panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
24 Agustus 2011
Mudik dan Beban Perempuan
  • Oleh Siti Fathimatuz Zahroh AMG

HARI Raya Fitri 1432 H akan segera tiba. Kesibukan terasa di kalangan para perantau yang bekerja di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Mereka mulai berkemas untuk pulang kampung, atau yang lebih populer dengan istilah mudik.

Tradisi mudik merupakan kegiatan pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya Lebaran. Terdapat fenomena yang unik, menarik, bahkan di luar akal rasional dalam tradisi mudik. Menurut Mircea Eliade (1999), tradisi mudik merupakan salah satu kawasan teritori sakral yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Seorang muslim yang mengaku paling rasional-pun, ketika hari-hari menjelang Lebaran kemudian tak pulang mudik, ia akan sangat bersedih dan menitikkan air mata. Ada perasaan mengganjal, di mana dirinya ingin pulang kampung halaman,  menemui keluarga tercinta. Karena tuntutan batin itulah, berbondong-bondong orang mudik!

Tidak Ringan

Kegiatan mudik itu bukan pekerjaan ringan. Selain menghabiskan tenaga, pikiran, harta benda, juga butuh kondisi kesehatan yang prima. Bagi kaum perempuan atau ibu rumah tangga yang ikut suami merantau, mudik menjadi kegiatan yang menguras tenaga dan melelahkan. Bagaimana tidak, hampir sebagian besar persiapan untuk mudik itu, merekalah yang amat berperan. Mulai dari mengepak pakaian, menyiapkan bekal, menyiapkan anggaran untuk zakat fitrah, zakat mal, sampai memilih dan membeli oleh-oleh untuk keluarga di desa. Untuk kegiatan ini, para istri harus mampu mengatur dana sejeli dan sehemat mungkin; agar cukup selama mudik ke kampung halaman maupun ketika balik lagi.

Mengatur pengeluaran untuk mudik, tentu bukan perkara mudah; apalagi jika penghasilan suami yang pas-pasan. Sang istri harus betul-betul selektif; mana yang membutuhkan anggaran dan mana yang tidak perlu. Pendek kata, jika para istri tidak bisa mengatur anggaran dengan baik, bisa jadi mereka tidak mudik.

Bagi mereka yang masih mengandung atau punya anak kecil, untuk mudik tentu butuh pengorbanan yang ekstra. Menjaga kandungan dalam perjalanan mudik, bukan tanpa risiko. Akibat banyaknya penumpang yang berebut untuk bisa shalat Idul Fitri di kampung halaman, berbagai moda transportasi penuh sesak. Belum lagi ancaman tindak kejahatan, seperti pencopetan, perampokan, hipnotis, gendam dan sebagainya. Pendek kata, mudik bagi perempuan hamil atau memiliki anak kecil taruhannya adalah nyawa.

Menurut sebagian pakar ekonomi, tradisi mudik itu sejatinya termasuk kegiatan pemborosan; karena menghambur-hamburkan uang tanpa imbal-balik secara ekonomis. Bagaimana tidak, demi bisa pulang kampung tepat sebelum shalat id, orang rela membayar mahal, bahkan harus menguras tabungannya. Padahal, tabungan itu dikumpulkan dengan susah-payah selama setahun lebih.

Akan tetapi, terdapat kearifan dalam tradisi mudik yang nilainya jauh lebih tinggi dari hitung-hitungan ekonomi. Kebeningan hati plus kesadaran untuk selalu ingat akan asal-usul atau sangkan paraning dumadi, adalah mukjizat ruhani mudik. Hal inilah yang menurut Jacob Sumarjan (2007), tidak bisa dibeli dengan harta benda atau materi apa pun.

Kelebihan tradisi mudik yang lain, adalah pada kesehatan psikologis. Logika sederhana, orang yang habis mudik pasti akan sakit; baik  secara jasmani atau psikologis. Nyatanya hal itu tidak terjadi. Mudik justru menjadi semacam terapi psikologis yang ampuh, lebih-lebih bagi mereka yang selama 10 bulan menderita stres lantaran problem pelik perkotaan. Maka ketika mudik, segala beban itu cair seketika karena menatap wajah-wajah lugu penduduk desa, penuh kasih sayang dan tanpa pamrih. Begitu hendak kembali ke tempat kerja, semangat telah pulih kembali.

Tidak Berlebihan

Meski tradisi mudik memiliki banyak sisi positif, tetapi ada juga sisi negatif yang harus dihindari jauh-jauh. Di daerah pedesaan, tradisi mudik tidak jarang menjadi ajang pamer keberhasilan seorang perantau.

Mereka akan melakukan apa saja yang bisa menunjukkan keberhasilan di tanah rantau. Seperti berbagai piranti elektronik, kendaraan, dan sebagainya. Para istri juga tidak mau ketinggalan; mereka memaksakan diri membeli berbagai jenis barang perhiasan atau  aneka model pakaian mutakhir. Jika kebetulan penghasilan sang suami pas-pasan, tidak jarang mereka utang demi membeli pernak-pernik yang akan dipamerkan itu. Maka tidak sedikit perantau yang menumpuk hutangnya, pascamudik.

Sisi negatif lain adalah budaya menghambur-hamburkan uang di kalangan pemudik. Mereka rela menghabiskan uang untuk bersenang-senang atau bermewah-mewah saja. Alasannya, mumpung di tanah kelahiran dan hanya dilakukan setahun sekali. Maka ketika tradisi mudik usai, kampung halaman kembali sepi, ekonomi mulai lesu kembali, sementara penduduk lokal tertarik kemegahan yang dipertontonkan para perantau. Akibantnya, penduduk desa ramai-ramai menjadi perantau dan menjadi beban baru masyarakat perkotaan.

Beberapa sisi negatif dari tradisi mudik itu, semestinya mulai ditinggalkan. Tradisi mudik sudah saatnya disikapi secara bijak dan tidak berlebihan. Alangkah tidak elok, demi untuk mudik, seorang perantau harus utang sana-sini; apalagi harus  meminjam bank atau pegadaian. Dalam hal ini, kaum perempuan memiliki andil yang cukup besar guna meminimalisasi dampak negatif mudik. Mereka harus bisa menjadi ”pengerem” atas budaya konsumtif yang membuncah ketika mudik; tidak saja bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi suami mereka. Bukan malah istri menjadi ”tukang kompor” budaya konsumtif bagi suami mereka.

Karena beban perempuan teramat berat ketika mudik, para suami semestinya tahu diri. Mereka harus mau membantu sang istri yang payah mempersiapkan segala sesuatu untuk mudik.

Para suami juga harus menjadi sosok pengayom sekaligus pelindung bagi istri dan anak-anaknya ketika mudik. Singkatnya para suami harus mengutamakan keselamatan diri dan keluarga. Selamat Hari Raya Fitri 1432 H, mohon maaf  lahir dan batin. (24)


—Siti Fathimatuz Zahroh AMG, ibu rumah tangga, alumni SMA MTA Surakarta.

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER