TIGA perempuan perkasa kembali mengukir sejarah dunia, dengan meraih nobel perdamaian 2011. Mereka adalah Leyma Gbowee (39) yang mampu mengorganisasi perempuan lintas agama (Muslim-Kristen) untuk menekan para suami agar tidak melakukan perang saudara di Liberia, dengan cara mogok seks. Mereka berkomitmen untuk tidak melakukan hubungan seks dengan suaminya jika tetap kekeh melakukan perang saudara.
Kedua, Tawakkul Karman (32) yang menjadi tauladan serta simbol perjuangan rakyat Yaman dalam menumpas tirani kekuasaan yang pongah. Ia bukan hanya memperjuangkan kaum perempuan negaranya, tetapi masyarakatnya secara keseluruhan. Ketiga, Ellen Jhonson Sirieaf (72) yang menduduki tahta tertinggi Liberia sebagai presiden. Di bawah naungan kekuasaannya, ia memberikan sumbangsih kepada bangsanya bisa keluar dari kemelut perang saudara yang berlangsung kurang lebih 14 tahun dan mendorong pembangunan ekonomi, sosial serta memperkuat posisi perempuan.
Menarik untuk kita cermati bersama, bahwa perempuan sejatinya memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengubah sejarah dunia. Terutama dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan di dunia ini.
Sosok peran yang dilakoni peraih nobel perdamaian tersebut, mengingatkan kita pada sejumlah tokoh perempuan Indonesia yang berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan dari rongrongan penjajah. Cut Nyak Dien, Christina Tiahahu, Cut Meutiah, RA Kartini adalah perempuan perkasa simbol perdamaian Indonesia, yang berjuang dengan tulus guna keluar dari ketertindasan sang penjajah.
Sisi Lain Perempuan
Perempuan secara fisik memiliki keunikan dibanding dengan laki-laki. Sisi lain tersebut jika dijadikan harga tawar yang tinggi terhadap sebuah perubahan, tentu akan membawa dampak yang signifikan, terutama untuk melawan kejahatan yang didominasi kaum lelaki. Hal itu akan menjadi senjata ampuh dalam upaya menekan tindak keriminalitas, seperti korupsi saat ini, yang masih menggerogoti sisi kehidupan bangsa Indonesia yang menimbulkan efek menyengsarakan rakyat.
Apa yang dilakukan Leyma Gbowee merupakan contoh sederhana dalam menekan sejumlah persoalan yang membelit sebuah negara atau pun bangsa. Apabila perempuan Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan Leyma Gbowee dalam upaya menekan tindak pidana korupsi, tentu para koruptor akan berpikir dua kali jika akan menjalankan aksinya. Dan apabila seluruh istri pejabat-birokrat dari level bawah sampai tingkat elite bahu membahu menentang korupsi dengan tidak memberikan jatah biologisnya dalam jangka waktu tertentu, yang didukung perempuan di seluruh Indonesia, kemungkinan besar mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan korupsi.
Kekuatan Tersembunyi
Modal dasar perempuan tersebut patut dicoba dan direalisasikan, agar perkara korupsi tidak lagi bersemi. Perempuan memiliki kekuatan yang tersembunyi yang tidak dimiliki laki-laki. Seorang laki-laki perkasa dan kuasa pun bisa bertekuk lutut di hadapan perempuan. Contoh konkret, beberapa tahun lalu anggota Dewan, sebut saja YZ dan MA, tersandung video mesum yang sempat menggegerkan republik ini. Belum lagi kasus Amin Nasution, mantan suami pedangdut Kristina, yang bikin heboh.
Mantan pimpinan KPK Antasari Azhar juga tak luput dari jebakan perempuan. Contoh lain, Presiden Prancis Sarkozy, yang kesandung masalah perselingkuhan dengan seorang atlit karate. Dominique Strauss Khan, Mantan Direktur Pelaksana IMF juga terjerumus kasus pelecehan wanita.
Itulah kehebatan perempuan yang tersirat dalam guratan sifat kewanitaan yang selama ini terpendam. Apabila sifat itu bangkit, bisa menghancurkan dan mengalahkan segalanya, tak peduli kedudukan tinggi.
Menurut Siti Musdah Mulia dalam bukunya Menuju Kemandirian Politik Perempuan (2008), ada tiga kategori peran dan posisi kaum perempuan. Pertama, perempuan sebagai anak. Kedua, perempuan sebagai istri, dan ketiga perempuan sebagai warga negara.
Peran yang ketiga, perempuan sebagai warga negara memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam bidang kehidupan, termasuk ikut berkiprah menegakkan kebenaran dan keadilan dalam upaya memberantas korupsi.
Sisi lain wanita yang unik itu harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menggalang kekuatan guna mencegah terjadinya pelanggaran kejahatan, seperti korupsi. Belajar dari Leyma Gbowee dengan aksinya mogok berhubungan biologis, layak dicontoh perempuan di Indonesia. Perempuan memiliki andil yang luar biasa dalam kiprahnya membentuk sebuah peradaban yang damai. Dan sudah saatnya perempuan berperan serta dalam memberantas mafia ketidakadilan itu. Korupsi adalah salah satu bentuk ketidakadilan yang perlu segera ditumpas sampai ke akar-akarnya.
Marilyn French, seorang feminis dalam bukunya Beyond Power, mengatakan, kuasa laki-laki adalah power over sedangkan kuasa perempuan adalah power to. Kuasa power over sifatnya menindas, sedangkan kuasa power to adalah membagi dan konstruktif. Kuasa perempuan secara konstruktif bisa dimanfaatkan untuk membagi perannya, memanfaatkan sisi lain dan modal dasar yang dimilikinya untuk memberikan efek jera ataupun mencegah terhadap perilaku korupsi.
Jika kaum perempuan ingin mengubah sejarah peradaban Indonesia, maka harus memulai perubahan itu sejak dini, dan harus banyak belajar dari para pejuang pendahulunya, bahu-membahu menggalang persatuan dan kesatuan melawan ketidakadilan. (24)
— Tri Wahyuni Kurniasih, pemerhati sosial tinggal di Yogyakarta
(
/)
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad