panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
03 November 2011
Kelola Serayu demi Kesejahteraan
  • Oleh Wawan Yuwandha

RUNTUHNYA jembatan Soekarno di Cindaga-Rawalo Kabupaten Banyumas (SM, 27/06/11) membawa dampak bagi masyarakat sekitar, terutama penggali pasir.

Penambangan pasir diklaim sebagai penyebab utama runtuhnya jembatan yang didesain Presiden Soekarno itu. Penambangan pasir selama ini menjadi tempat bergantungnya ratusan orang tersebar di 28 depo pasir. Belum lagi jika menghitung rantai distribusi ekonomi yang melibatkan sopir dan buruh angkut truk, serta pemilik/ pekerja di warung di sekitar yang jumlahnya bisa ribuan orang.

Solusi yang ditawarkan pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) dengan memberi 14 karamba (SM, 09/08/11) belum bisa menjadi solusi jitu. Tak mudah mengubah mata pencaharian dari menambang pasir yang memberikan pendapatan tiap hari menjadi pembudidaya ikan air tawar yang membutuhkan waktu untuk mengisi periuk nasi.

Kebasen dan Rawalo berada di hilir Bendung Gerak Serayu (BGS). Bendungan yang diresmikan 20 November 1996 oleh Presiden Soeharto, selama beroperasi sampai saat ini baru satu kali dikeringkan total. Akibatnya, material sungai tertahan di hulu bendung. Volume penambangan pasir yang meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan tidak berimbangnya neraca pasir yang diambil dan pasokan pengganti dari bagian hulu. Karenanya, sebagian penambang pasir merasa dikorbankan dengan wacana penutupan lokasi tempatnya mencari nafkah.

Bendung Gerak Serayu dibangun untuk mengairi puluhan ribu hektare sawah, sebagian besar di wilayah Cilacap. Kehadiran bendung itu mengubah lahan persawahan di daerah ini dari tadah hujan menjadi irigasi teknis. Ketersediaan air sepanjang tahun mengubah pola tanam di daerah cakupan irigasi. Produksi padi dilakukan tiga kali setahun menyebabkan meningkatnya intensitas serangan hama seperti tikus dan wereng dalam beberapa tahun terakhir. 

Sejauh observasi yang penulis lakukan 6 bulan terakhir, seorang petani yang memiliki sawah 1400 m2 hanya bisa memanen 100 kg gabah kering karena serangan tikus pada musim tanam lalu. Padahal, umumnya lahan seluas itu bisa menghasilkan minimal 500 kg. Belum lagi jika menilik kerusakan persawahan akibat budidaya padi sepanjang tahun. Tanah terus dieksploitasi dengan komoditas sejenis tanpa masa bera, juga pergiliran tanaman dengan komoditas lain, seperti kedelai yang mampu memperkaya nitrogen dalam tanah.

Erosi Menerus

Tiadanya ketegasan pengaturan pola tanam ideal melalui pengaturan irigasi oleh pengelola bendung menyebabkan pola tanam padi tiga kali setahun terus dilakukan petani. Kehadiran bendung pun telah lama dirasakan dampak negatifnya. Tidak saja di bagian hilir dengan berkurangnya bahan tambang pasir, di bagian hulu erosi tebing terus berlangsung. Bentang sungai yang lebih mirip danau dengan kedalaman tinggi mengakibatkan erosi terus terjadi ke sisi sungai.

Di Tumiyang Kecamatan Kebasen, erosi mencapai angka belasan meter, dan sampai saat ini belum diupayakan penanganan memadai.  Selain itu, terjadi pendangkalan yang sangat cepat pada anak sungai, seperti Kali Loning sehingga menyebabkan luapan banjir pada musim hujan. Masyarakat di daerah ini telah lama kehilangan beberapa biota ikan, seperti lobster air tawar (urang watang) dan pelus karena berubahnya morfologi sungai.

Penyelesaian konflik penambangan pasir sebenarnya bisa dilakukan tanpa mengorbankan satu pihak melalui pengaturan bendung. Kehadiran bendung harus pula tidak merugikan masyarakat. Perlu dilakukan pengeringan irigasi total pada musim kemarau yang akan berdampak pada beberapa poin penting, yaitu tersedianya bahan tambang bagi daerah hilir, penyelamatan lahan pertanian di daerah cakupan irigasi melalui pengaturan pola tanam, serta normalisasi Sungai Serayu dan anak sungai yang bermuara di Serayu bagian hulu bendung. 

Kerusakan lingkungan yang ditakutkan dengan adanya penambangan pasir bukan hal yang tidak bisa diatasi. Pengaturan daerah penambangan melalui mekanisme perizinan dan pengawasan berkala bisa dilakukan. Penambang pasir perlu pendampingan bukan justifikasi bahwa mereka merusak lingkungan dan mengatasi dengan memutus mata pencahariannya. (10)


— Wawan Yuwandha SP, aktivis pada Institut Pemberdayaan Rakyat (Inspera), tinggal di Banyumas


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER