panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Kesehatan
06 Oktober 2011
ITP, Penyakit Kelainan Darah
  • Oleh Dito Anurogo

PERNAHKAH di tangan atau kaki Anda muncul bintik-bintik kecil berwarna merah, mudah mimisan, gusi mudah berdarah, bila berdarah sulit berhenti, atau gangguan haid? Waspadailah hantu darah. Segeralah ke dokter! Bila terlambat, nyawa taruhannya. ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) merupakan kondisi dimana jumlah keping darah (trombosit) rendah, yang menurut medis diistilahkan thrombocytopenia. Istilah “idiopathic” berarti tidak atau belum diketahui penyebabnya. Kemudian, istilah “purpura”  berarti kondisi dimana seseorang memiliki luka memar yang banyak/berlebihan, atau kondisi dimana seseorang mudah menjadi memar.

Meskipun ITP belum diketahui penyebabnya, namun berdasarkan riset di Ryugo Sato, Oita University, Jepang dan Massimo Franchini, University of Verona, Italia menemukan hubungan antara ITP dengan infeksi Helicobacter pylori. Beberapa penderita yang diberi terapi antibiotik untuk membasmi bakteri Helicobacter pylori,  terbukti hitung trombosit mereka naik secara dramatis.

Selain itu, ditemukan kelainan antibodi pada penderita ITP. Antibodi merupakan prajurit di dalam tubuh manusia yang siap memerangi bakteri-virus jahat yang memasuki organ tubuh. Anehnya, pada penderita ITP, antibodi ini bahkan menyerang dan menghancurkan sel-sel darah merah tubuhnya sendiri. Jadi ibaratnya, prajurit yang mirip serigala berbulu domba alias si pengkhianat.

 Insiden ITP diperkirakan 50ñ100 kasus baru per juta/tahun. Setidaknya 70% penderita anak-anak akan sembuh dalam 6 bulan, bahkan tanpa terapi. ITP paling sering dialami orang berusia 20-50 tahun, lebih sering wanita dibandingkan pria dengan rasio 2:1. Di masa anak, ITP sering dipicu infeksi virus dan biasanya dapat sembuh sendiri. Pada orang dewasa, ITP dapat menjadi kronis (menahun).

Potret Klinis

ITP dikenali melalui tanda-gejala: sangat mudah mengalami luka/memar, bahkan hingga mengalami perdarahan dalam waktu relatif lama setelah terluka. Muncul bintik-bintik kecil berwarna merah (disebut petechiae) yang muncul di permukaan kulit, terutama di anggota gerak (tangan-kaki). Dapat juga mimisan spontan dan terkadang sulit berhenti, perdarahan spontan di gusi (gusi berdarah yang terjadi mendadak), terkadang hingga perdarahan di organ dalam (seperti: usus), terdapat darah di urin/tinja, atau keluar darah yang banyak saat operasi. Waktu perdarahan memanjang atau darah sulit membeku setelah terluka/operasi. ITP tidak menyebabkan lemah, letih, lelah.

Semua kondisi ini biasa terjadi bila hitung trombosit di bawah 20.000/mm kubik. Bila angka di bawah 10.000, berarti sudah dalam kondisi gawat. Perlu diketahui, hitung trombosit pada orang sehat berkisar 150.000ñ450.000 per mikroliter darah. Wanita dewasa penderita ITP dapat disertai menorrhagia. Menorrhagia yaitu: haid atau menstruasi dengan interval siklus teratur namun dengan aliran dan waktu yang berlebihan. Secara klinis, menorrhagia berarti kehilangan darah total hingga lebih dari 80 mL per siklus, atau haid yang berlangsung lebih dari 7 hari. Sebagai pembanding, siklus haid normal berdurasi 21-35 hari, dengan perdarahan sekitar 7 hari, dan kehilangan darah 25-80 mL. Dokter akan menegakkan diagnosis ITP melalui anamnesis (wawancara terstruktur) yang ditujukan kepada penderita-keluarga, didukung pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan laboratorium, dimana trombosit terlihat membesar (megakariosit) dan dijumpai anemia (kurang darah) ringan.

Solusi

Terapi lini pertama yang diberikan dokter sesuai indikasi adalah kortikosteroid, biasanya methylprednisolone atau prednisone, yang dapat meningkatkan hitung trombosit. Prednisone diberikan secara oral (lewat mulut) dengan dosis 1ñ2 mg/kg berat badan per hari. Untuk penderita ITP dengan Rh-positif, dapat diberikan Rho(D) immune globulin (Anti-D) secara intravena. Pada kondisi tertentu, obat immunosuppresant seperti mycophenolate mofetil dan azathioprine dapat dipertimbangkan. Juga pada kasus yang sukar disembuhkan dan menahun, maka boleh diberikan vincristine, suatu vinca alkaloid yang digunakan sebagai kemoterapi. Bila memerlukan darah segera atau untuk operasi darurat, maka dokter akan mempertimbangkan pemberian Intravenous immune globulin (IVIG).

Terapi terbaru adalah obat dari golongan thrombopoietin receptor agonists, yaitu:  romiplostim dan eltrombopag. Obat ini membantu sumsum tulang penderita ITP memproduksi lebih banyak trombosit, sehingga mencegah timbulnya memar dan perdarahan. Beberapa efek sampingnya, meliputi: sakit kepala, nyeri otot/sendi, mual, muntah, sensasi berputar atau nggliyeng. Pada kondisi ITP berat, dimana tidak berespon dengan pemberian kortikosteroid, maka dokter akan menyarankan operasi pengangkatan limpa (splenectomy).

Penderita ITP disarankan untuk menghindari membeli dan mengkonsumsi secara bebas obat yang dapat mengganggu fungsi trombosit, seperti: aspirin dan ibuprofen. Hindari pula mengkonsumsi alkohol. Batasilah olahraga dan aktivitas yang membuat cedera atau menimbulkan perdarahan. Komplikasi atau risiko terbesar penderita ITP adalah perdarahan, terutama perdarahan di daerah otak, yang tentunya dapat berakibat kematian. Namun jangan khawatir, angka kematian akibat perdarahan ini relatif kecil, hanya 1% pada anak-anak dan 5% pada orang dewasa.(11)


Dokter Dito Anurogo, dokter peneliti hematopsikiatri, berkarya di RS Keluarga Sehat Pati.


Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER