
TAHUN 2008 Rusia, lewat Presiden Vladimir Putin waktu itu, memberikan kredit ekspor untuk pengadaan alutsista TNI sebesar 1 miliar dolar AS. Tiga perempatnya, atau 700 juta dolar AS untuk pengadaan dua kapal selam kelas Kilo.
Tak lama kemudian, pada tahun 2010 - 2011 produk made in Rusia berdatangan, antara lain jet tempur Sukhoi Batch 2, rudal untuk Sukhoi Batch 1, tank amfibi BMP-3F, rudal Yakhont, heli tempur Mi17 dan Mi35.
Alutsista yang akan tiba dalam waktu dekat adalah enam Sukhoi tambahan dan enam Heli Mi17. Yang tak jadi datang jet tempur latih Yak-130 dikalahkan T-50 Golden Eagle, Korea Selatan.
Yang bakalan tak jadi adalah dua Kilo, karena dalam tikungan terakhir muncul pesaing kuat Changbogo, kapal selam buatan Korsel yang masih sepupu dengan KRI Cakra dan KRI Nanggala, karena masih satu kakek dengan HDW (Howaldtswerke-Deutsche Werft) Jerman. Lho, kok bisa? Ya, itulah perubahan cara pandang dan cara hitung. Petinggi TNI, sebagai user, tentu ingin alutsista berkelas herder, yang dengan kehadirannya saja sudah mampu membuat jiran berukur diri. Kilo memenuhi kriteria itu. Kilo adalah penamaan NATO untuk kapal selam made in Rusia yang dinegerinya sendiri dikenal dengan kode Project 877 Paltus.
Jenis tercanggih dari kelas Kilo dikenal dengan Improved Kilo diberi kode Project 636/Varshavyanka. Kilo jenis ini yang diminati banget sama TNI AL, dikenal sebagai kapal selam paling senyap di dunia. Bahkan petinggi militer Australia sudah mewanti-wanti dengan lantang, kehadiran Kilo di Indonesia tidak akan mampu ditandingi oleh kapal selam kelas Collins Australia, termasuk seluruh perangkat angkatan lautnya.
Nah dari sisi kegarangannya, Kilo menjadi pilihan TNI AL. Kalau dengan kehadirannya saja sudah mampu menggetarkan negeri jiran, artinya secara psikologis kita sudah mampu menjaga kedaulatan perairan kita tanpa harus mengeluarkan ongkos diplomasi yang kadang-kadang membikin keki hati.
Ini sama dengan kehadiran Sukhoi di Makassar saat ini yang sudah mampu memberikan kebanggaan bagi penjaga kedaulatan dirgantara meski jumlahnya baru 10 unit. Tahun ini direncanakan ada penambahan enam unit Sukhoi lengkap dengan segala jenis perangkatnya. Sampai tahun 2014, TNI AU diprediksi mendapat 2 Skuadron Sukhoi (32 unit).
Produksi Sendiri
Cara pandang pemerintah dalam program alutsista diyakini sebenarnya hendak meniru keberhasilan Korea Selatan dalam industri alutsistanya. Negeri Ginseng ini dinilai berhasil dalam pengembangan persenjataannya. Hampir seluruh perangkat angkatan bersenjatanya diproduksi sendiri. Contoh terakhir adalah hadirnya Main Battle Tank Black Panther K2 yang segera menggantikan Tank M48 Patton Korsel yang jumlahnya mencapai 800 unit. Proyek bergengsi kerja sama pembuatan jet tempur KFX bersama Indonesia adalah untuk menggantikan armada F16-nya yang saat ini menjadi tulang punggung AU Korsel. Cara pandang pemerintah adalah melihat horizon ke depan. Bagaimana sepuluh tahun ke depan, bagaimana industri pertahanan kita, bagaimana kekuatan TNI pada saat itu.
Nah, kalaupun pilihan pada Changbogo untuk kapal selam kita, horizon itu yang sejatinya hendak dituju. Korsel bersedia untuk transfer teknologi dan itu akan diawali dengan pengadaan tiga kapal selam, mungkin saja polanya sama dengan transfer teknologi kapal perang jenis LPD, dua di Korsel dan satu di PAL, atau ketiganya dibuat di Korsel lalu untuk kapal selam ke-4,5,6 dan seterusnya dibuat di PAL. Nah, dalam proses yang membutuhkan waktu bertahun-tahun itu pasti akan ada perkembangan teknologi yang diadopsi, diimplementasikan sesuai keinginan kita.
Korsel sudah membuat sembilan kapal selam Changbogo kelas U-209/1200 yang merupakan lisensi dari produsen kapal selam Jerman HDW. Produsen ini juga yang memproduksi Cakra dan Nanggala tahun 1980 dengan kelas yang sama.
Changbogo satu kelas dengan Atilay Class Submarine milik Turki yang juga ikut tender pengadaan kapal selam RI. Dengan awak kapal 40 orang, Changbogo dapat menyelam sampai kedalaman 250-300 m, dapat membawa 14 torpedo dan 28 ranjau laut. Kecepatan di dalam air bisa mencapai 21 knots dan di permukaan 11 knots, mampu beroperasi secara terus menerus selama 2 bulan.
Memang Changbogo berbeda kelas dengan Kilo, jenis kapal selam paling senyap di dunia. Namun dengan tambahan kemampuan Changbogo yang diinginkan TNI AL, dapat memberikan efek gentar pada kekuatan lawan, misalnya ada AIP (Air Independent Propulsion) untuk menambah daya senyapnya, kemudian integrasi sistem kontrol persenjataan dan navigasi harus yang terkini, sistem penginderaannya dilengkapi dengan passive towed array sonar, persenjataannya tidak melulu torpedo, bisa ditambah dengan VLS (peluncur rudal vertikal) untuk rudal Yakhont.
Produk Korea
Sekadar catatan, tahun 1995, ketika aneka produk elektronik buatan Korea Selatan, seperti merek Samsung mulai memasuki pasar Tanah Air, hampir semua konsumen elektronik di Indonesia mencibir kehadiran produk Korea itu, alias tidak dilirik sama sekali. Namun seiring perjalanan waktu, lima tahun setelahnya, produk Korea mulai mampu mengambil hati masyarakat konsumen Indonesia, bahkan saat ini sebagian masyarakat kita gandrung dengan produk elektronik buatan Korea Selatan.
Bukan bermaksud membela visi pemerintah, tetapi kita perlu mengedepankan cara pandang horizon, bukan cara pandang kaca mata kuda yang hanya membeli, memakai, membuang lalu beli lagi. Kita perlu tahu juga dong bagaimana cara membuatnya, walaupun tidak harus membuat seluruh komponennya untuk menumbuhkan indusri hankam kita. Ini harus dimulai dari sekarang.
Proyek PKR Light Fregat sudah dimulai, kerja sama dengan Belanda yang akan membangun 10 kapal perusak kawal rudal. Seluruh pengerjaan Kapal Cepat Rudal (KCR) sudah dibuat di galangan kapal nasional di dalam negeri. Proyek kerja sama produksi rudal C705 dengan China sudah dimulai. Rudal anti kapal C705 nantinya dipasang di seluruh Kapal Cepat Rudal TNI AL yang jumlahnya bisa mencapai 100 KRI.
Titik genting dari cara pandang ini ada pada pergantian rezim. Tahun 2014 dipastikan akan terjadi perubahan kepemimpinan. Repotnya adalah pola kepemimpinan pasca-SBY tidak sama dengan visi kemandirian alutsista yang sudah diimplementasikan. Padahal tahun 2014 kemandirian alutsista masih balita yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Jangan sampai, ketika sedang tumbuh mekar, lalu ''dibunuh'' secara sistematis seperti ketika kita akan mengembangkan pesawat N250 buatan PT DI, yang harus almarhum pada usia balita hanya karena untuk memenuhi salah satu persyaratan bantuan IMF tahun 1998. Kita sangat berharap pergantian pimpinan pemerintahan setelah tahun 2014 tidak mengubah kurikulum pemberdayaan industri hankam dalam negeri, seperti yang sedang dilakukan saat ini.
Okelah, Changbogo mungkin saat ini masih dianggap anjing kampung di kelasnya, bukan herder sebagaimana gonggongan Kilo. Tapi jangan lupa, perkembangan teknologi mampu mengangkat kelas anjing kampung tadi menjadi sekelas herder atau bahkan sekelas srigala. Ini mirip produk Samsung tahun 1995 yang dipandang sebelah mata tapi sekarang malah dicari orang.
Kita juga tak ingin ketergantungan alutsista pada satu negara saja, maka bisa kita saksikan saat ini menu gado-gado alutsista kita. Ada Fregat Ahmad Yani Class dipasang rudal Yakhont, ada KCR pakai rudal C802, ada Sigma pakai rudal Exocet, ada Sukhoi, ada F16, ada Hawk, ada Scorpion, ada BMP3F, ada juga Anoa. Macam-macam rasanya, macam-macam pedasnya.
Pilihan final terhadap pengadaan tiga kapal selam Changbogo yang sudah dirilis oleh KSAL Laksamana TNI Soeparno tanggal 30 September 2011 di Mabes TNI mungkin terasa kurang pedas atau kurang garam bagi TNI AL saat ini. Tetapi ramuan lombok ijo atau cabai hijau atau garam teknologi dalam sistem persenjataan, penginderaan dan navigasinya diyakini akan mampu menjadikan Changbogo kelak setara dengan herder, apalagi jika transfer teknologi itu benar-benar telah dikuasai oleh putra-putri Indonesia. (24)
- Jagarin Pane SE MM, pemerhati alutsista TNI.