panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
14 September 2011
Adakah Khadijah di Masa Kini?
  • Oleh Anton Prasetyo SSos I

’’AKU tidak pernah cemburu kepada seorang wanita pun seperti kecemburuanku kepada Khadijah, karena Nabi Muhammad saw selalu menyebutnya.’’

Perkataan sensitif Aisyah ini sebagai ungkapan kecemburuannya kepada istri pertama Rasulullah, Khadijah. Padahal jika diperhatikan, tak kurang-kuran Rasulullah memberikan kasih sayang kepada Aisyah, hingga beliau memanggilnya dengan khumaira’/ wanita yang berwajah kemerah-merahan, sebagai sapaan sayang. Kendati begitu, Aisyah tetap cemburu karena Rasulullah sering menceritakan kebaikan-kebaikan Khadijah.

Jika saja Khadijah tidak memiliki paras hati yang cantik, dipastikan tidak akan mendapatkan sanjungan-sanjungan. Apalagi dalam hal ini yang menyanjung adalah Rasulullah Muhammad saw.

Bagaimana tidak, ketika Rasulullah menikah (usia 25 tahun), Kha-dijah yang notabene sebagai mempelai wanitanya sudah berusia 40 tahun atau 15 tahun lebih tua. Dilihat dari sini, jika Rasulullah hanya melihat paras/wajah belaka, dipastikan dirinya tidak mungkin mencintai dan terus menyanjung Khadijah.

Rasulullah selalu merasa tenang, damai dan tak pernah merasakan kesedihan saat bersama dengan Khadijah. Maka bukan tidak mung-kin jika Rasulullah tidak menikah dengan perempuan lain saat Khadijah masih hidup.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa sebenarnya rahasia sosok Khadijah sehingga dirinya menjadi orang yang sangat dibanggakan Rasulullah? Dipastikan bukan hanya satu atau dua perilaku shalihah yang ditunjukkan Khadijah kepada Rasulullah (juga kepada masyarakat). Dari berbagai lini kehidupannya, dirinya benar-benar menjadi ummul mu’minin (ibunya orang-orang mukmin) yang pantas menjadi uswah hasanan (suri tauladan terpuji).

Menurut Az-Zubair bin Bakkar, sosok Khadijah semenjak masa jahiliyah sudah disebut sebagai wanita terpuji. Hal itu dikarenakan selain akhlaknya yang shalihah juga dirinya terkenal sebagai saudagar kaya yang baik hati. Banyak orang yang mengabdikan diri padanya, termasuk Muhammad, untuk memperdagangkan barang-barangnya.

Khadijah yang kaya raya akhir-nya mencintai Muhammad yang saat itu telah selesai menjalankan tugasnya berdagang.

Dalam pada itu, jika Khodijah saat itu berorientasi pada dunia, dirinya dipastikan tidak tertarik dengan Muhammad. Namun diri-nya mencintai Muhammad karena kejujurannya, kecerdasannya, kecakapannya, dan lain sebagainya.

Tak lama kemudian, keduanya menikah dan membina keluarga bahagia. Khadijah benar-benar menjadi istri yang shalihah, kewajiban-kewajibannya sebagai istri dilaksanakan dengan senang hati, penuh tanggung jawab. Di samping itu, dirinya juga menjadi pelipur lara, tempat mengadu sang suami. Karena kesalihahannya inilah, rumah keluarga Muhammad terasa sebagai taman di surga.

Dukung Suami

Waktu demi waktu berlalu, keluarga Muhammad-Khadijah terus terasa nyaman. Suatu ketika Mu-hammad berpamitan untuk me-nyendiri di Gua Hira guna meningkatkan kualitas spiritualitasnya. Sebagai wanita shalihah dirinya tak pernah melarang Muhammad, bahkan mendukung dengan meng-iyakan sembari memberikan senyuman. Keadaan semacam inilah yang menjadikan Muhammad sebagai suami merasa ada kedamaian yang luar biasa. Padahal naluri perempuan, ketika akan ditinggal suminya, dirinya pasti sangat merindukannya sehingga banyak yang tidak me-nyetujui saat suaminya pergi. Apa-lagi kepergiannya (hanya) untuk menyendiri di gua.

Lima belas tahun setelah pernikahan keduanya, di suatu malam, Muhammad pulang dengan rasa takut yang luar biasa. Dirinya kedinginan, dan Khadijah segera memberikan ketenangan kepadanya. Khadijah memberikan selimut dan memberikan kata-kata yang bisa meneguhkan suaminya.

Dalam keadaan ini pun, Khadijah terus berpikiran positif pada suami-nya. Dirinya terus memberikan kata-kata yang menjadikan suaminya tenang. Tidak hanya itu, dirinya juga mengajak pergi menemui pamannya, Waraqah bin Naufal bin Asad yang beragama Nasrani. Selain bisa menulis Arab, Waraqah juga bisa menukil Injil ke dalam bahasa Arab. Hanya saja saat itu dia sudah berusia lanjut dan buta. Saat itu Khadijah berperan aktif, membantu suaminya. Dirinya berkata kepada Waraqah, ’’Dengarkan perkataan keponakanmu ini’’. Waraqah bertanya, ’’Wahai keponakanku, apa yang engkau lihat?’’ Muhammad pun menceritakan tentang kejadian yang kini kita sebut sebagai peristiwa pertama kali turunnya wahyu di Gua Hira. Mendengar cerita Muhammad, Waraqah berkata, ’’Itulah Jibril yang pernah turun menemui Musa’’, hingga Muhammad dan Khadijah merasa lega.

Saat itulah Muhammad dinobatkan sebagai Rasul akhir zaman. Selanjutnya perjuangan berat terus dijalankannya.  Banyak tokoh kafir Quraisy yang bukan hanya menolak dan menentang ajaran agama Islam yang disampaikan Muhammad, melainkan banyak dari mereka yang menghina, mencaci dan berupaya membunuh Rasulullah. Dalam pada itu, Khadijah menjadi sosok yang dapat menenangkan dirinya.

Dengan derajat tingginya, Khadijah memiliki banyak pengaruh dalam ’’mengamankan’’ Rasulullah dari berbagai bentuk rencana pembunuhan. Dengan hartanya, Khadijah terus mendukung upaya Rasulullah dalam mendakwahkan agama. Dari segi keimanan, Khadijah juga menjadi sosok perempuan pertama kali yang masuk Islam.

Belum lagi saat melihat betapa dirinya menjadi ibu dari anak-anak Rasulullah hingga lahir dan tumbuh besar sosok wanita Fatimah. Semua ini adalah dikarenakan adanya sosok Khadijah, sehingga perjuangan besar menegakkan ajaran agam Islam berhasil hingga saat ini berkembang di mana-mana. Sebagai sosok pemimpin bangsa, Rasulullah juga sukses besar.

Nah saat sekarang, di manakah ada Khadijah Khadijah masa kini yang bisa mendukung suaminya memperjuangkan agama dan bangsa. Peran wanita semisal Khadijah inilah yang akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur, bukan perempuan-perempuan yang selalu merengek-rengek pada suaminya untuk meminta ini itu, hingga sang suami pun berbuat korup. (24)


—Anton Prasetyo SSosI, pemerhati masalah sosial.

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER