panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
02 November 2011
Memahami TKW di Malaysia
  • Oleh Tri Marhaeni Pudji Astuti
MEMBICARAKAN  sosok TKW, seperti tak akan pernah ada habisnya. Sebenarnya setiap saat banyak kasus yang dialami oleh TKW di luar negeri, terutama di Malaysia.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya berbagai kasus tindak kekerasan, penipuan, bahkan perdagangan perempuan yang menimpa para TKW kita.

Mengapa Malaysia? Secara geografis, Malaysia dekat dengan Indonesia. Secara bahasa dan budaya, merupakan satu rumpun, yaitu bahasa dan budaya Melayu. Hal ini tampaknya menjadi sesuatu yang dinafikan atau dianggap gampang oleh para calon TKI dan TKW kita, juga oleh agen-agen penyalur tenaga kerja. Padahal kalau kita mau jujur, tidak bisa semudah itu persoalan kedekatan geografis dan perasaan satu rumpun, dianggap gampang. Justru banyak persoalan muncul karena faktor tersebut.

Pertama, karena secara geografis merasa dekat, maka mereka menggampangkan cara-cara pemberangkatan untuk sampai di tempat tujuan. Bisa melalui darat, laut ataupun udara, dan tak memerlukan waktu lama. Ternyata kemudahan transportasi tersebut diikuti dengan jalur-jalur ilegal yang memudahkan masuknya para TKW dan TKI ke Malaysia.
Jaringan pihak-pihak yang berkepantingan dengan pemberangkatan TKW rela membuat suatu jaringan pemalsuan identitas, yang penting mereka bisa cepat berangkat.

Kedua, kesamaan rumpun dalam bahasa dan budaya sering menjadikan para TKW kita underestimate tentang hal itu. Mereka menganggap mudah dan cepat menyesuaikan diri dengan bahasa dan budaya Melayu, padahal kenyataan yang dialami di Malaysia sangat jauh berbeda. Hal inilah yang sering menimbulkan berbagai tindakan yang merugikan TKW, hanya karena hal-hal yang dianggap sepele, seperti kesalahpahaman bahasa dan kebiasaan.

Standar Ganda

Satu hal yang jarang terungkap adalah pemahaman legal dan ilegal, baik di kalangan TKW maupun pemerintah kedua negara. Dalam kenyataannya, tidak semua TKW kita adalah ilegal, banyak yang legal atau resmi. Mereka datang secara resmi dan ditempatkan secara resmi sesuai aturan, namun di tengah perjalanan, sang majikan menciptakan suasana yang membuat para TKW kita tidak kerasan, misalnya dengan berlaku kasar, tidak membayarkan gaji, atau membayar tidak sesuai kontrak, melakukan pelecehan dan lain-lain. Hal itu semua menyebabkan TKW kita tidak tahan dan lari ke luar rumah majikan. Begitu dia lari tanpa selembar identitas pun, maka dia menjadi ilegal. Begitu dia ilegal, maka dia tak mepunyai posisi tawar menawar sama sekali.

Ketika menjadi ilegal, maka mereka akan hanya digaji murah, dan memang inilah yang diinginkan majikan atau perusahaan. Untuk mengetahui tempat keberadaannya saja, dia tidak tahu, apalagi melindungi dirinya sendiri.
Kenyataan di lapangan, ada standar ganda dalam memandang masalah legal dan ilegal ini. Selalu yang dikejar-kejar adalah TKI dan TKW kita, bukan majikan yang membuat mereka ilegal. Mengapa majikan, perusahaan yang membuat mereka ilegal dan memepekerjakan mereka secara ilegal  tidak pernah tersentuh hukum di Malaysia? Dan mengapa kita tidak bisa menyuarakan dan memprotesnya?  Atau sudah, tapi cuma sekadar bergaung, tak ada hasil?
Kita tidak bisa berharap banyak hal ini disuarakan oleh para TKI atau TKW. Pemahaman hukum, pengetahuan, dan pendidikan mereka rendah. Bagaimana mereka bisa menyuarakannya?

Hal ini tampaknya sesuai dengan kenyataan, ketika batas waktu pekerja ilegal ditetapkan dan harus meninggalkan Malaysia, banyak majikan dan perusahaan memanfaatkan momen ini justru untuk tidak membayar gaji mereka sampai batas waktu yang ditetapkan pemerintah Malaysia. Karena dengan harapan, pekerja kita tak punya waktu lagi mengurus gajinya, dan langsung meninggalkan Malaysia daripada masuk penjara. Akibatnya, masih banyak pekerja kita tak mau meninggalkan Malaysia karena akan mengurus gajinya, dengan risiko mereka ditangkap dan masuk penjara.
Sementara secara hukum, penangkapan pekerja ilegal dibenarkan karena memang sudah ada aturannya dan sudah ada batas waktunya. Tetapi apa yang menyebabkan mereka tetap bertahan di Malaysia, tidak pernah tersentuh hukum. Majikan atau perusahaan yang menahan gaji tak pernah merasa bersalah.

Dampak Psikologis

Memang, dengan makin marak jumlah perempuan pergi ke luar negeri membawa berbagai dampak, baik untuk keluarga, masyarakat, pemerintah maupun bagi diri TKW itu sendiri. Secara umum, dampak ekonomi akan menjadikan bahasan utama dalam berbagai pembicaraan.
Bagi keluarga yang ditinggal, gaji yang dikirim akan sangat bermanfaat dan menjadi harapan terbesar untuk kelangsungan hidup keluarga.

Bagi pemerintah, sebenarnya ada dua sisi yang selalu menjadi pembicaraan. Pertama adalah devisa yang dihasilkan akan menguntungkan negara. Kedua, ternyata, keberangkatan TKI/TKW kita juga menyisakan berbagai masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah (yang tampaknya belum ditangani secara serius). Kebijakan pemerintah masih hanya sebatas penanganan sesaat dan jika timbul masalah. (24)

—Tri Marhaeni Pudji Astuti, dosen Jurusan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Unnes
(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER