panel header


NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Semarang Metro
08 Oktober 2011
Sumini Pernah Menipu Puluhan Juta Rupiah
  • Depresi Akibat Cerai dan Kematian Anak
ORANG mengenalnya se­bagai polwan ayu dan bersuara merdu. Tapi andalan protokoler Polres Salatiga ini, kini ditahan karena terbukti mengon­sumsi sabu-sabu.
Sejak masuk daftar pencarian oran (DPO) dan akhirnya ditahan, Bripka Sumini Hardjo atau yang akrab disapa Mini Hardjo, kini menjadi buah bibir masyarakat Salatiga. Tak ada yang menyangka mantan se­kretaris pribadi (sespri) kapolres itu menjadi pecandu bahkan pengedar sabu-sabu.

Namun untuk mengorek keterangan jatidiri polwan kelahiran Magetan 8 Juni 1972 ini tidak mudah. Teman-teman sesama anggota Polres enggan berkomentar bahkan terkesan tutup mulut.

Begitu pula ketika Suara Mer­deka menelusuri kos-kos­annya di Jalan Seruni No 1, Si­do­rejo, Kota Salatiga, tidak ba­nyak masyarakat sekitar yang mengenalnya. Bahkan tidak ada yang mengetahui bahwa Ju­li lalu kos-kosan itu pernah di­gerebek puluhan anggota polisi.

Namun dari beberapa sumber yang layak dipercaya menyebutkan bahwa Sumini sebenarnya Polwan yang cukup pupuler di kalangan polisi.
Paras cantik ditunjang sikapnya yang ramah membuat dia menjadi polwan idola. Mini dikenal memiliki suara merdu dan dalam, sehingga dipercaya menjadi pembawa acara (MC) di setiap gawe besar Polres Salatiga.

Dari penelusuran berbagai sumber, karier Mini dimulai di Ditlantas Mabes Polri tahun 1992. Tapi karena persoalan rumah tangga, tahun 2000 dia pindah ke Polres Salatiga di bagian sumber daya manusia.

Wanita berzodiak gemini itu memiliki penguasaan Bahasa Inggris yang lumayan. Karenanya setelah sempat menjadi anggota provos, ia pernah akan dipromosikan ke Unit Pengamanan Objek Vital (Unit Pamobvit) yang populer disebut polisi pariwisata.
Kala Polres Salatiga dipimpin AKBP Susetyo Cahyadi, Mini bahkan dipercaya menjadi sespri kapolres. Namun beberapa bulan belakangan ini, anggota satuan bimbingan masyarakat (bimas) ini jarang kelihatan.

Kegiatan apel dan kegiatan polres lainnya tak pernah diikutinya. Sebuah sumber mengatakan, ibu tiga anak ini terguncang akibat kematian salah satu anaknya. Dikabarkan, anaknya mengalami kanker otak dan dirawat hingga ke Singapura, sebelum meninggal akhir 2007. Ditambah perceraiannya dengan suaminya, Hardjo, membuat dia depresi berat.
“Sayangnya depresi tersebut disalurkan ke hal-hal tidak benar seperti mengonsumsi  sabu-sabu,” kata sumber yang minta disembunyikan identitasnya.
Menurut sumber itu, Sumini juga pernah disidang kode etik sekitar akhir 2010 lalu. Wanita bersenyum menawan ini diduga melakukan penipuan penjualan kios senilai puluhan juta di daerah Sidomukti.

“Kemungkinan uangnya digunakan untuk pengobatan anaknya. Setelah diobati dengan biaya mahal karena harus ke Singapura, ternyata nyawa anaknya tak tertolong. Ini mungkin yang membuat Bripka Sumini depresi dan lari ke hal negatif,” kata sumber lain.
Dari catatan Propam Polda Jateng, Mini diketahui bermasalah dengan disiplin kerja sejak Juli tahun ini. Awalnya, polwan idola ini tidak masuk kerja dua hari, 19-20 Juli. Kapolres memerintahkan pencarian.

Ia ditangkap di kosnya di Jalan Seruni 21 Juli. Informasi menyebutkan bahwa kosnya itu sering digunakan sebagai tempat persembunyian seorang bandar narkoba bernama Eko. Namun dalam penggerebekan, Eko tidak tertangkap.
Hari itu juga Mini dites urine. Hasilnya ia positif mengonsumsi sabu-sabu. “Namun karena tidak ditemukan barang bukti, maka ia hanya dikenai sidang disiplin, statusnya dalam pengawasan,” kata Kabid Propam Polda Jateng Kombes Alex Alim Rewos.

Tapi sebelum sidang disiplin digelar, sejak 22 September Mini menghilang. Empat hari kemudian tanpa dinyana ia datang sendiri ke mapolres. Tes urine dilakukan lagi. Namun Mini berlaku curang dengan mencampur urine dengan air. Dokter mengetahui dan menyuruhnya kencing lagi.

“Sebelum tes kedua, dia izin mau nge-charge ponsel, diizinkan. Ternyata kesempatan itu digunakannya untuk kabur sampai sekarang,” kata Alex.
Kasus Mini juga menjadi perhatian Kapolda Jateng Irjen Didiek Sutomo Triwidodo. Ia menginstruksikan untuk secepatnya menangkap Mini yang telah mencoreng nama baik korps.
“Hukuman tegas harus ditegakkan, dia akan dikenai pemecatan secara tidak hormat,” tegas Didiek.
Kasus ini menjadi preseden untuk seluruh anggota Polda Jateng. Kapolda memperingatkan dirinya tidak akan memberi ampun untuk setiap anggota yang melakukan pelanggaran apapun.
“Itu sesuatu yang tidak pantas dilakaukan anggota polri, kita harus jadi pelindung, pengayom, pelayan sekaligus panutan masyarakat,” tandasnya. (Anton Sudibyo, Moch Kundori, Basuni H-39)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER