panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
12 Oktober 2011
Tak Ada Alasan Fobia Feminisme
  • Oleh Tri Marhaeni Pudji Astuti

BERBICARA mengenai masalah feminisme, bersiaplah bahwa kita bukan berbicara dengan orang-orang yang siap mengatakan ”setuju”.

Reaksi yang selalu muncul,  feminisme itu datang dari Barat, antilaki-laki, pendukung seks bebas dan lesbianisme. Alergi itu tidak hanya menyerang laki-laki, tetapi juga perempuan, baik yang ”berpengetahuan” maupun yang tidak. Ketidaktahuan dan ketidakmautahuan tentang feminisme secara lebih utuh memperparah alergi feminisme ini.

Kebanyakan orang bereaksi dengan cara ketidakutuhannya itu, kemudian juga menjadi tidak lengkap pemahamannya. Lebih parah lagi, mereka yang terserang alergi dan tidak mau ”memahami feminisme” berbicara secara luas dengan pemahaman yang salah.

Kita berbicara soal paham atau aliran yang tidak berdiri sendiri. Ia diwarnai latar belakang budaya, etnis, ras, ekonomi, pendidikan, dan penafsiran agama (Andriyani dan Prabasmoro, 2000). Bahwa setiap orang mempelajari aliran atau paham feminisme adalah sah-sah saja sebagai sebuah pengetahuan. Dan, sebenarnya sama saja dengan mempelajari paham-paham atau aliran lain yang ada dalam ranah ilmu pengetahuan.

Ketika kemudian setelah seseorang —baik laki-laki maupun perempuan— mempelajarinya lalu menjadi ”seorang feminis”, itu adalah pilihan.

Akan tetapi tidak semua orang yang mempelajari paham feminisme lantas menjadi seorang feminis yang juga lantas ”harus dijauhi” karena takut tertular virus feminisme.

Feminisme bukan hanya ada di dunia Barat, tetapi juga di Timur. Banyak tokoh feminis yang juga lahir dari dunia Timur, salah satu yang terkenal adalah Nawal El Saddawi. Novel kecilnya yang terkenal, Perempuan di Titik Nol, Catatan Memoir Seorang Dokter, dan Perjalananku Mengelilingi Dunia. Feminisme tidak hanya ”boleh” dipelajari oleh kaum perempuan, tetapi laki-laki juga justru harus paham agar tidak buru-buru alergi. Yang penting sebenarnya bukan namanya, namun esensi yang diperjuangkan untuk lebih menyeimbangkan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Saya merasa, mitos ”feminisme lahir dari Barat oleh karenanya tidak bisa dipahami oleh akal orang Timur”, sepertinya sengaja diciptakan untuk membuat orang alergi jauh sebelum ia mengerti apa itu feminisme.

Penyebab Permasalahan

Tentu di ruang yang sangat terbatas ini tidak mungkin saya mengupas tuntas berbagai aliran feminisme. Saya mencoba menulis esensi dari berbagai paham untuk membuktikan tidak ada satu pun yang menyalahkan laki-laki. Rosemarie Tong (Feminist Thought, 1989) menyebutkan, dalam feminisme liberal subordinasi perempuan terjadi karena ada suatu set budaya dan hukum yang membatasi akses dan sukses perempuan di dalam sektor publik. Pembatasan ini terjadi karena ada keyakinan yang salah bahwa perempuan tidak sekuat dan secerdas laki-laki.

Feminisme liberal percaya, untuk menyejajarkan perempuan dan laki-laki, semua hambatan dan sistem yang membatasi aktualisasi diri perempuan harus dihapuskan. Namun kenyataannya, ketika suatu sistem yang dianggap diskriminatif dicabut, atau peraturan yang mendorong terjadinya keadilan gender diundangkan, tidak ada jaminan akan adanya kemajuan bagi perempuan.

Feminisme radikal  melihat akar permasalahannya adalah sistem seks dan gender. Suatu sistem, dan laki-laki adalah salah satu elemennya.

Karenanya, ia bukan penyebab permasalahan itu secara keseluruhan. Penyederhanaan sistem seks dan gender menjadi identik dengan ”laki-laki” sangat menyesatkan. Meskipun aliran feminisme radikal ini terdiri atas dua kelompok yang berpandangan bertolak belakang, namun tak ada satu pun yang meyalahkan laki-laki.

Feminisme marxis dan sosialis mengatakan, penyebab penindasan terhadap perempuan lebih pada klasisme (diskriminasi -Red) daripada seksisme. Penindasan perempuan bukan hasil tindakan individu melainkan produk dari struktur politik, sosial dan ekonomi tempat seorang individu hidup. Solusi yang ditawarkan: kemandirian ekonomi perempuan dengan berkiprah di sektor publik. Perempuan tidak tergantung pada laki-laki. Dengan kemadirian ekonomi, perempuan akan sejajar dengan laki-laki.

Lebih Seimbang

Feminisme psikoanalisis dan gender mengatakan, ketertindasan perempuan berakar dari psikisnya, terutama dari cara berpikir perempuan.

Ketimpangan gender datang dari pengalaman masa kecil yang membuat perempuan melihat dirinya sebagai feminin dan laki-laki maskulin, dan menganggap feminitas lebih rendah daripada maskulinitas.

Paham ini menyarankan masyarakat untuk lebih androgin yang mau menerima sifat-sifat perempuan feminin tetapi juga maskulin dan sebaliknya, agar masyarakat lebih seimbang.

Dari beberapa paham feminisme yang sering diperbincangkan itu, jelas terlihat paham feminisme apa pun tidak ada yang menyalahkan laki-laki sebagai sosok yang membuat ketertindasan perempuan. Sistem budaya, peraturan hukum, struktur masyarakat, dan sosialisasilah yang lebih berperan dalam menciptakan ketimpangan relasi gender. Bahkan akhirnya yang tercipta adalah struktur yang sengaja atau tidak diciptakan oleh laki-laki, untuk laki-laki.

Karena itu, jangan menganggap feminisme sebagai virus yang wajib dijauhi, karena kenyataannya tidak ada satu paham pun yang menyalahkan laki-laki. Maka para laki-laki (juga perempuan) tidak usah buru-buru alergi terhadap mereka yang memperjuangkan terciptanya relasi gender yang lebih imbang dan egaliter. (24)


— Tri Marhaeni Pudji Astuti, dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Unnes

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER