
SEMARANG- Peluang mahasiswa lulusan kesehatan untuk bekerja di Jepang kini terbuka lebar. Tiap tahun Jepang membutuhkan 100.000 pekerja kesehatan sebagai perawat di rumah sakit maupun sebagai care worker khusus lansia di panti jompo. Hal ini harus ditangkap mahasiswa kesehatan untuk meningkatkan kompetensi diri sesuai dengan standar Jepang.
“Ini peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik, dengan terus meningkatkan kemampuan terutama bahasa asing,’’ kata Ketua Stikes Widya Husada dokter Sulaeman SpA MM MKes MMR di sela-sela acara tes kompetensi 15 calon tenaga kerja kesehatan ke Jepang, di Kampus Stikes Widya Husada Krapyak, Semarang, kemarin.
Sulaeman mengatakan, tenaga kerja kesehatan Indonesia sangat diminati Pemerintah Jepang, sebab kemampuannya sudah teruji dan mempunyai sikap sopan santun yang tinggi,’’ ungkapnya.
Ia mengatakan, tes kompetensi dilakukan untuk memperoleh lulusan atau tenaga kesehatan yang cakap dan mau bekerja di Jepang. “Nanti setelah lolos tes mereka akan dikarantina untuk mendapatkan pelatihan standar kerja di Jepang,’’ tutur dia.
Pihaknya menggandeng Yayasan Bima Mandiri ASEAN untuk melakukan perekrutan. Tes ini terbuka untuk tenaga kesehatan lulusan mana saja baik fresh graduate ataupun yang sudah bekerja. Tes kompetensi ini juga bagian fasilitas bagi lulusan Stikes Widya Husada untuk mendapatkan pekerjaan.
Staf Ahli Yayasan Bima Mandiri ASEAN dokter gigi HM Arsjad Effendy MM mengatakan, tenaga kerja kesehatan Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Saat ini saingan utama tenaga kesehatan Indonesia berasal dari China dan Filipina. “Tapi, Pemerintah Jepang lebih tertarik dari Indonesia. Ini yang harus dimanfaatkan,’’ kata Arsjad. (adj-37)
(/)