panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Wacana
21 Oktober 2011
Akhir Sejarah Gaddafi
  • Oleh Ibnu Burdah
’’LAHIR dalam derita, muda hingga tua berjaya luar biasa, dan menjelang ajal dimaki dan dihina’’. Itulah ringkasan sederhana dari sejarah hidup Muammar Gaddafi, si anak badui miskin, remaja yang penuh ambisi, penguasa yang ’’disanjung’’ rakyatnya melebihi dewa, dan manusia yang kini paling dihina kendati masih ada sebagian orang masih membela. Setelah berupaya bertahan dengan sisa kekuatannya, Gaddafi dikabarkan tewas tertembak di kota kelahirannya Sirte.

Sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari ambisinya yang meluap-luap, yang membuat hidupnya yang penuh derita berubah secara ekstrem menjadi penguasa yang paling dipuja rakyatnya selama berkuasa. Didorong oleh ambisi itu, remaja Gaddafi yang masih belajar di akademi militer telah memiliki keberanian untuk merencanakan sesuatu yang orang-orang sebayanya barangkali tidak pernah kendati hanya memikirkannya.

Ia berencana mengudeta Raja Idris yang berwibawa di mata rakyatnya. Ia ingin menjadi Gamal Abdul Nasser, sang orator yang berapi-api, pemimpin revolusi Mesir, pemimpin bangsa Arab, dan  pemimpin yang berani menentang negara-negara adidaya dunia. Melalui revolusi tidak berdarah, sang kolonel bersama sejumlah perwira muda mewujudkan rencana itu pada 1 September 1969. Ketika itu, Gaddafi baru berusia 27 tahun. Kekuasaan Raja Idris berhasil direbut ketika ia berada di Turki untuk pemeriksaan medis. Ambisinya berhasil mendorongnya mencapai tahap penting keberhasilan hidupnya. Ia pun melanjutkan langkah untuk menjadi Nasser muda pada awal-awal kekuasaannya.

Gaddafi, pemimpin baru Libia, menjalankan politik tinggi dalam pergaulan kawasan dan internasional. Petualangan ekstrem bahkan dilakukan. Selain berupaya menyatukan Arab lewat membuat federasi dengan Mesir dan Suriah, serta pernah pula dengan Tunisia, Gaddafi melakukan perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai imperialisme. Cap anti-Amerika dan Eropa sangat kental mewarnai Libia di bawah kepemimpinannya. Orang-orang Italia yang sudah menetap lama di Libia diusir sebab Italia menurutnya menanggung sejarah penuh dosa terhadap Libia, penjajahan.
Ia juga mensponsori gerakan-gerakan radikal dan berbagai aksi teror  di mana-mana untuk mewujudkan ambisinya sebagai orang besar dan punya pengaruh di dunia. Presiden Reagen saking jengkelnya menyebutnya sebagai Mad Dog dari Timur Tengah, bahkan pernah berencana menggulingkan kekuasaannya secara paksa.

Menulis Buku

idak hanya itu, ia juga ingin menjadi Mao yang dipandangnya sebagai pemimpin besar dunia pada abad ke-20. Jika idolanya menulis Buku Merah untuk menggariskan masa depan dunia, maka Gaddafi juga melakukan hal serupa. Ia menulis Buku Hijau (al-Kitab al-Ahdhar) yang salah satunya berisi ambisinya untuk membangun ideologi ketiga setelah kapitalisme dan sosialisme. Ia sama sekali tidak mau mengaca seberapakah kapasitas dirinya. Yang jelas, ia  menggambarkan dirinya tidak kalah dari siapa saja.

Bara ambisi yang tidak ada batasnya itu pula yang kemudian melahirkan kobaran kemarahan rakyat Libia yang mendesaknya untuk enyah dari negeri yang melahirkannya. Gaddafi hampir menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya dan mencapai ambisinya. Bukan hanya tidak memberi celah untuk oposisi di Libia, Qaddafi juga mengejar penentangnya hingga ke Eropa.  Penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan adalah cara-cara standar untuk mereka yang menentangnya.

Inilah yang membuat kebencian rakyat Libia sangat dalam dan ketika telah ada momentum, kebencian itu meluap menjadi gerakan massa yang hampir tidak bisa dihentikan. Mulai protes-protes kecil di kota Benghazi oleh keluarga korban pembunuhan massal dan sadis di penjara Abu Salim, protes rakyat itu terus menjalar ke seluruh Libia. Semula dari wilayah Timur kemudian menjalar ke arah Barat dan ke ibu kota. Rakyat Libia yang selama ini patuh kepadanya ternyata memiliki keberanian tiada tara.
Gaddafi kalap dan menggunakan apa saja yang masih tersisa untuk menggenangi Libia dengan darah rakyat yang selama ini mengagung-agungkannya.

Di tengah sepi, menjelang akhir hayatnya, Gaddafi barangkali mulai merenungkan hidupnya, dan barangkali menyesali sebagian perbuatannya. Ia barangkali mulai mengeja kembali sejarah hidupnya, masa lalunya, orang tua, kampung halamannya, upayanya merebut kekuasaan, kejayaannya, mimpi-mimpinya, dan seterusnya. Ambisi telah mengantarkan anak gurun itu ke puncak kejayaan sekaligus membuatnya terjerumus ke dalam jurang yang paling dalam. Sejarah Gaddafi telah berakhir. (10)

— Dr Ibnu Burdah MA, pemerhati masalah Timur Tengah dan dunia Islam, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tinggal di Kendal
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER