia. Kartini menjadi rahim bagi lahirnya gerakan ”kehidupan” perempuan. Dan gerakan-gerakan kehidupan perempuan menandai lahirnya ”kehidupan Indonesia” itu sendiri. Ini bukanlah simplifikasi atau mengesampingkan yang lain, tetapi hakikat peradaban yang terbangun lewat gerakan kehidupan kaum perempuan memang menandai Indonesia modern yang menjungjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan.

Dengan etos kepahlawanan sebagai ibu kehidupan, sudah saatnya perempupan berani mengambil alih gerakan peradaban di masa depan, karena wajah kusam peradaban sudah capai dengan otoritarianisme kaum laki-laki yang pongah. Keindahan dan kebijaksanaan kehidupan yang lahir dari rahim perempuan harus disebarkan kepada publik. Bunda Teresa dari India telah memulai menampakkan dirinya kepada dunia bahwa kehadiran perempuan bisa mengobati kusamnya kehidupan. Bunda Terasa selalu tampil dengan wajahnya yang sejuk membawa air kehidupan kepada bangsanya. Gerakan Bunda Teresa tanpa memandang kasta dan kelas sosial. Bunda Teresa hadir untuk membela cinta dan kemanusiaan.    

Perempuan Indonesia di abad ke-21 saat ini berpeluang sangat besar untuk mencatatkan kisah suksesnya dalam mengisi peradaban dunia. (24)


—Siti Muyassarotul Hafidzoh, mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER