panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Perempuan
20 Juli 2011
GAGASAN
Berpolitik seperti Terang dan Garam

Seni berpolitik diberikan oleh Tuhan untuk kebaikan sesama dan kesejahteraan bersama di atas segala simbol kekuasaan dan jabatan. Politik itu seperti orang yang sedang mempersiapkan bahan baku untuk makanan. Bahan baku itu bisa kita tambahkan racun atau juga bisa kita tambahkan makanan yang menyehatkan. Nah, dalam dunia politik juga begitu, tergantung siapa yang meraciknya. Jadi istilah politik itu kotor atau baik sebetulnya tergantung siapa orang yang berada di belakang politik itu.

Kalau kita lihat perilaku korup yang terjadi selama ini merupakan imbas dari perselingkuhan para politisi dengan semboyan “wani pira”. Seperti diketahui korupsi di badan legislatif dan KPU berdampak telah mengurangi akuntabilitas dan mendistorsi representasi dalam pembuatan kebijakan. Begitu juga korupsi yang terjadi di bidang pendidikan, efeknya hak-hak kaum marjinal untuk memeroleh pendidikan yang layak menjadi terabaikan. Sedangkan korupsi di bidang kesehatan berakibat telah memasung hak-hak “wong cilik” untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis.

Pertanyaannya kenapa masih sering terjadi perilaku korup dari tahun ke tahun? Berdasarkan penelitian World Justice Project, Indonesia masih “jagonya” dalam praktik korupsi di tingkat Asia Tenggara. Fakta inilah yang seharusnya menjadi renungan kita semua, mengapa korupsi semakin menjamur dan tambah canggih di republik ini? Meskipun instrumen pidana dengan sanksi hukum yang tajam sudah diberlakukan yang dibarengi kinerja kepolisian, kejaksaan dan KPK dalam berperang memberantas korupsi, namun tingkat korupsi masih tetap tinggi dari tahun ke tahun.

Menurut penulis betapa pun hukum ditegakkan, kalau para petinggi negara dari pusat sampai daerah (eksekutif, yudikatif, legislatif) tidak bisa memberi teladan dalam hal pengendalian diri terhadap godaan materialisme dan pola hidup mewah serta tidak memiliki kesadaran moral untuk bertobat, kecenderungan untuk korupsi akan selalu muncul dalam benaknya dan kemudian menjadi kebiasaan. Dalam hal pemberantasan praktik korupsi, negara kita dapat meniru ketegasan China. Kita tahu dasar negara China adalah komunis, tetapi para pejabat dan orang-orangnya sangat takut untuk berbuat korup. Mengapa? Karena hukum di China yang berlaku bagi koruptor adalah hukuman mati.

Sebagai warga negara yang lahir, tumbuh, berkembang, dan berketuhanan Yang Maha Esa di Republik Indonesia, sudah seharusnya setiap anak bangsa terpanggil untuk “rumangsa handarbeni, melu hangrungkebi” merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab untuk bersatu mencegah perilaku korup. Petuah Sabdatama mengatakan: Jika ada daging menjadi busuk dan tidak bisa dimakan lagi, tidak ada gunanya menyalahkan daging itu, karena bakteri pembusuk itu telah berkembang biak. Pertanyaannya, dimanakah garamnya yang dapat mengawetkan daging tersebut? Jika rumah menjadi gelap karena malam tiba, tidak ada gunanya menyalahkan rumah karena matahari sudah tenggelam. Pertanyaannya dimanakah terangnya?

Penulis setuju bahwa hidup adalah pilihan, ciptaan-Nya kalau tidak menghasilkan sesuatu yang baik (better) atau benar bisa jadi akan menghasilkan sesuatu yang pahit (bitter) atau jelek. Dalam membangun sebuah bangsa yang plural, unity in diversity dalam bingkai NKRI, umat diharapkan untuk selalu terpesona dengan keagungan Tuhan, supaya dimampukan mendapat perkenanan dan penetapan menjadi terang dan garam. Terang yang berkarakter “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” dan garam yang berkomitmen menjadi pribadi bijak, yaitu kaya materi kaya rohani. Kaya materi yang kekayaannya tidak bersumber dari hasil kejahatan konspirasi (manipulasi anggaran, pajak, manipulasi data) dan kaya rohani, yakni pribadi yang “lembah manah lan nduweni rasa tresna jero banget dhumateng Gusti Ingkang Maha Kuwaos”. Penulis mengakhiri dengan mengutip pernyataan Thomas Jefferson, President 23th of United State (1743-1826): Jangan tanyakan apa agama saya, ini hanya diketahui oleh Tuhan dan diriku sendiri. Yang penting adalah membuktikannya di hadapan dunia. Tingkah laku saya itulah agama saya.


Yoram Soekarno, SH
Jl Kesatrian B 41, Semarang

* * *

Hakikat Kebenaran dan Keadilan Dalam Kemerdekaan di Indonesia


Indonesia merdeka 17 Agustus 1945. Pada saat itulah kita merasakan arti perjuangan bangsa yang penuh dengan semangat dan pengorbanan jiwa dan raga, sehingga bisa mengantarkan kita sampai ke pintu kehidupan yang merdeka. Segala perjuangan dan pengorbanan itu tentu tidak lepas dari anugeah Allah SWT. Berkat karunia-Nya yang agung dan berkat kemurahan-Nya serta karena izin-Nya-lah maka semuanya itu bisa tercapai dengan mulus.

Setelah Indonesia merdeka, timbullah keinginan-keinginan untuk meneruskan perjuangan dalam mengisi kemerdekaan. Dari berbagai pihak dan bermacam golongan serta agama, siap untuk memajukan dan mengharumkan nama bangsa dan negara kita. Baik nasional maupun internasional. Dalam mengisi kemerdekaan ini, tidaklah segampang yang kita bayangkan, karena timbul bermacam halangan dan rintangan, baik dari luar maupun dalam negeri. Tetapi dengan perlindungan Allah dan kewaspadaan kita sebagai bangsa yang selalu ingin merdeka, dengan berbekal iman dan keyakinan dan ketakwaan, akhirnya dapat lolos dari rongrongan keserakahan.

Dengan adanya perjuangan dan pengorbanan, sangat disayangkan apabila sampai saat ini masih banyak generasi penerus yang acuh tak acuh/masa bodoh tanpa ikut berjuang memikirkan masa depan bangsa dan negaranya. Apalagi kita ini sebagai umat Islam tentu kita telah banyak mendengar dan membaca tentang kebenaran-kebenaran serta keharusan-keharusan kita dalam mengisi hidup, baik jasmani maupun rohani demi tegaknya bangsa dan negara. Seperti halnya dikatakan “iman” adalah tiangnya “agama”, begitu pula manusia adalah tiangnya negara.

Dalam menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke XXXVII ini, marilah sama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadiran Tuhan Robbi Yang Maha Esa. Serta sebagai umat Islam marilah kita tetap bersatu dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan dengan segala kemampuan. Tentunya tidak lepas dari pokok-pokok kejujuran, ketakwaan demi tegaknya kebenaran dan keadilan dalam memajukan bangsa dan negara. Dengan berusaha dan berdoa senantiasa Allah SWT akan selalu melindungi umat-Nya yang soleh. Amin.


Amar Makruf
Purwogondo, Kalinyamat
Jepara

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER